BREAKING NEWS
 

Jelang 1 Abad Pontren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang

Writer : Fikrul Hanif Sufyan
Editor : UJANG SUNDA
Kamis, 9 April 2026 17:38 WIB
Pondok Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, kini berusia 98 tahun. (Foto: Fero Efendi)

Pondok Pesantren (Pontren) Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah berusia hampir satu abad. Tepatnya 98 tahun, setelah diresmikan pada 5 April 1928. Tentunya menarik hadirnya institusi pendidikan tertua milik Muhammadiyah itu, untuk dicari benang merah kesejarahannya. Nah, bagaimana kisah berdirinya sekolah yang bermula untuk kader calon pimpinan Muhammadiyah tersebut?

Bermula dari Permintaan Daerah pada Sutan Mansur

Pasca gampo tujuah hari pada 1926 dan dipilihnya eks kompleks Hotel Merapi sebagai pusat gerakan, maka Muhammadiyah Tjabang Padang Panjang menyewa lokasi berikut bangunannya pada janda Johannes Gerarduk Rox, sebanyak f 75 per bulan. Sewa ini terhitung sejak 1 Juni 1927. Selanjutnya, sewa ini terus diturunkannya nilainya oleh Christina Pypers, menjadi 65 hingga 30 (Sinaro Panjang, 1971: 1). 

Pengesahan dari Muhammadiyah Tjabang Padang Panjang sendiri keluar melalui Surat No.56/HB tanggal 20 Juli 1927. Di bawah kepemimpinan Saalah Jusuf Sutan Mangkuto, tidak saja giat dalam membangun amal usaha, juga mengembangkan jejaring Islam Berkemajuan hingga pelosok nagari di Minangkabau.

Pada tahun 1927, dalam catatan RI Dt. Sinaro Panjang, disebut bahwa Sidi Mhd. Ilyas asal Pariaman meminta pengurus Persyarikatan untuk membantu dirintisnya Groep Muhammadiyah Kurai Taji. Catatan lainnya yang turut mengharumkan nama Muhammadiyah Tjabang Padang Panjang adalah kontribusinya dalam Kongres ke-19 di Fort de Kock tahun 1930. 

Pasca akhir 1927, pengurus Muhammadiyah Tjabang Padang Panjang menerima banyak permintaan dari luar daerah. Permintaan itu datang dari pengurus Persyarikatan Aceh, Tapanuli, Sumatra Timur, Sulawesi Selatan, Riau, Mukomuko, Lampung, dan lainnya (Suara Muhammadiyah No.6/66 tahun 1986).  

Baca juga : Di PDM Kota Bandung, Wamen Fajar Puji Sikap Muhammadiyah Saat Idul Fitri

Pengurus Persyarikatan di luar Sumatra Westkust meminta agar Buya Sutan Mansur segera mengirimkan tenaga guru, administrasi, dan pimpinan andal ke daerah mereka. Mengingat, daerahnya masih minim tenaga untuk mengelola persyarikatan, sekolah, dan rumah yatim.

Di awal abad ke-20, Padang Panjang menjadi lokus utama dari gerakan modernisasi Islam, pergerakan kebangsaan, sekolah, dan pers. Meskipun kota kecil, namun di kawasan ini tumbuh subur sekolah-sekolah, seperti Normaal School, Sumatra Thawalib dan Diniyah.

Padang Panjang turut bersaksi lahirnya surat kabar Almunir Almanar, Djago! Djago!, Pemandangan Islam, Kodrat Moeda, dan lainnya–yang turut mempercepat laju pertumbuhan Islam modernis, Komunis, dan Nasionalis di Sumatra Barat (Sufyan, 2017; 2021). 

Tablighschool: Awal dari Pontren Kauman Padang Panjang 

Di awal 1928, tinggal Muhammadiyah Tjabang Padang Panjang yang belum menggerakkan amal usaha pendidikan dalam skala besar. Usulan dari daerah tahun 1927, segera ditindak lanjuti oleh Sutan Mansur dengan mendirikan sekolah lanjutan untuk siswa  Tsanawiyah, dan Muallimin bernama Tabligh School (Sufyan, 2014).

Pada pertengahan Januari 1928, untuk mempersiapkan berdirinya sekolah kader pimpinan Persyarikatan, A.R Sutan Mansur menggandeng pengurus Tjabang Padang Panjang. Saalah Jusuf Sutan Mangkuto, merespons cepat. Ia segera membentuk panitia Tabligh School. Di jajaran penasehat didaulat Haji Abdul Karim Amrullah bersama A.R Sutan Mansur. Untuk ketua panitia dipilihlah Saalah Jusuf Sutan Mangkuto. Kemudian secara berturut-turut Datuk Sati (wakil ketua), A.Wahid R (sekretaris), Sutan Saidi (bendahara), serta anggota yang terdiri dari Jusuf Amrullah, M.Nur Amrullah danA.Karim Dt. Rangkayo Majo (Sufyan, 2014). 

Baca juga : Belanda Ditahan Ekuador, Inggris Tumbang Dari jepang

Setelah resmi terbentuk, panitia melanjutkan tugas utamanya, dengan memilih directur dari sekolah baru itu. Pilihan pun jatuh pada adik ipar A.R Sutan Mansur, yakni Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Dan Februari 1928 dicanangkanlah ide berdirinya Tablighschool.

Surat kabar De Locomotief pada 2 April 1928 memberitakan rencana peresmian Tablighdchool pada bulan April 1958. Tablighschool, menurut surat kabar berbahasa Belanda itu merupakan sekolah bagi para propagandis Muhammadiyah, yang di dalamnya terdapat sebuah internaat khusus. 

Kursus pengkaderan pimpinan Persyarikatan berlangsung dua tahun. Untuk tujuan ini, hanya siswa sekolah yang dikader, untuk pelatihan kepemimpinan dan lebih mahir dalam Islam (De Locomotief, 2 Februari 1928). 

Tepat pada hari Kamis, 14 Syawal 1346 Hijriyah, atau bertepatan dengan 5 April 1928, Muhammadiyah Tjabang Padang Panjang secara resmi membuka Tabligh School Muhammadiyah di eks Hotel Merapi onderafdeling Batipuh X Koto. Berita ini diperkuat dalam surat kabar Tjaja Sumatra, 7 April 1928. Dan inilah yang menjadi fakta dari kesahihan dari usia Pontren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang yang telah berusia 98 tahun itu.  

Setelah sekolah dicanang, untuk sirkulasi administrasi pendidikan, ditetapkan bangunan Hotel Merapi sebagai sekolah, sekaligus sebagai tempat berkantornya pimpinan Muhammadiyah Padang Panjang dan Perwakilan Minangkabau. Seluruh anggota persyarikatan digerakkan, untuk segera membangun lokal, mengirim advertatie di surat kabar, ataupun di majalah-majalah lokal. 

Satu syarat yang diajukan, untuk menerima calon murid Tabligh School adalah duduk di kelas lima Sumatra Thawalib, atau sederajat dengan sekolah tersebut. Di tahun-tahun awal, selaku directur HAMKA berhasil merekrut 16 orang calon murid –yang berasal dari seluruh Sumatra Barat (Sufyan, 2014). 

Baca juga : Hadiri Halalbihalal Muhammadiyah, Wamen PKP Tekankan Budaya Saling Mendengar

Asal murid-murid dari Tablischool umumnya dari Sumatra Westkust, seperti Sumanik (afdeling Tanah Datar), Pauh IV, Nanggalo (Kotapraja Padang), Tanjung Sani, IV Angkat, Cingkariang (afdeling Agam),  Fort de Kock, Kuraitaji (afdeling Priaman) dan Pasar Baru afdeling Painan, Bandar X, Sungai Penuh (Sufyan, 2025). 

Siapa saja tenaga pengajarnya? Untuk tenaga guru yang dikerahkan untuk mendidik 16 orang murid Tablighschool, adalah Haji Abdul Karim Amrullah, A.R Sutan Mansur, Saalah Jusuf Sutan Mangkuto, Rasjid Idris Dt. Sinaro Panjang, dan buya Hamka

Pada akhir 1935, tepatnya pasca konferensi ke-11 di Maninjau disepakati untuk menaikkan status dari Tablighschool. Para peserta masa itu menyepakati mengubah nama sekolah menjadi Kulliyatul Muballighin. Sejak dicanangkan, seluruh pengurus persyarikatan, menyebar maklumat melalui iklan, dan surat edaran ke Sumatra Thawalib, Dinijah School, Madrasah Irsyadunnas (MIN) milik Inyik Adam BB, ataupun lulusan dari sekolah pemerintah (Solichin Salam, 1978). 

Kulliyatul Muballighin pun diresmikan tanggal 2 Februari 1936 di Kauman Padang Panjang. Dalam pemilihan struktural, terpilihlah Jacoeb Rasjid selaku directur, dan Rasjid Idris Dt. Sinaro Panjang sebagai administratur dari sekolah yang menjadi produsen dari guru-guru agama yang kelak menyebar hingga ke Semenanjung Malaya di masa akhir Kolonial Belanda sampai awal 1950.   

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense