Teknologi digital kini mulai menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha perikanan budidaya di tingkat desa. Tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas, pemanfaatan teknologi cerdas juga membuka peluang untuk menekan biaya produksi dan mengurangi risiko kematian ikan.
Hal inilah yang dikembangkan pada unit usaha perikanan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jaya Abadi, Desa Durajaya, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon. BUMDes Jaya Abadi mengelola 15 kolam bioflok dengan komoditas ikan nila. Setiap kolam memiliki potensi produksi sekitar 150–200 kilogram. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dapat dioptimalkan. Salah satu kendala utama adalah tingginya risiko kematian ikan akibat perubahan kualitas air yang sulit dipantau secara cepat.
Selama ini, pengelolaan kolam masih dilakukan secara konvensional. Pengoperasian aerator, pergantian air, hingga pengambilan keputusan teknis lebih banyak mengandalkan pengalaman pengelola dibandingkan data lapangan yang terukur. Padahal, perubahan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO), pH, maupun suhu air dapat berlangsung cepat dan berpengaruh langsung terhadap kesehatan ikan.
Ketika perubahan kualitas air terlambat diketahui, ikan dapat mengalami stres, pertumbuhan melambat, bahkan berujung pada kematian massal. Persoalan lainnya adalah tingginya konsumsi listrik. Aerator sebagai pemasok oksigen umumnya dioperasikan hampir sepanjang hari tanpa mempertimbangkan kondisi aktual kualitas air di kolam.
Kondisi tersebut membuat penggunaan energi menjadi kurang efisien dan biaya operasional terus meningkat. Di sisi lain, pencatatan kualitas air, produksi, dan aktivitas operasional masih dilakukan secara manual sehingga evaluasi usaha belum dapat dilakukan secara optimal.
Hadirkan E Ox Level
Baca juga : Sinergi Kopdes-BUMDes Gerakkan Ekonomi Desa
Menjawab persoalan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon berkolaborasi dengan Universitas Swadaya Gunung Jati mengembangkan teknologi tepat guna berbasis Internet of Things (IoT) bernama E-Ox Level. Teknologi tersebut dirancang untuk mengubah pola pengelolaan budidaya ikan dari yang sebelumnya berbasis pengalaman menjadi berbasis data (data-driven). E-Ox Level memungkinkan pengelola memantau kualitas air secara real time. Parameter yang dipantau antara lain kadar oksigen terlarut, pH, dan suhu air.
Data tersebut kemudian ditampilkan melalui dashboard digital sehingga pengelola dapat mengetahui kondisi kolam secara lebih cepat dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang terukur. Keunggulan lainnya adalah kemampuan sistem dalam mengendalikan aerator secara otomatis.
Aerator hanya akan bekerja ketika kadar oksigen berada di bawah batas optimal. Dengan mekanisme tersebut, aerator tidak perlu terus-menerus beroperasi ketika kondisi oksigen di dalam kolam masih mencukupi. Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi sekaligus membantu menjaga kondisi lingkungan budidaya tetap optimal.
E-Ox Level juga dilengkapi mekanisme peringatan dini. Ketika terjadi penurunan kualitas air, sistem akan mengirimkan notifikasi kepada pengelola sehingga tindakan korektif dapat segera dilakukan. Ketua pelaksana program, Nurul Ekawati, mengatakan penerapan teknologi dalam budidaya ikan bukan sekadar menghadirkan perangkat digital.
Menurutnya, teknologi harus mampu membantu pembudidaya meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Budidaya ikan modern harus bertumpu pada data. Ketika kualitas air dapat dipantau setiap saat, pembudidaya tidak lagi menunggu ikan menunjukkan gejala stres. Keputusan dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko kerugian dapat ditekan.
TIM Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) UNU Cirebon
Baca juga : Menko Zulhas Minta SPPG Belanja Bahan Di Kopdes
Dipadukan Energi Surya
Tidak hanya mengembangkan sistem pemantauan dan pengendalian otomatis, program tersebut juga mengintegrasikan panel surya sebagai sumber energi untuk menjalankan perangkat sensor dan mesin aerator. Pemanfaatan energi terbarukan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap listrik PLN sekaligus mendukung pengembangan budidaya ikan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Berdasarkan target program, implementasi E-Ox Level diproyeksikan mampu menjaga kondisi kualitas air berada pada kisaran optimal selama lebih dari 90 persen waktu budidaya. Tingkat kelangsungan hidup ikan ditargetkan meningkat menjadi 85-95 persen, sedangkan biomassa panen diproyeksikan meningkat sekitar 20-30 persen.
Pada saat yang sama, konsumsi listrik dan biaya operasional diperkirakan dapat ditekan sekitar 15–25 persen setiap siklus produksi. Target tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi budidaya tidak hanya berorientasi pada penggunaan teknologi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi ekonomi dan keberlanjutan usaha.
SDM Tetap Jadi Kunci
Keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya ditentukan oleh perangkat yang digunakan. Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting. Karena itu, program ini dilengkapi dengan pelatihan pengoperasian sistem, digitalisasi pencatatan usaha, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta pendampingan intensif kepada pengelola BUMDes.
Melalui pendampingan tersebut, pengelola diharapkan mampu mengoperasikan sistem secara mandiri dan menjadikan data sebagai dasar dalam mengambil keputusan usaha. Dengan demikian, teknologi tidak berhenti sebagai perangkat, tetapi menjadi bagian dari perubahan pola pengelolaan usaha budidaya ikan.
Model pengelolaan berbasis IoT tersebut juga memiliki peluang untuk direplikasi pada kelompok pembudidaya ikan skala kecil di berbagai daerah di Indonesia. Digitalisasi budidaya dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi konsumsi energi, menekan risiko kerugian, sekaligus memperkuat daya saing usaha perikanan masyarakat.
Lebih jauh, inovasi tersebut dapat mendukung penguatan ketahanan pangan dan pengembangan ekonomi desa yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi serta tuntutan pembangunan berkelanjutan. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, BUMDes, dan masyarakat menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu harus lahir dari teknologi yang rumit dan mahal. Ketika hasil riset mampu diterapkan untuk menjawab persoalan nyata masyarakat, teknologi dapat menjadi instrumen pemberdayaan yang memberikan manfaat langsung bagi produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Dari Desa Durajaya, Kabupaten Cirebon, inovasi E-Ox Level menunjukkan bahwa transformasi digital dapat dimulai dari kolam-kolam budidaya di desa. Bukan sekadar membuat budidaya ikan lebih modern, tetapi juga mendorong lahirnya model usaha desa yang lebih efisien, adaptif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Program ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim pelaksana menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan pendanaan yang memungkinkan pengembangan serta implementasi teknologi E-Ox Level bagi BUMDes Jaya Abadi, Desa Durajaya, Kabupaten Cirebon.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.