BREAKING NEWS
 

I-Chip UMJ Perkuat Kebijakan Kesehatan Hadapi Dampak Perubahan Iklim

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Rabu, 16 September 2026 09:30 WIB
Seminar Nasional dan Grand Launching I-Chip UMJ membahas keterkaitan perubahan iklim, gizi, dan kesehatan ibu serta anak di UMJ, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia perlu memperkuat kebijakan kesehatan yang berkelanjutan untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin berkaitan dengan persoalan kesehatan masyarakat. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian, terutama terhadap ibu, bayi baru lahir, dan anak.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi panel rangkaian Seminar Nasional dan Grand Launching I-Chip UMJ (Indonesia Center for Health Evidence-Information Policy Universitas Muhammadiyah Jakarta) di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Selasa (15/9/2026).

Diskusi menghadirkan Prof Kristen M. Hurley dari Johns Hopkins University yang membawakan materi Climate Change: The Nexus between Biology, Nutrition & Systems Global Evidence & Local Vulnerabilities.

Kristen menjelaskan, bukti mengenai hubungan perubahan iklim dengan kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak terus berkembang. Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui sistem pangan dan gizi, tetapi juga dapat terjadi secara langsung terhadap proses biologis selama kehamilan dan kualitas layanan kesehatan.

“Dampak perubahan iklim dapat terjadi secara langsung, misalnya panas terhadap perubahan plasenta atau perkembangan embrio dan janin. Dampak tidak langsung juga dapat terjadi melalui sistem pangan, ketika perubahan iklim memengaruhi produksi pangan, ketahanan pangan, hingga kekurangan gizi,” kata Kristen.

Baca juga : I-CHIP UMJ Resmi Diluncurkan, Arief Rosyid Jadi Nahkoda

Guru Besar UMJ Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat Prof Abd. Razak Thaha mengatakan, keterkaitan perubahan iklim dengan kesehatan kini semakin terlihat secara langsung. Peningkatan suhu, paparan polutan, proses biologis, persoalan gizi, hingga kapasitas sistem kesehatan saling berkaitan, terutama terhadap kelompok ibu dan anak.

Menurut Razak, paparan polutan selama kehamilan dapat memengaruhi kondisi plasenta dan perkembangan janin. Salah satunya ditandai dengan peningkatan biomarker inflamasi seperti C-reactive protein (CRP).

“Terjadi inhalasi polutan, kemudian terjadi pula gangguan sirkulasi sistemik dari plasenta. Setelah itu terjadi lonjakan biomarker, misalnya peningkatan CRP sebagai salah satu biomarker inflamasi yang terjadi di dalam plasenta pada ibu-ibu hamil,” jelas Razak.

Adsense

Sementara itu, Guru Besar UMJ Bidang Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Prof Tria Astika EP menekankan pentingnya membangun ketahanan gizi yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.

Menurut Tria, upaya tersebut membutuhkan pengembangan sistem yang cerdas, penguatan riset kolaboratif, serta kebijakan yang mampu menjawab persoalan ketahanan pangan dan gizi secara berkelanjutan.

Baca juga : Suhu Arktik Yang Beku Kini Berubah Memanas

“Yang paling penting bukan hanya membicarakan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan anak dan ibu, tetapi bagaimana Indonesia dapat membangun climate nutrition resilience. Indonesia juga perlu mengembangkan sistem yang cerdas melalui kolaborasi riset dan kebijakan untuk menghadapi persoalan ketahanan pangan,” ungkap Tria.

Dia menilai kehadiran I-Chip UMJ dapat menjadi wadah kolaborasi antara riset dan kebijakan untuk merespons keterkaitan perubahan iklim, gizi, dan kesehatan secara lebih terintegrasi.

“Dengan I-Chip, kita dapat membangun kolaborasi riset dan aktivitas yang positif sekaligus memperkuat kebijakan di Indonesia. Kita membutuhkan kebijakan yang cerdas untuk menyelesaikan persoalan ini,” tuturnya.

Guru Besar UMJ Bidang Ilmu Manajemen Keperawatan Prof Muhammad Hadi menambahkan, perubahan iklim telah menjadi persoalan serius bagi kesehatan masyarakat. Dampaknya dapat muncul secara langsung berupa peningkatan risiko stroke, dehidrasi, gangguan kardiovaskular, dan cedera.

Di sisi lain, perubahan iklim juga dapat memengaruhi pola penyakit menular, termasuk demam berdarah dan malaria.

Baca juga : Eddy Soeparno Serap Masukan Guru Besar dan Akademisi Unair

“Dalam perspektif kebijakan kesehatan, respons terhadap perubahan iklim ini tidak cukup hanya dilakukan ketika terjadi bencana. Sistem kesehatan harus bergerak dari pendekatan reaktif menuju preventif, termasuk sistem peringatan dini, kesiapan, serta perlindungan kelompok rentan dan fasilitas kesehatan,” tutur Hadi.

Hadi menilai Indonesia telah memiliki fondasi kebijakan terkait perubahan iklim. Namun, integrasinya ke dalam sistem kesehatan dinilai belum merata dan masih banyak berfokus pada respons ketika bencana terjadi.

Karena itu, dia berharap I-Chip UMJ dapat berkontribusi melalui riset berbasis bukti dan penyusunan kebijakan preventif. Dengan pendekatan tersebut, sistem kesehatan Indonesia diharapkan lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim secara berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense