Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Gelar Apel, Kapolres Bogor Antisipasi Potensi Gesekan Suporter Persija-Persib
- Gempa M5,9 Guncang Kepulauan Seribu Jakarta, Getaran Terasa Hingga Mentawai
- BNPB Laporkan Karhutla Di 4 Daerah, 7,6 Hektare Lahan Terbakar
- Tutup KPPD IV, Gubernur Lemhannas: Kepala Daerah Perlu Berwawasan Global
- TNI Perkuat Penanganan Karhutla dan Bencana, Tuai Apresiasi di Medsos
AI dalam Dunia Farmasi: Mempercepat Penemuan dan Optimasi Obat
Kamis, 3 September 2026 21:39 WIB
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara dunia farmasi melakukan penelitian dan pengembangan obat. Jika sebelumnya banyak proses dilakukan melalui percobaan berulang, AI memungkinkan data dalam jumlah besar dianalisis untuk membantu menentukan pilihan yang lebih tepat. Perubahan ini tidak berarti manusia kehilangan peran, tetapi menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan peneliti dan tenaga farmasi dalam menghasilkan obat yang efektif, aman, dan efisien.
Dalam penemuan obat, AI dapat membantu menganalisis ruang kimia yang luas, memprediksi sifat farmakologis dan toksikologi secara in silico, serta menemukan hubungan antara struktur molekul dan target biologis. Kemampuan tersebut penting karena proses penemuan obat secara konvensional membutuhkan waktu dan biaya besar, sementara tingkat kegagalan pada tahap pengembangan masih tinggi. Pada penyakit degeneratif seperti Alzheimer, Parkinson, diabetes melitus, dan penyakit kardiovaskular, kompleksitas mekanisme penyakit membuat pencarian terapi yang tepat menjadi semakin menantang. AI dapat membantu mengidentifikasi target molekuler, melakukan virtual screening, dan memilih kandidat obat yang lebih potensial untuk dikembangkan.
Penelitian Gea dkk. menunjukkan bahwa penerapan AI dalam penemuan obat dapat mempercepat proses dan menekan biaya pengembangan. Dalam kajiannya, AI digunakan untuk mendukung pengembangan terapi target melalui analisis data biologis dan molekuler. Teknologi ini juga dapat membantu drug repurposing, yaitu mencari penggunaan baru dari obat yang telah tersedia. Pendekatan tersebut berpotensi mempercepat pengembangan terapi karena informasi mengenai obat yang sudah ada dapat menjadi dasar untuk penelitian berikutnya.
Baca juga : Saat AI Mulai Membantu Apoteker: Peluang Besar atau Tantangan Baru?
AI juga memberikan perubahan besar pada tahap formulasi. Formulasi obat membutuhkan pemilihan zat aktif, eksipien, komposisi, serta kondisi proses yang tepat. Pendekatan trial-and-error dapat membutuhkan banyak percobaan sebelum diperoleh formula yang optimal. Dengan machine learning, deep learning, dan predictive modeling, data formulasi dapat dianalisis secara lebih cepat sehingga pengembangan sediaan dapat bergeser menjadi pendekatan data-driven.
Dalam perancangan formula, AI dapat membantu memprediksi interaksi antara zat aktif dan eksipien, kestabilan sediaan, profil pelepasan obat, serta penyerapan dalam tubuh. Dengan demikian, peneliti dapat memperkirakan kombinasi bahan yang lebih sesuai sebelum melakukan banyak percobaan di laboratorium. Pemanfaatan AI diharapkan dapat mengurangi penggunaan sumber daya yang berlebihan sekaligus mempercepat proses optimasi formula.
Kajian Faisal, Puspitasari, dan Rosyida menunjukkan bahwa penerapan AI dalam formulasi farmasi berkembang dari sekadar alat analisis menjadi pendekatan prediktif berbasis data. AI banyak digunakan untuk optimasi komposisi eksipien, prediksi stabilitas, desain sistem penghantaran obat, dan peningkatan bioavailabilitas senyawa yang memiliki kelarutan rendah. Integrasi AI dengan konsep Quality by Design atau QbD juga dapat membantu mengurangi kemungkinan kegagalan formulasi sejak tahap awal.
Baca juga : AI DI DUNIA FARMASI: MEMBANTU APOTEKER, BUKAN MENGGANTIKAN PERANNYA
Perkembangan tersebut membuat AI tidak hanya berperan dalam menghasilkan kandidat obat, tetapi juga dalam menentukan bagaimana obat dapat diberikan kepada pasien secara lebih optimal. Sistem penghantaran obat menjadi salah satu bidang yang berkembang karena machine learning dapat membantu memahami hubungan antara bahan pembawa dan profil pelepasan obat. Integrasi AI dengan teknologi nano dan sistem penghantaran cerdas juga membuka peluang untuk menghasilkan terapi yang lebih terarah dan responsif terhadap kondisi biologis pasien.
