BREAKING NEWS
 

Cuaca Tak Menentu, Keluarga Perlu Siap Hadapi Risiko Penyakit

Writer : IKM8 UINSU Stambuk 2026g
Editor : UJANG SUNDA
Minggu, 20 September 2026 13:57 WIB
Ilustrasi cuaca tak menentu (Gambar dibuat dengan AI)

Kota Medan yang padat aktivitas sering mengalami perubahan cuaca cepat, seperti hujan lebat, genangan, kelembapan tinggi, dan panas. Kondisi ini dapat mengancam kesehatan masyarakat, terutama jika lingkungan kotor, drainase tersumbat, air bersih terbatas, serta pencegahan belum dilakukan dengan baik (Rhea J Rocque et al., 2021).

Cuaca ekstrem mencakup hujan lebat, banjir, panas, angin kencang, atau perubahan suhu mendadak. Riset menunjukkan perubahan iklim memperburuk penyakit menular, pernapasan, jantung, cedera, dan kesehatan mental. Tinjauan 94 studi sistematis menegaskan dampak buruknya bagi kesehatan manusia (Marina Romanello et.al, 2023).

Hujan deras berkepanjangan dapat menyebabkan genangan dan banjir. Genangan yang dibiarkan menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD. Bak, ember, talang, vas, ban bekas, botol, dan wadah minum hewan dapat menampung air hujan serta menjadi tempat nyamuk bertelur (WHO, 2023). Risiko DBD bukan hanya dipengaruhi hujan, tetapi juga suhu, kelembapan, kepadatan penduduk, perilaku warga, dan pengelolaan lingkungan. Studi di Badung dan Manado menunjukkan suhu, curah hujan, serta kelembapan berkaitan dengan meningkatnya kejadian dengue atau DBD (WHO, 2024).

Baca juga : Menjaga Kesehatan di Tengah Kesibukan Kuliah

Selain DBD, banjir dan genangan dapat memicu penyakit akibat air tercemar sampah, limbah, kotoran hewan, atau kuman. Risikonya meliputi penyakit kulit, diare, dan leptospirosis dari urine tikus. Warga perlu memakai pelindung kaki serta segera membersihkan tubuh setelah terkena banjir (WHO, 2023). Setelah hujan, warga Medan dapat menghadapi panas dan kelembapan tinggi yang memicu kehilangan cairan. Kekurangan cairan menyebabkan dehidrasi, lemas, pusing, kram, hingga kelelahan panas. Paparan berat dapat berujung pada heat exhaustion atau heat stroke yang berbahaya (Mochamad Rizal Maulana et.al, 2023).

Kelompok rentan terhadap panas meliputi bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruang, serta penderita penyakit kronis. Laporan Lancet Countdown 2023 menyatakan lansia di atas 65 tahun dan bayi di bawah satu tahun mengalami paparan gelombang panas sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan periode 1986–2005 (Tyrsa C N Monintja et.al, 2021).

Panas berlebih yang disertai polusi kendaraan, debu, atau asap sampah dapat menurunkan kualitas udara dan memicu batuk, sesak, iritasi tenggorokan, serta asma. Warga perlu membatasi aktivitas berat siang hari, memakai pelindung saat di luar, dan cukup minum air. Pencegahan cuaca ekstrem memerlukan peran keluarga dan masyarakat, bukan hanya pemerintah atau tenaga kesehatan. Warga perlu menerapkan 3M Plus: menguras dan menutup wadah air, menyingkirkan barang bekas, memakai kelambu atau larvasida, serta segera memeriksakan diri saat demam tinggi mendadak (BPS Sumatera Utara, 2025).

Baca juga : Pentingnya Pola Hidup Sehat Dalam Kehidupan Sehari-hari

Warga Medan perlu menjaga kebersihan drainase, tidak membuang sampah ke parit, sungai, maupun lingkungan sekitar, serta melaksanakan kerja bakti secara teratur dan berkelanjutan. Upaya tersebut sangat penting untuk mencegah penyumbatan saluran air, mengurangi genangan, serta menekan risiko timbulnya berbagai penyakit.

Setiap keluarga juga perlu menyiapkan kebutuhan penting ketika hujan deras atau banjir terjadi, seperti air bersih, sabun, obat pribadi, makanan siap konsumsi, pakaian, serta alas kaki tertutup. Saat cuaca panas, warga dianjurkan minum air putih secara rutin, memakai pakaian longgar yang menyerap keringat, mencari tempat teduh, dan membatasi aktivitas fisik berat pada siang hari. Bila mengalami demam tinggi, muntah berulang, sesak napas, lemas berat, pusing, atau gejala dehidrasi, warga harus segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

Cuaca ekstrem di Medan dapat memicu DBD, diare, penyakit kulit, leptospirosis, gangguan pernapasan, serta dehidrasi. Pencegahannya membutuhkan kebersihan lingkungan, perilaku hidup sehat, kesiapan keluarga, dan kolaborasi aktif yang baik antara warga, tenaga kesehatan, serta pemerintah daerah.

Baca juga : Generasi Sehat Dimulai daei Kesehatan Masyarakat yang Kuat

Artikel ini di tulis oleh Nur Aqidah Dly, Luthfiah Mawar, M.K.M., Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si., dan Annisa Ardianti Br Tarigan. Lalu diedit oleh Putri Namira, Latansa Salsabila lubis, Peggi Aulia, Nabila Atika Rahma, Sri Rahma, Salsabila Siregar, Aninda Listya, dan Sitti Fhadilah Pasaribu dari IKM 8 Stambuk 2026 Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense