Dark/Light Mode

Trump Desak Hamas-Israel Kebut Perundingan Damai, Netanyahu Terjepit

Senin, 6 Oktober 2025 23:42 WIB
Presiden Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel 
Benjamin Netanyahu saat melakukan pertemuan di Gedung Putih, 
Washington DC, Amerika Serikat, 29 September 2025. (Foto White House Pool)
Presiden Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat melakukan pertemuan di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, 29 September 2025. (Foto White House Pool)

RM.id  Rakyat Merdeka - Meski perundingan damai antara Hamas dan Israel berlangsung di Mesir, namun warga Gaza masih saja dibombardir pasukan Zionis. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pun mendesak agar proses damai dipercepat sebelum konflik semakin meluas.

Washington telah mengirim utusan khusus untuk Timur Tengah Steve Witkoff, bersama menantu Trump, Jared Kushner, ke Kairo, Mesir, untuk memfasilitasi perundingan kedua pihak yang bertikai. Delegasi Hamas yang dipimpin Khalil al-Hayya sudah tiba pada Minggu (5/10/2025). Ini kunjungan pertama al-Hayya ke Mesir sejak dia selamat dari serangan Israel di Ibu Kota Qatar, Doha, pada September lalu.

Sementara, delegasi Israel yang dipimpin Menteri Urusan Strategis Ron Dermer tiba di resor Sharm el-Sheikh, Mesir, Senin (6/10/2025), guna membahas syarat-syarat perdamaian. Termasuk pembebasan sandera dan penarikan pasukan dari wilayah Gaza.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menyampaikan optimismenya terhadap kemajuan perundingan tersebut. Dia menekankan pentingnya kecepat an dalam menyelesaikan tahap awal kesepakatan.

“Tahap pertama seharusnya selesai pekan ini dan saya meminta semua pihak bergerak cepat. Waktu sangat penting atau pertumpahan darah besar akan terjadi,” tulisnya di Truth Social, Minggu (5/10/2025).

Baca juga : Ratusan Siswa Kembali Keracunan MBG, Istana Minta Maaf

Hamas disebut-sebut telah menyetujui beberapa poin dari rencana perdamaian 20 butir yang diajukan AS. Termasuk pembebasan sandera dan penyerahan kendali administratif Gaza kepada teknokrat Palestina. Namun, mereka menolak membahas isu pelucutan senjata, serta masa depan peran politik kelompok tersebut pasca perang.

Berita tentang perundingan ini menyebar luas hingga ke warga Gaza dan keluarga para sandera di Israel. Meski demikian, bagi banyak warga Palestina, harapan akan perdamaian baru terasa nyata jika Israel menghentikan serangan militernya terhadap warga sipil.

Pada Minggu siang, kendaraan tempur Israel dikabarkan menyerang sebuah kamp pengungsian di Gaza dan menewaskan 19 orang. Empat lainnya tewas saat mencari bantuan kemanusiaan di selatan. Lima orang lagi menjadi korban serangan udara di pusat Kota Gaza.

“Apakah mereka anggota kelompok perlawanan? Mereka hanya anak-anak muda yang mencari makan,” ujar Shadi Mansour, yang kehilangan beberapa kerabat dalam serangan tersebut, dilansir Reuters.

Ahmed Assas, pengungsi Gaza, berharap pada inisiatif damai yang dibawa Trump, kendati situasi di lapangan belum menunjukkan perubahan.

Baca juga : Perumnas & BUMN Kebut Pembangunan Hunian Terjangkau di Bandung

“Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi,” katanya.

Di Israel, sebagian warga Tel Aviv yang masih menunggu kabar keluarga mereka yang disandera, menyambut inisiatif ini dengan harapan baru.

“Kali ini saya benar-benar berharap pada Presiden Trump,” kata Gil Shelly, warga yang kakaknya masih ditahan Hamas.

Sementara, posisi Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu terjepit. Dia menghadapi tekanan besar dari dua arah. Yakni masyarakat dan keluarga sandera yang ingin perang segera diakhiri dan rekan-rekan politik sayap kanan dalam koalisi Pemerintah yang mendesak agar serangan terus dilanjutkan.

Bezalel Smotrich, Menteri Keuangan dari partai sayap kanan, dalam akun X mengatakan, penghentian serangan di Gaza sebagai kesalahan besar. Dia bersama Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvir mengancam akan menjatuhkan Pemerintahan Netanyahu jika perang diakhiri dengan kesepakatan damai.

Baca juga : Tak Ada Lonjakan Signifikan, Penularan Campak di Jakarta Masih Terkendali

Sebaliknya, pemimpin oposisi Yair Lapid dari Partai Yesh Atid mendukung inisiatif perdamaian yang dimediasi AS. “Kami tidak akan membiarkan mereka menghancurkan kesepakatan itu dengan bom,” tegasnya.

Dari pihak Hamas, pejabat senior yang tidak mau disebutkan namanya menyampaikan, kelompoknya ingin segera mengakhiri perang dengan Israel.

“Hamas sangat ingin mengakhiri perang dan segera memulai proses pertukaran tahanan sesuai dengan kondisi di lapangan,” katanya kepada AFP.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.