RM.id Rakyat Merdeka - Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya tengah mengembangkan modul penggunaan opioid terapeutik untuk pendidikan kedokteran dan farmasi. Langkah ini bertujuan sebagai upaya meningkatkan akses pengelolaan nyeri bagi pasien kanker di Indonesia.
Wakil Rektor Unika Atma Jaya Yohanes Eko Adi Prasetyanto mengatakan, penelitian ini berangkat dari keprihatinan terhadap minimnya penggunaan opioid terapeutik di Indonesia.
"Penggunaan medical opioid atau therapeutic opioid seperti morfin, fentanyl, tramadol dan lainnya sangat kecil di Indonesia. Bahkan jika dibandingkan dengan negara ASEAN, penggunaan kita tidak sampai seperlimapuluh Vietnam," kata Eko kepada wartawan di Unika Atma Jaya, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius. Mengingat, jumlah penduduk Indonesia yang besar dan karakteristik penyakit yang relatif serupa dengan negara-negara tetangga. Padahal, opioid terapeutik memiliki peran penting dalam layanan paliatif. Terutama, bagi pasien kanker yang mengalami nyeri berat.
"Pasien yang sudah divonis kanker sering kali mengalami rasa sakit yang luar biasa. Namun di Indonesia, akses terhadap terapi ini masih sangat terbatas. Padahal, yang ingin kita capai adalah kualitas hidup yang lebih baik bagi mereka," ungkap Eko.
Baca juga : Quartararo Kehilangan Motivasi Usai Terpuruk di Mugello
Melalui penelitian tersebut, Unika Atma Jaya menelaah persoalan secara menyeluruh. Mulai dari aspek regulasi, distribusi obat, tenaga kesehatan, hingga persepsi pasien dan keluarga.
"Kami melihat seluruh aspek secara 360 derajat. Apakah masalahnya pada regulasi, distribusi, dokter yang enggan meresepkan, atau faktor pasien dan keluarga," jelas Warek Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Sumber Daya Manusia itu.
Salah satu temuan penelitian menunjukkan masih adanya kendala ketersediaan opioid di fasilitas layanan kesehatan. Beberapa rumah sakit, termasuk rumah sakit yang menangani pasien kanker, mengalami kekosongan stok obat-obatan opioid tertentu. Sehingga tenaga medis terpaksa menggunakan alternatif yang tingkat efektivitasnya lebih rendah.
Dekan Fakultas Hukum Unika Atma Jaya, Asmin Fransiska menyampaikan selain persoalan ketersediaan, stigma dan kekhawatiran terhadap risiko kecanduan juga menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui edukasi.
Karena itu, modul yang sedang disusun ditujukan untuk mahasiswa kedokteran dan farmasi agar calon tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai penggunaan opioid yang aman dan tepat.
Baca juga : Perikhsa Riders Dan Bang Japar Salurkan Hewan Kurban Untuk Warga Jakarta
"Kami berharap sejak awal dokter-dokter bersedia meresepkan opioid sesuai kebutuhan medis. Kalau ada pasien yang takut terhadap adiksi, dokter bisa menjelaskan secara edukatif bahwa penggunaan opioid tidak serta-merta membuat seseorang menjadi kecanduan," papar Asmin.
Ia menegaskan tujuan utama terapi pereda nyeri adalah mempertahankan kualitas hidup pasien agar tetap dapat produktif meskipun sedang menjalani pengobatan.
"Selama ini ketika seseorang menjadi pasien kanker, sering muncul anggapan bahwa hidupnya sudah tidak memiliki harapan. Padahal kualitas hidupnya masih bisa dipertahankan melalui pengelolaan nyeri yang baik," ujarnya.
Untuk memastikan modul sesuai dengan kebutuhan nasional, Unika Atma Jaya telah mengundang rumah sakit dan fakultas kedokteran untuk memberikan masukan dalam proses penyempurnaan materi. Modul tersebut juga akan disesuaikan dengan karakteristik sosial dan budaya Indonesia.
Asmin menjelaskan, sebagian besar materi awal mengacu pada panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, perlu diadaptasi agar lebih relevan dengan kondisi Indonesia.
Baca juga : Kepala Prodi Atma Jaya Teliti Pengaruh Musik Pada Perilaku Manusia
"Kita perlu menyesuaikan dengan konteks keindonesiaan karena budaya dan sistem kesehatan setiap negara berbeda. Harapannya modul ini nantinya bisa digunakan oleh banyak rumah sakit dan kampus," terangnya.
Medical Opioid Research Dissemination and Workshop diselenggarakan oleh The Indonesian Centre for Drugs Research (ICDR), Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya bersama sejumlah universitas mitra dari Indonesia dan Australia di Kampus Semanggi pada Selasa (2/6/2026).
Kegiatan ini bertajuk “Towards Better Pain Management: Evidence, Education, and Practice in Indonesia”, workshop ini merupakan hasil konsorsium/kolaborasi penelitian antara Unika Atma Jaya, UNSW Sydney, University of Sydney, Airlangga University, Udayana University, Hasanuddin University, University of Queensland, dan University of South Australia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.