Dark/Light Mode

Saat AI Mulai Membantu Apoteker

Selasa, 8 September 2026 15:02 WIB
Pemanfaatan AI sebagai pendukung pelayanan kefarmasian (Gambar dibuat dengan AI)
Pemanfaatan AI sebagai pendukung pelayanan kefarmasian (Gambar dibuat dengan AI)

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memasuki berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang kesehatan dan farmasi. AI yang sebelumnya identik dengan dunia teknologi kini mulai digunakan untuk membantu manusia mengolah data, mencari pola, memberikan prediksi, hingga mendukung pengambilan keputusan. Dalam dunia farmasi, perkembangan ini menjadi menarik karena pekerjaan apoteker sangat berkaitan dengan informasi obat, data pasien, pelayanan kefarmasian, serta pemantauan keamanan dan efektivitas terapi.

Menurut Bidara dan Serawaidi (2025), AI memiliki peluang untuk mengoptimalkan pelayanan farmasi klinis, termasuk dalam pengkajian resep, pemantauan terapi obat, pemantauan efek samping obat, dan pelayanan informasi obat. Mereka juga menjelaskan bahwa perkembangan AI dalam pelayanan farmasi klinis masih menghadapi beberapa tantangan, seperti bias data, keamanan data, regulasi, etika, dan resistensi terhadap penggunaan teknologi. 

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kehadiran AI dalam farmasi bukan sekadar tren teknologi. AI mulai diarahkan untuk membantu pekerjaan yang memang dilakukan oleh tenaga kefarmasian. Namun, penerapan AI dalam bidang ini tidak dapat disamakan dengan penggunaannya untuk kebutuhan umum. Kesalahan informasi mengenai obat dapat memberikan dampak terhadap keselamatan pasien sehingga penggunaan teknologi tetap membutuhkan pengawasan tenaga profesional. 

AI sebagai Asisten Apoteker

Salah satu pekerjaan yang berpotensi mendapatkan bantuan AI adalah pengolahan informasi obat. Apoteker harus memahami berbagai informasi, mulai dari indikasi, dosis, kontraindikasi, efek samping, interaksi obat, hingga kondisi pasien. Informasi tersebut juga terus berkembang sehingga tenaga kefarmasian perlu memiliki kemampuan untuk memperoleh dan menilai informasi secara cepat dan tepat. 

Baca juga : AI DI DUNIA FARMASI: MEMBANTU APOTEKER, BUKAN MENGGANTIKAN PERANNYA

Menurut Bidara dan Serawaidi (2025), AI dapat digunakan untuk membantu berbagai aktivitas dalam pelayanan farmasi klinis. Pemanfaatannya berpotensi meningkatkan kualitas dan efektivitas pelayanan, tetapi tetap membutuhkan evaluasi serta kolaborasi antara tenaga kesehatan dan ahli teknologi. 

Hal ini memperlihatkan bahwa AI dapat ditempatkan sebagai asisten bagi apoteker. Sistem dapat membantu mengolah informasi atau memberikan tanda terhadap suatu masalah, sedangkan apoteker melakukan penilaian lebih lanjut. Pola seperti ini dapat membuat pekerjaan menjadi lebih efisien tanpa menghilangkan peran profesional apoteker. 

Menurut Ni’mah (2025), AI dapat membantu apoteker dalam menganalisis data pasien, mempermudah akses informasi, dan meningkatkan komunikasi antara apoteker dengan pasien. Namun, untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal, apoteker tetap membutuhkan keterampilan manajerial dan komunikasi agar penggunaan obat dapat berlangsung secara efektif dan aman. 

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap kemampuan manusia. Justru, ketika pekerjaan pengolahan data semakin banyak dibantu teknologi, kemampuan komunikasi, edukasi, dan penilaian profesional menjadi semakin penting. 

Membantu Pemantauan Terapi Obat

Baca juga : Memangkas Waktu Lab: Peran Kecerdasan Buatan Dalam Mempercepat Cipta Obat Baru

Pemantauan terapi obat merupakan salah satu pelayanan farmasi klinis yang membutuhkan ketelitian. Apoteker perlu mengidentifikasi berbagai masalah terkait obat, seperti interaksi obat, ketidaktepatan regimen dosis, serta kondisi pasien yang dapat memengaruhi terapi. 

Menurut Setiadi et al. (2025), pemantauan terapi obat di rumah sakit masih menghadapi berbagai kendala ketika dilakukan secara manual. Penulis mengembangkan aplikasi SETIA atau Sistem E-Telefarmasi Apoteker berbasis AI yang memiliki fitur untuk membantu pemantauan interaksi obat, regimen dosis, perhitungan creatinine clearance (CrCl), serta analisis Body Mass Index (BMI). 

Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan AI dalam farmasi dapat diarahkan untuk menjawab permasalahan yang nyata. Ketika seorang pasien menggunakan banyak obat, proses pemeriksaan dapat menjadi lebih kompleks. Sistem berbasis teknologi dapat membantu melakukan penyaringan awal sehingga apoteker dapat memberikan perhatian lebih terhadap pasien yang memiliki risiko masalah terkait obat. 

Menurut Setiadi et al. (2025), aplikasi yang dikembangkan tersebut berpotensi membantu mengenali risiko ketika pasien menggunakan beberapa obat sekaligus serta mendukung pelayanan farmasi klinis. 

Namun, rekomendasi yang diberikan oleh sistem tetap membutuhkan penilaian apoteker. Kondisi setiap pasien berbeda sehingga hasil sistem tidak dapat langsung dijadikan keputusan akhir. AI dapat membantu memberikan informasi, tetapi keputusan terapi tetap membutuhkan pertimbangan klinis dan profesional. 

Baca juga : AI Mendorong Transformasi Pelayanan Kefarmasian yang Lebih Efisien

AI dalam Pengembangan Sediaan Farmasi  

Pemanfaatan AI juga dapat diterapkan di luar pelayanan farmasi klinis. Salah satu bidang yang memiliki peluang besar adalah pengembangan sediaan farmasi. Proses perancangan dan optimasi formula obat membutuhkan banyak data dan dapat memerlukan waktu serta biaya yang cukup besar.

Menurut Sulasmi, Purba, dan Gurusinga (2025), pemanfaatan AI dalam perancangan dan optimasi formula obat dapat membantu mempercepat proses screening, meningkatkan efisiensi optimasi, serta membantu memprediksi berbagai karakteristik farmasetik. Kajian tersebut menunjukkan bahwa AI dapat digunakan untuk mendukung perancangan formula, compound screening, prediksi bioavailabilitas, dan penilaian stabilitas. 

Pemanfaatan tersebut dapat memberikan peluang bagi peneliti farmasi untuk bekerja lebih efisien. AI dapat membantu mengolah berbagai kemungkinan formula dan memberikan prediksi berdasarkan data yang tersedia. Dengan demikian, peneliti dapat menentukan beberapa alternatif yang kemudian diuji secara langsung.

AI untuk Farmakovigilans 

Selain pengembangan obat dan pelayanan kefarmasian, AI juga memiliki peluang dalam farmakovigilans. Farmakovigilans merupakan bagian penting dalam ilmu farmasi karena berhubungan dengan pendeteksian, penilaian, pemahaman, dan pencegahan efek samping obat.

Menurut Azali, Yusron, dan Darmawan (2025), pemanfaatan big data dapat mendukung sistem farmakovigilans dengan memanfaatkan berbagai sumber informasi, seperti rekam medis elektronik, laporan efek samping obat, media sosial, dan data klaim asuransi. Mereka menjelaskan bahwa AI dan machine learning dapat menjadi salah satu strategi untuk mengolah data dalam jumlah besar tersebut.

Daftar Pustaka

Azali, A. S., Yusron, M., & Darmawan, E. (2025). Narrative Review: Tantangan dan Strategi Pemanfaatan Big Data dalam Farmakovigilans di Indonesia. PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), 22(1), 50–54. https://doi.org/10.30595/pharmacy.v22i1.26614

Bidara, F., & Serawaidi, N. P. A. (2025). Literature Review: Peluang dan Tantangan Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Meningkatkan Pelayanan Farmasi Klinis. Jurnal Kesehatan Mahardika, 12(1), 158–171. https://doi.org/10.54867/jkm.v12i1.240 

Ni’mah, S. (2025). Peran Apoteker dalam Edukasi Pasien di Era AI (Artificial Intelligence): Perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia. StratÄ“go: Jurnal Manajemen Modern, 7(1). 

Setiadi, F., Utami, H., Ratih, D., & Subhan, A. (2025). Penguatan Praktik Farmasi Klinis melalui Aplikasi Berbasis AI (Artificial Intelligence) untuk Pemantauan Terapi Obat di Rumah Sakit. Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal), 10(1), 98–106. https://doi.org/10.47219/ath.v10i1.485

Sulasmi, S., Purba, J. S., & Gurusinga, M. F. (2025). Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Perancangan dan Optimasi Formula Obat untuk Meningkatkan Efisiensi Pengembangan Sediaan Farmasi. BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology), 8(2), 547–553. https://doi.org/10.30743/best.v8i2.12668.

Neza Khairiah Azzahra H
Neza Khairiah Azzahra H
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.