Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Picu Gelombang Demonstrasi
Pro-Kontra Serangan Ke Iran Mengguncang Dunia
Jumat, 6 Maret 2026 04:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Suara teriakan memenuhi jalan-jalan kota di sejumlah negara. Di satu sisi, massa mengangkat spanduk menuntut perang dihentikan. Di sisi lain, ada kelompok yang justru mengibarkan bendera dan menyampaikan dukungan.
Gelombang demonstrasi pro dan kontra terhadap perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran merebak di berbagai negara, setelah serangan udara Israel dan AS menghantam Teheran pada 28 Februari 2026.
Di AS, dua kubu dengan pandangan berbeda turun ke jalan hampir bersamaan. Massa anti-perang berkumpul di Columbus Circle, Manhattan, New York, Senin (2/3/2026). Mereka menuntut Washington menghentikan serangan udara terhadap Iran yang dinilai melanggar hukum internasional.
“Serangan AS dan Israel ilegal,” teriak para demonstran seperti dikutip USA Today, Rabu (5/3/2026).
Sebagian demonstran menggelar aksi di depan Trump Tower. Mereka antara lain membawa spanduk bertuliskan “Uang pajak untuk rakyat, bukan untuk perang.”
Kelompok demonstran tersebut berasal dari Organisasi Act Now to Stop War and End Racism (ANSWER). Salah seorang peserta aksi Gabriela Silva menilai, Presiden Donald Trump telah memulai konflik tanpa strategi yang jelas.
Baca juga : Idrus Marham: Serangan Militer Ke Iran Ancaman Bagi Perdamaian Dunia
“Presiden Trump memulai perang tanpa rencana yang jelas. Kami meminta perang dihentikan,” tegasnya.
Namun di sudut lain kota yang sama, pemandangan berbeda terlihat di Times Square. Ratusan orang mengibarkan bendera AS dan Iran sambil meneriakkan dukungan terhadap operasi militer tersebut.
“Terima kasih AS! Terima kasih Trump!” seru para demonstran.
Tara Sabet, warga Iran yang mengaku melarikan diri dari negaranya karena merasa dipersekusi, menyambut baik langkah AS yang menyerang rezim di Teheran. “Melihat ada yang mau membantu kami, ini terasa luar biasa,” katanya.
Demonstran lain, Jasmine Nourisamie, berharap konflik tersebut dapat membawa perubahan bagi masa depan Iran.
“Kami ingin suatu hari bisa kembali ke kampung halaman tanpa tekanan dari pasukan agama,” ujarnya.
Baca juga : PDC Luncurkan Program Tangan Kedua, Daur Ulang 154 Pakaian
Meski membawa pesan yang berlawanan, aksi kelompok pro dan anti perang di AS berlangsung relatif damai. Fenomena serupa juga terlihat di berbagai negara.
Di Paris, Prancis, dua kelompok dengan sikap berbeda melakukan aksi secara bergantian di sekitar Kedutaan Besar AS pada Senin (2/3/2026). Demonstrasi juga terjadi di Yunani, Rumania, Turki, Yaman, Korea Selatan, Filipina hingga Kashmir sejak awal pekan ini.
Konflik bersenjata antara AS dan Israel melawan Negeri Mullah memasuki hari keenam pada Kamis (5/3/2026). Eskalasi perang tidak hanya memicu ketegangan di Timur Tengah, tetapi mulai mempengaruhi stabilitas kawasan Asia Selatan hingga jalur perdagangan global.
Siap Perang Lama
Trump mengatakan, negaranya siap berperang dengan Iran dalam waktu lama. Dikutip dari Washington Times, Rabu (4/3/2026), Trump menegaskan, AS memiliki cukup amunisi untuk menyerang Iran.
Iran pun terus maju melancarkan serangan balasan, menargetkan misi diplomatik AS dan sejumlah pusat energi utama di Teluk Persia.
Kedutaan AS di Kuwait dan Arab Saudi ditutup akibat serangan drone. Sementara, pos diplomatik AS di Irak dan Dubai juga menjadi sasaran serangan balasan Iran.
Baca juga : Trump Konfirmasi AS Terlibat Dalam Serangan Israel Ke Iran
Iran dilaporkan membombardir ladang minyak dan kilang minyak di wilayah Teluk dengan rudal.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya