Di era yang serba cepat seperti sekarang, bergadang sering dianggap sebagai hal yang biasa. Remaja masih sibuk mengerjakan tugas atau bermain media sosial, sedangkan pekerja mengejar tenggat waktu sampai larut malam. Padahal, tidur bukan sekadar waktu untuk memejamkan mata. Saat tidur, tubuh dan otak melakukan banyak proses penting agar kita bisa berfungsi dengan baik pada hari berikutnya.
Kurang tidur dapat langsung memengaruhi kemampuan berpikir. Konsentrasi menjadi mudah buyar, fokus menurun, dan daya ingat ikut terganggu. Saat tidur, otak sebenarnya sedang menyimpan serta memperkuat informasi yang kita dapatkan sepanjang hari. Proses ini disebut konsolidasi memori.
Jika waktu tidur terganggu, bagian otak seperti hippocampus yang berperan dalam memori dan prefrontal cortex yang membantu mengatur fokus tidak dapat bekerja secara maksimal. Akibatnya, seseorang bisa lebih sulit memahami pelajaran, lambat mengambil keputusan, dan mudah lupa. Kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko kesalahan saat belajar, bekerja, atau berkendara.
Baca juga : Belajar di Era Digital : Peluang atau Tantangan?
Setelah satu malam tidur terlalu sedikit, kemampuan seseorang untuk berpikir dan bereaksi dapat menurun. Karena itu, rasa mengantuk tidak boleh dianggap sepele, terutama ketika seseorang harus mengemudi atau mengoperasikan alat.
Bergadang tidak hanya membuat mata terasa berat. Kurang tidur juga dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Hormon ghrelin yang memicu rasa lapar dapat meningkat, sedangkan leptin yang memberi sinyal kenyang dapat menurun. Akibatnya, seseorang lebih mudah merasa lapar dan memilih makanan tinggi gula atau lemak. Jika berlangsung lama, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan obesitas.
Sistem kekebalan tubuh juga bisa ikut melemah. Orang yang tidur terlalu sedikit mungkin lebih mudah merasa lelah dan rentan mengalami gangguan kesehatan. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention) 2016, tidur kurang dari tujuh jam pada orang dewasa berkaitan dengan risiko lebih tinggi terhadap obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kecemasan, dan depresi.
Baca juga : Menjaga Pola Makan di Tengah Tren Kuliner
American Heart Association (2025) juga memasukkan tidur sebagai salah satu bagian penting dari kesehatan jantung. Orang dewasa umumnya dianjurkan tidur sekitar tujuh sampai sembilan jam setiap malam. Tidur yang kurang dari kebutuhan dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, dan masalah kesehatan jantung lainnya.
Kurang tidur juga memengaruhi emosi. Saat tubuh tidak mendapatkan istirahat yang cukup, seseorang dapat menjadi lebih mudah marah, sensitif, cemas, atau mengalami perubahan suasana hati. Masalah kecil pun bisa terasa lebih berat karena otak tidak mampu mengatur respons emosi dengan baik. Jika kebiasaan tidur buruk berlangsung terus-menerus, risikonya terhadap kesehatan mental dapat semakin besar.
Kurang tidur sering dikaitkan dengan meningkatnya gejala kecemasan dan depresi. Namun, hubungan ini bisa terjadi dua arah: kurang tidur dapat memperburuk kondisi mental, sementara stres dan gangguan mental juga dapat membuat seseorang sulit tidur.
Baca juga : Nyamuk Kecil Ancaman Besar : Pentingnya Penerapan 3M Plus Dalam Pencegahan DBD
Kabar baiknya, kebiasaan tidur dapat diperbaiki secara perlahan. Beberapa cara yang bisa dicoba adalah:
- Tidur dan bangun pada waktu yang hampir sama setiap hari, termasuk saat akhir pekan.
- Kurangi penggunaan ponsel, laptop, dan televisi sekitar satu jam sebelum tidur.
- Buat kamar menjadi lebih gelap, sejuk, dan tenang.
- Hindari kopi, teh berkafein, atau minuman energi menjelang sore dan malam.
- Jangan makan terlalu banyak tepat sebelum tidur.
CDC menyarankan remaja usia 13–17 tahun tidur selama delapan sampai sepuluh jam per hari, sedangkan orang dewasa membutuhkan setidaknya tujuh jam tidur setiap stabil
Begadang mungkin terasa produktif untuk sementara, tetapi dampaknya dapat merambat ke otak, tubuh, dan emosi. Karena itu, tidur yang cukup sebaiknya dianggap sebagai kebutuhan, bukan kemewahan. Mulailah memperbaiki jadwal tidur sedikit demi sedikit agar tubuh lebih segar, pikiran lebih fokus, dan suasana hati lebih stabil.
Artikel ini di tulis oleh Amanda Lestari, Lutfiah Mawar M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si., dan Annisa Ardianti Br Tarigan. Lalu di edit oleh Putri Namira, Latansa Salsabila lubis, Peggi Aulia, Nabila Atika Rahma, Sri Rahma, Salsabila Siregar, Aninda Listya, dan Sitti Fhadilah Pasaribu dari IKM 8 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.