Manfaat lain yang penting adalah efisiensi waktu dan biaya. Pengembangan obat membutuhkan berbagai tahap penelitian, mulai dari pemilihan kandidat, pengujian sifat, formulasi, hingga evaluasi keamanan dan efektivitas. AI dapat membantu menyaring data dan memprioritaskan kandidat yang lebih menjanjikan sehingga penelitian dapat dilakukan dengan lebih terarah. Dalam konteks formulasi, kemampuan memprediksi hasil sebelum seluruh percobaan dilakukan dapat mengurangi jumlah eksperimen yang tidak diperlukan.
Namun, penggunaan AI dalam farmasi tidak dapat dilakukan tanpa pengawasan. Tantangan utama yang masih ditemukan adalah keterbatasan data yang terintegrasi, kualitas dan standardisasi data, keamanan data, validasi model, kebutuhan infrastruktur, serta kurangnya tenaga ahli yang memahami ilmu farmasi sekaligus teknologi AI. Hasil prediksi AI tetap harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium dan, sesuai kebutuhan, pengujian klinis. Artinya, keputusan akhir mengenai keamanan dan efektivitas obat tidak cukup hanya berdasarkan hasil prediksi komputer.
Baca juga : Memangkas Waktu Lab: Peran Kecerdasan Buatan Dalam Mempercepat Cipta Obat Baru
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa AI seharusnya dipandang sebagai alat pendukung keputusan. Peneliti dan tenaga farmasi tetap harus memahami dasar ilmiah, menilai kualitas data, memeriksa hasil prediksi, serta memastikan bahwa produk yang dikembangkan memenuhi persyaratan keamanan dan mutu. Kolaborasi antara bidang farmasi, ilmu komputer, bioinformatika, industri, akademisi, dan pemerintah menjadi penting agar penerapan teknologi dapat berjalan secara bertanggung jawab.
Masa depan farmasi juga berpotensi semakin terhubung dengan big data, laboratorium digital, otomatisasi, dan personalized medicine. AI dapat membantu mengolah data multidimensional dan memberikan prediksi yang mendukung pengembangan terapi individual. Perubahan dari produksi yang hanya berorientasi pada jumlah menuju terapi yang lebih sesuai dengan karakteristik pasien dapat menjadi salah satu arah perkembangan farmasi modern.
Pada akhirnya, AI bukan pengganti apoteker, peneliti, maupun tenaga kesehatan. AI adalah teknologi yang dapat membantu manusia bekerja lebih cepat dalam menghadapi data dan permasalahan yang kompleks. Keberhasilan penerapannya tetap bergantung pada kualitas data, validasi ilmiah, regulasi, infrastruktur, dan sumber daya manusia yang kompeten.
Dunia farmasi sedang memasuki tahap baru: dari pendekatan yang banyak bergantung pada trial-and-error menuju pengembangan yang lebih prediktif dan berbasis data. Jika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat membantu mempercepat penemuan obat, mengoptimalkan formulasi, meningkatkan desain sistem penghantaran obat, serta mendukung terapi yang lebih personal. Tantangannya adalah memastikan bahwa kecepatan teknologi tidak mengalahkan prinsip utama farmasi, yaitu keamanan, mutu, efektivitas, dan kepentingan pasien. Dengan kolaborasi manusia dan AI yang bertanggung jawab, inovasi farmasi dapat berkembang lebih cepat sekaligus tetap berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Daftar Pustaka
Faisal, M., Puspitasari, S., & Rosyida, E. A. (2025). Penerapan Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Formulasi Farmasi: Tren, Tantangan, dan Prospek Masa Depan (Tinjauan Literatur). Technology, Health, and Agriculture Nexus: Conference Series, 1(3), 145–153.
Gea, Y. I. P., Gulo, J. G., Telaumbanua, A. V., Harefa, J. P., Gulo, F. I., & Zega, N. A. (2026). Peran Kecerdasan Buatan dalam Percepatan Penemuan Obat: Analisis Integrasi AI pada Pengembangan Terapi Target untuk Penyakit Degeneratif. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 7(1), 958–970.
Saini, J. P. S., Thakur, A., & Yadav, D. (2025). AI-driven innovations in pharmaceuticals: Optimizing drug discovery and industry operations. RSC Pharmaceutics, 2(3), 437–454.
Sulasmi, J. S. P., & Gurusinga, M. F. (2025). Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Perancangan dan Optimasi Formula Obat untuk Meningkatkan Efisiensi Pengembangan Sediaan Farmasi.
Vora, L. K., Gholap, A. D., Jetha, K., Thakur, R. R. S., Solanki, H. K., & Chavda, V. P. (2023). Artificial intelligence in pharmaceutical technology and drug delivery design. Pharmaceutics, 15(7), 1916.
sifa Swuhada
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya