BREAKING NEWS
 

AI di Dunia Farmasi: Membantu Apoteker atau Justru Menggantikan Perannya?

Writer : ANIS WIDIYARI
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 7 September 2026 14:07 WIB
Ilustrasi pemanfaatan kecerdasan buatan dalam dunia farmasi. (Gambar dibuat dengan AI)

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teknologi ini tidak hanya digunakan dalam bidang komputer, tetapi juga mulai dimanfaatkan dalam pendidikan, kesehatan, penelitian, dan farmasi. Sebagai mahasiswa farmasi, saya melihat AI sebagai teknologi yang dapat membantu pekerjaan kefarmasian menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, menurut saya, AI tetap harus digunakan secara bijak karena keputusan yang berkaitan dengan obat dan pasien membutuhkan tanggung jawab manusia.

Saya tidak melihat AI sebagai pengganti apoteker. AI lebih tepat menjadi alat bantu yang mendukung pekerjaan tenaga kefarmasian. Teknologi dapat membantu mengolah informasi, sedangkan apoteker tetap memiliki peran dalam menilai kondisi pasien, memberikan informasi obat, berkomunikasi, dan mengambil keputusan secara profesional.

AI dalam Pengembangan Obat

Salah satu pemanfaatan AI yang menarik adalah dalam penelitian dan pengembangan obat. Penemuan obat membutuhkan banyak data dan tahapan penelitian. AI dapat membantu menganalisis data dalam jumlah besar, menyaring kandidat senyawa, dan membuat prediksi yang dapat menjadi pertimbangan awal bagi peneliti.

Tjandrawinata (2025) membahas pemanfaatan AI dan big data dalam perkembangan penemuan obat. Menurut saya, teknologi ini dapat menghemat waktu dalam tahap awal penelitian. Namun, hasil prediksi AI tetap harus dibuktikan melalui pengujian. AI tidak dapat menentukan sendiri bahwa suatu senyawa pasti aman atau efektif. Keputusan akhir tetap membutuhkan penelitian dan pertimbangan manusia.

Membantu Pelayanan Kefarmasian

AI juga berpotensi membantu pelayanan farmasi klinis. Kegiatan seperti pengkajian resep, pencarian informasi obat, pemantauan terapi, dan identifikasi kemungkinan masalah penggunaan obat membutuhkan ketelitian. AI dapat membantu melakukan pemeriksaan awal sehingga apoteker dapat lebih fokus pada kasus yang membutuhkan pertimbangan klinis.

Bidara dan Serawaidi (2025) membahas peluang penggunaan AI dalam pelayanan farmasi klinis. Menurut saya, AI dapat berperan seperti asisten yang membantu memberikan informasi atau peringatan awal. Namun, hasil tersebut tetap harus diperiksa oleh apoteker karena kondisi setiap pasien berbeda. Keselamatan pasien tidak seharusnya hanya bergantung pada hasil sebuah sistem.

AI dan Mahasiswa Farmasi

Baca juga : AI dalam Pelayanan Kefarmasian: Teknologi Canggih, Tapi Manusia Tetap Utama

Manfaat AI juga dapat dirasakan oleh mahasiswa. AI dapat membantu menjelaskan materi yang sulit, membuat latihan soal, merangkum informasi, atau memberikan gambaran awal ketika mencari suatu topik. Sebagai mahasiswa farmasi, saya merasa teknologi seperti ini cukup membantu ketika digunakan sebagai pendamping belajar.

Masyurah dan Ningsih (2024) membahas pemanfaatan ChatGPT dalam pengerjaan laporan praktikum mahasiswa farmasi. Penelitian Cesa dan rekan-rekan (2026) juga membahas penggunaan AI dalam pembelajaran mahasiswa farmasi. Menurut saya, penggunaan AI dalam belajar merupakan hal positif selama mahasiswa tidak menjadikannya sebagai pengganti proses berpikir. Jawaban AI tetap perlu diperiksa melalui buku, jurnal, Farmakope, atau sumber ilmiah yang terpercaya.

Risiko Ketergantungan dan Masalah Etika

Menurut saya, salah satu risiko terbesar AI adalah ketergantungan. AI dapat memberikan jawaban dengan cepat, tetapi jawaban yang terlihat meyakinkan belum tentu selalu benar. Dalam bidang farmasi, informasi mengenai dosis, efek samping, interaksi obat, dan kontraindikasi harus diperiksa dengan hati-hati.

Selain itu, keamanan data juga penting. Informasi pasien merupakan data yang harus dijaga kerahasiaannya. Tjandrawinata (2025) membahas tantangan AI dalam inovasi farmasi, termasuk data, privasi, regulasi, transparansi, dan kemungkinan bias. Karena itu, menurut saya, penggunaan AI di bidang kesehatan harus selalu memperhatikan etika dan keamanan informasi.

Manfaat AI juga terlihat dari kemampuannya membantu pekerjaan yang berulang. Dalam lingkungan kerja farmasi, waktu merupakan hal penting karena tenaga kefarmasian harus menangani banyak informasi sekaligus. Jika sebagian pekerjaan administratif dan pencarian data dapat dibantu teknologi, tenaga kefarmasian dapat menggunakan waktunya untuk kegiatan yang membutuhkan penilaian lebih mendalam. Namun, efisiensi tersebut tetap harus diimbangi dengan pemeriksaan manusia agar kesalahan sistem tidak langsung diteruskan kepada pasien.

Apakah AI Akan Menggantikan Apoteker?

Saya pribadi tidak berpikir bahwa AI akan menggantikan seluruh peran apoteker. Apoteker tidak hanya bekerja dengan data, tetapi juga berhadapan langsung dengan pasien. Pasien mungkin membutuhkan penjelasan mengenai cara penggunaan obat, memiliki kekhawatiran terhadap efek samping, atau membutuhkan komunikasi yang mudah dipahami.

Baca juga : Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Dunia Farmasi

AI dapat membantu memberikan informasi, tetapi hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan membutuhkan empati, komunikasi, dan kepercayaan. Karena itu, saya justru melihat AI sebagai kesempatan agar apoteker dapat mengurangi pekerjaan rutin dan memiliki lebih banyak waktu untuk pelayanan yang membutuhkan pertimbangan profesional.

Sulasmi, Purba, dan Gurusinga (2025) menunjukkan bahwa AI juga dapat dimanfaatkan dalam perancangan dan optimasi formula obat. Hal ini memperlihatkan bahwa teknologi dapat mendukung berbagai bidang farmasi, mulai dari penelitian hingga pelayanan.

Kesimpulan

Pada akhirnya, AI merupakan peluang besar bagi dunia farmasi, bukan sesuatu yang harus ditakuti. AI dapat membantu penelitian obat, pengembangan formula, pelayanan kefarmasian, dan pembelajaran mahasiswa. Namun, teknologi tersebut tetap memiliki keterbatasan dan tidak boleh menggantikan tanggung jawab manusia.

Calon apoteker perlu memahami teknologi sekaligus mempertahankan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan etika. Bagi saya, masa depan farmasi bukan tentang manusia melawan AI, tetapi manusia yang bekerja bersama AI. AI mungkin dapat membantu apoteker bekerja lebih cepat, tetapi ilmu, pertimbangan profesional, empati, dan tanggung jawab terhadap pasien tetap menjadi bagian yang tidak boleh tergantikan.

Daftar Pustaka

Bidara, F., & Serawaidi, N. P. A. (2025). Literature review: Peluang dan tantangan penggunaan kecerdasan buatan dalam meningkatkan pelayanan farmasi klinis. Jurnal Kesehatan Mahardika, 12(1), 158–171. https://doi.org/10.54867/jkm.v12i1.240

Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Asisten Cerdas atau Ancaman bagi Tenaga Kefarmasian?

Cesa, F. Y., Widyasari, M., Aditya, M., & Setiawan, H. (2026). Pengaruh Artificial Intelligence (AI) dalam visualisasi materi untuk meningkatkan minat belajar dan pemahaman mahasiswa farmasi. JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa, 5(2). https://doi.org/10.57218/jkj.Vol5.Iss2.2629

Masyurah, A., & Ningsih, A. S. (2024). Pandangan mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Makassar pemanfaatan ChatGPT dalam pengerjaan laporan praktikum. Community Development Journal, 5(4), 7854–7860. https://doi.org/10.31004/cdj.v5i4.31602

Sulasmi, S., Purba, J. S., & Gurusinga, M. F. (2025). Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam perancangan dan optimasi formula obat untuk meningkatkan efisiensi pengembangan sediaan farmasi. BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology), 8(2). https://doi.org/10.30743/best.v8i2.12668

Tjandrawinata, R. R. (2025). Farmasi cerdas: Era baru penemuan obat dengan AI dan big data. MEDICINUS, 38(1), 27–36. https://doi.org/10.56951/rhvmjy22

Tjandrawinata, R. R. (2025). Memanfaatkan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin dalam inovasi farmasi. MEDICINUS, 38(2), 28–35. https://doi.org/10.56951/kma7ev64

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense