Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin terasa dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia kesehatan dan farmasi. Teknologi yang sebelumnya banyak dikenal dalam bidang komputer kini mulai dimanfaatkan untuk membantu berbagai kegiatan kefarmasian. Kehadiran AI dalam dunia farmasi merupakan sebuah perkembangan yang menarik karena teknologi ini dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, efisien, dan berbasis data. Namun, AI tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti tenaga kefarmasian. Menurut saya, AI justru harus menjadi alat yang membantu manusia menjalankan pekerjaannya dengan lebih baik.
Dunia farmasi memiliki banyak kegiatan yang membutuhkan pengolahan data dalam jumlah besar. Mulai dari penemuan obat, pengembangan formulasi, pengujian, hingga pelayanan kepada pasien, semuanya membutuhkan ketelitian dan waktu. Berdasarkan beberapa jurnal yang saya baca, pemanfaatan AI dalam farmasi sudah berkembang dalam berbagai bidang, seperti pengembangan obat, formulasi sediaan, pelayanan kefarmasian, pengelolaan persediaan, dan telefarmasi.
AI Membantu Mempercepat Penemuan Obat
Salah satu bidang yang menurut saya paling menarik untuk memanfaatkan AI adalah penemuan dan pengembangan obat. Proses penemuan obat bukanlah pekerjaan sederhana. Terdapat banyak senyawa yang harus dianalisis dan disaring sebelum ditemukan kandidat yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Proses tersebut membutuhkan waktu, biaya, serta penelitian yang panjang.
Menurut Tjandrawinata (2025), AI dan big data memberikan pendekatan baru dalam proses penemuan obat. AI memiliki kemampuan untuk menganalisis pola yang kompleks, sedangkan big data memungkinkan penggabungan dan pengolahan data dalam jumlah besar. Dengan kemampuan tersebut, AI dapat membantu mempercepat inovasi farmasi dan mendukung pengembangan pengobatan yang lebih presisi.
Menurut saya, kemampuan tersebut dapat memberikan keuntungan bagi peneliti. Jika sebelumnya peneliti harus melakukan banyak proses penyaringan dan analisis secara konvensional, AI dapat membantu mengolah data dalam jumlah besar dengan lebih cepat. AI memang tidak secara langsung menghasilkan obat yang siap digunakan, tetapi dapat membantu peneliti menentukan arah penelitian dengan lebih efisien.
Tjandrawinata (2025) juga menjelaskan bahwa AI dan machine learning dapat digunakan dalam berbagai tahapan industri farmasi, mulai dari penemuan obat, pengembangan, uji klinis, hingga manufaktur. Teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan efisiensi dan akurasi melalui pemanfaatan data dalam jumlah besar.
AI Membantu Mengoptimalkan Formulasi Obat
Selain penemuan obat, pemanfaatan AI yang tidak kalah menarik adalah dalam perancangan dan optimasi formulasi obat. Dalam pembuatan sediaan farmasi, peneliti harus mempertimbangkan berbagai hal, seperti zat aktif, eksipien, stabilitas, bioavailabilitas, dan karakteristik sediaan. Banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan membuat proses formulasi membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Menurut Sulasmi et al. (2025), AI dapat digunakan dalam desain formulasi, screening senyawa, prediksi bioavailabilitas, dan penilaian stabilitas melalui metode seperti machine learning, deep learning, dan predictive modeling. Pemanfaatan AI tersebut dapat membantu mengurangi proses trial and error serta membuat pengembangan formulasi menjadi lebih efisien.
Bagi saya, kemampuan tersebut sangat bermanfaat bagi penelitian farmasi. Peneliti tidak harus mencoba semua kemungkinan formulasi secara manual. AI dapat membantu memberikan prediksi awal mengenai kombinasi bahan yang berpotensi menghasilkan formulasi yang lebih baik. Dengan demikian, penelitian dapat dilakukan secara lebih terarah
Baca juga : AI dalam Dunia Farmasi: Mempercepat Penemuan dan Optimasi Obat
Sulasmi et al., (2025) juga menunjukkan bahwa model Neural Network yang digunakan dalam penelitian mampu menghasilkan akurasi sebesar 92,7%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa AI memiliki potensi untuk membantu proses prediksi dan optimasi dalam pengembangan sediaan farmasi.
Namun, hasil prediksi AI tidak boleh langsung dianggap sebagai hasil akhir. Prediksi tersebut tetap harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium. Dengan kata lain, AI membantu mempercepat proses penelitian, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap pembuktian secara ilmiah.
AI Mendukung Perkembangan Sistem Penghantaran Obat
Pemanfaatan AI juga berkembang dalam sistem penghantaran obat atau drug delivery system. Menurut Faisal et al., (2025), penerapan AI dalam formulasi farmasi dapat membantu memahami hubungan antara bahan aktif, eksipien, dan berbagai parameter proses yang kompleks. AI juga dapat digunakan untuk membantu optimasi komposisi eksipien, prediksi stabilitas, serta pengembangan sistem penghantaran obat.
Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak hanya bermanfaat untuk menemukan kandidat obat, tetapi juga dapat membantu menghasilkan sediaan farmasi yang lebih optimal. Dengan kemampuan mengolah berbagai data, AI dapat menjadi salah satu teknologi pendukung dalam penelitian dan pengembangan sediaan farmasi.
AI dalam Pelayanan Kefarmasian
Pemanfaatan AI tidak hanya terbatas pada penelitian dan industri farmasi. AI juga mulai memiliki peran dalam pelayanan kefarmasian. Menurut Anastasya & Khairinisa (2024), AI dapat membantu tenaga kefarmasian dalam menganalisis data pasien, mengidentifikasi kemungkinan interaksi obat, mengevaluasi keamanan dan efektivitas obat, serta mendukung pelayanan yang lebih personal. AI juga dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan persediaan obat dan sistem dispensing.
Menurut saya, kemampuan tersebut dapat membantu apoteker dalam menghadapi banyaknya informasi yang harus dianalisis dalam pelayanan sehari-hari. AI dapat membantu pekerjaan yang membutuhkan pengolahan data sehingga tenaga kefarmasian dapat lebih fokus pada pelayanan dan komunikasi dengan pasien.
Salah satu penerapan yang menurut saya cukup bermanfaat adalah pengelolaan persediaan obat. AI dapat menganalisis data penggunaan obat dan membantu memperkirakan kebutuhan persediaan. Dengan adanya teknologi tersebut, apotek dapat lebih mudah mengatur stok dan mengurangi risiko kekurangan maupun penumpukan obat.
AI dan Perkembangan Telefarmasi
AI juga memiliki peluang dalam mendukung telefarmasi, yaitu pelayanan kefarmasian yang memanfaatkan teknologi untuk memberikan pelayanan dari jarak jauh. Menurut Anastasya & Khairinisa (2024), telefarmasi yang didukung AI memiliki potensi untuk meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi pelayanan kesehatan.
Baca juga : Saat AI Mulai Membantu Apoteker
Perkembangan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam memperoleh pelayanan kefarmasian secara langsung. AI dapat membantu memberikan informasi mengenai obat secara cepat dan mudah diakses. Namun, informasi yang diberikan AI tetap perlu diperiksa oleh tenaga kefarmasian, terutama apabila berkaitan dengan keputusan penggunaan obat.
Pasien memiliki kondisi yang berbeda-beda. Informasi yang sesuai untuk satu pasien belum tentu sesuai untuk pasien lainnya. Karena itu, AI tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan terapi pasien.
Tantangan Penggunaan AI dalam Dunia Farmasi
Walaupun memiliki banyak manfaat, penerapan AI dalam farmasi tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah keamanan dan privasi data. Dalam pelayanan kesehatan, data yang digunakan dapat berkaitan dengan kondisi dan riwayat kesehatan pasien. Oleh karena itu, data tersebut harus dikelola dengan baik dan dilindungi dari penyalahgunaan.
Menurut Anastasya & Khairinisa (2024), keamanan data, privasi, dan kemungkinan terjadinya bias algoritma merupakan beberapa tantangan dalam penerapan AI di bidang farmasi. AI sangat bergantung pada data yang digunakan untuk membangun dan melatih sistem. Jika data yang digunakan tidak lengkap atau memiliki bias, hasil yang diberikan AI juga dapat menjadi kurang tepat.
Selain itu, menurut Faisal et al., (2025), penerapan AI dalam formulasi farmasi masih menghadapi tantangan seperti standardisasi data, validasi model dalam kondisi nyata, tuntutan regulasi, serta kesiapan ekosistem teknologi. Menurut saya, hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak cukup hanya dengan memiliki teknologi yang canggih, tetapi juga membutuhkan sistem pendukung yang memadai.
Tantangan lain adalah kebutuhan terhadap validasi. Menurut Sulasmi et al., (2025), hasil prediksi AI tetap memerlukan validasi melalui pengujian laboratorium dan klinis untuk memastikan keamanan dan efektivitas obat. Karena itu, hasil yang diberikan AI tidak boleh langsung dianggap sebagai keputusan akhir.
AI Tidak Menggantikan Peran Apoteker
Hal yang paling penting dalam perkembangan AI di dunia farmasi adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan. AI seharusnya menjadi alat bantu bagi tenaga kefarmasian, bukan pengganti tenaga kefarmasian.
AI memang mampu mengolah data dalam jumlah besar dan melakukan berbagai pekerjaan dengan cepat. Namun, apoteker tidak hanya bekerja dengan data. Apoteker juga berkomunikasi dengan pasien, memberikan informasi mengenai obat, memahami kebutuhan pasien, serta menjalankan tanggung jawab profesional dalam pelayanan kefarmasian.
Perkembangan AI justru dapat mendorong tenaga kefarmasian untuk meningkatkan kemampuan baru. Selain memahami ilmu farmasi, tenaga kefarmasian juga perlu memiliki literasi digital agar mampu menggunakan AI secara tepat dan memahami keterbatasannya.
Baca juga : AI DI DUNIA FARMASI: MEMBANTU APOTEKER, BUKAN MENGGANTIKAN PERANNYA
Anastasya & Khairinisa (2024) juga menekankan pentingnya peningkatan pengetahuan tenaga kefarmasian mengenai AI serta dukungan teknis dalam penerapannya. Dengan kemampuan tersebut, tenaga kefarmasian tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menilai apakah hasil yang diberikan AI sesuai dan dapat digunakan dalam praktik.
Masa Depan Farmasi adalah Kolaborasi
Pada akhirnya, saya melihat AI sebagai salah satu peluang besar bagi perkembangan dunia farmasi. AI dapat membantu mempercepat penemuan obat, mendukung pengembangan formulasi, membantu sistem penghantaran obat, meningkatkan efisiensi pengelolaan persediaan, serta mendukung pelayanan kefarmasian dan telefarmasi.
Namun, saya percaya bahwa AI tidak dapat berdiri sendiri. Penggunaannya membutuhkan tenaga kefarmasian yang memahami ilmu farmasi, mampu menilai hasil yang diberikan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil. Selain itu, diperlukan regulasi, infrastruktur, dan kerja sama antara tenaga kefarmasian, akademisi, industri, pengembang teknologi, dan pihak terkait.
Bagi saya, masa depan dunia farmasi bukanlah tentang manusia melawan AI, tetapi tentang manusia dan AI yang bekerja bersama. AI dapat membantu melakukan pekerjaan yang membutuhkan pengolahan data dalam jumlah besar, sementara tenaga kefarmasian tetap memegang peran penting dalam pengambilan keputusan profesional dan pelayanan kepada pasien.
Teknologi boleh semakin canggih, tetapi keselamatan pasien harus tetap menjadi prioritas. Jika digunakan secara bijak dan bertanggung jawab, AI bukanlah ancaman bagi dunia farmasi. Justru, AI dapat menjadi salah satu alat penting yang membantu tenaga kefarmasian bekerja lebih efektif dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Referensi
1. Anastasya, G., & Khairinisa, M. A. (2024). The Rise of Artificial Intelligence in Pharmacy: Transforming Medication Management and Patient Care. Pharmacology and Clinical Pharmacy Research, 9(2).
2. Faisal, M., Puspitasari, S., & Rosyida, E. A. (2025). Penerapan Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Formulasi Farmasi: Tren, Tantangan, dan Prospek Masa Depan (Tinjauan Literatur). Technology, Health, and Agriculture Nexus: Conference Series, 1(3), 145–153.
3. Sulasmi, Purba, J. S., & Gurusinga, M. F. (2025). Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Perancangan dan Optimasi Formula Obat untuk Meningkatkan Efisiensi Pengembangan Sediaan Farmasi. BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology), 8(2), 547–553.
4. Tjandrawinata, R. R. (2025). Farmasi Cerdas: Era Baru Penemuan Obat dengan AI dan Big Data*. MEDICINUS, 38(1).
5. Tjandrawinata, R. R. (2025). Memanfaatkan Kecerdasan Buatan dan Pembelajaran Mesin dalam Inovasi Farmasi. MEDICINUS, 38(2), 28–35.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.