RM.id Rakyat Merdeka - Industri rumah tangga penghasil opak dan enye di Desa Ciambar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mampu menghasilkan sekitar 20–50 kilogram limbah kulit singkong per tempat produksi setiap hari. Sebagian limbah tersebut masih dibuang di pinggir jalan hingga membusuk dan menimbulkan bau tidak sedap. Kondisi ini bukan hanya mengganggu lingkungan, tetapi juga menunjukkan adanya sumber daya yang belum dimanfaatkan secara produktif.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Trisakti menjalankan program bertajuk “ECO-WRAPPER: Solusi Cerdas Pengelolaan Limbah Kulit Singkong Menjadi Kemasan Berkelanjutan di Desa Ciambar”.
Program ini mengolah kulit singkong menjadi lembaran eco-wrapper yang dapat dikembangkan sebagai kemasan ramah lingkungan untuk produk opak dan enye.
Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026, berdasarkan Kontrak Nomor 787/A/LPPM/USAKTI/IV/2026. Mitra program adalah kelompok Ibu PKK Desa Ciambar, Sukabumi.
Baca juga : Universitas Trisakti Perkuat Kolaborasi Digitalisasi Pesantren Daarul ‘Uluum Lido
Kegiatan ini ketuai oleh Dr. Nurhayati, S.E., M.E., dengan anggota dosen Dr. Agustina Suparyati, S.E., M.E. dan Dr. Christy Anandha Putri, S.T., M.T., serta dua mahasiswa, yaitu Naila Nasywa Istiqomah dan Clara. Kolaborasi dosen dan mahasiswa ini memadukan aspek pemberdayaan masyarakat, pengelolaan produksi, dan penerapan teknologi sederhana yang dapat digunakan di tingkat rumah tangga.
Program berlangsung dalam delapan pertemuan sejak 23 Juni hingga 16 Agustus 2026. Pertemuan pertama diawali dengan survei ke industri rumah tangga penghasil opak dan enye serta sejumlah lokasi penumpukan kulit singkong. Hasil survei kemudian digunakan sebagai dasar sosialisasi mengenai dampak lingkungan dan peluang pemanfaatan limbah kulit singkong menjadi eco-wrapper.
Pada pertemuan ketiga dan keempat, peserta mempelajari proses ekstraksi pati dari kulit singkong. Tahapannya meliputi pemotongan, penghalusan, penyaringan, pengendapan, hingga pengeringan pati. Tim juga menyerahkan peralatan pendukung dan mendampingi Ibu PKK melakukan ekstraksi secara mandiri agar proses tersebut dapat diterapkan kembali setelah program berakhir.
Pertemuan kelima hingga ketujuh difokuskan pada formulasi dan pencetakan eco-wrapper. Peserta mempelajari fungsi setiap bahan, komposisi formula, proses penimbangan, pencampuran, pemanasan, serta pencetakan pada loyang. Praktik dilanjutkan dalam skala rumah tangga, termasuk penggunaan bahan pewarna untuk memperbaiki tampilan lembaran eco-wrapper. Hasil setiap percobaan dievaluasi agar kualitas produk dapat terus ditingkatkan.
Baca juga : Universitas Trisakti Gelar PkM Bima Kemdiktisaintek 2026 di Desa Ciambar Sukabumi
Pada pertemuan kedelapan, peserta tidak lagi hanya membuat material eco-wrapper, tetapi mulai mengolahnya menjadi bentuk kemasan. Lembaran berbahan pati kulit singkong dipotong dan direkatkan menggunakan alat sealer sehingga menghasilkan contoh kemasan yang dapat dikembangkan untuk produk lokal Desa Ciambar.
Rangkaian kegiatan tersebut diarahkan pada tiga luaran utama. Pada aspek manajemen, program meningkatkan kemampuan mitra dalam mengatur proses produksi dan menerapkan standar kerja melalui penyusunan SOP. Pada aspek produksi, pendampingan ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi produk serta menghasilkan minimal dua prototipe eco-wrapper. Sementara itu, produk utama yang dikembangkan adalah kerajinan daur ulang berbasis prinsip upcycle/recycle dengan memanfaatkan limbah kulit singkong sebagai bahan baku kemasan.
Program ECO-WRAPPER mendukung SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah menjadi produk baru. Keterlibatan aktif Ibu PKK juga mendukung SDG 5: Kesetaraan Gender dengan memperkuat peran perempuan dalam kegiatan produktif. Selain itu, pengembangan produk bernilai ekonomi dari sumber daya lokal sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Ketua PKK Desa Ciambar, Siti Nuraida, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan program tersebut. Sebelumnya, kulit singkong hanya dianggap sebagai limbah dan sering dibuang begitu saja.
Baca juga : Universitas Trisakti Dorong Transformasi Industri Hijau UMKM Dodol D’Tungku Bojonggede
"Setelah mengikuti delapan kali pertemuan, kami memahami cara mengolahnya mulai dari mengambil pati hingga membuat lembaran dan bentuk kemasan. Kami berharap keterampilan ini dapat terus dikembangkan menjadi kegiatan produktif Ibu PKK dan mendukung kemasan produk opak serta enye dari Desa Ciambar,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima redaksi, Rabu (19/8/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.