Dark/Light Mode

Jebakan FOMO Kuliner Viral: Saat Validasi Media Sosial Ancam Kesehatan Gen Z

Jumat, 18 September 2026 21:22 WIB
Ilustrasi FOMO kuliner viral (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi FOMO kuliner viral (Gambar dibuat dengan AI)

Pemandangan antrean yang  panjang di depan kedai minuman kekinian kini jadi potret keseharian di berbagai pusat perbelanjaan dan sudut kuliner Kota Medan. Menariknya, mereka yang rela berdiri berjam-jam menantang teriknya cuaca Medan didominasi oleh wajah-wajah muda. Sembil menggenggam ponsel, jari jemari mereka sibuk merekam ramainya antrean, lalu bergegas memfoto segelas boba dengan lapisan krim keju tebal sesaat setelah pesanan tiba di tangan. Sebuah kebiasaan modern yang sering kita temui, demi satu tujuan: diunggah ke Instagram Story atau TikTok agar sukses menembus FYP.

Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO)—sebuah kecemasan psikologis ketika remaja takut dianggap tidak gaul jika melewatkan tren yang sedang viral di dunia maya. Di Medan, tren kuliner viral datang silih berganti dengan sangat cepat. Mulai dari cromboloni, mie pedas level ekstrem, hingga camilan manis serba keju dan cokelat lumer. Sayangnya, dari kacamata Ilmu Kesehatan Masyarakat, tren "FOMO Kuliner" ini bukan sekadar urusan gaya hidup digital biasa. Ini adalah ancaman kesehatan yang bergerak senyap dan siap menjadi bom waktu bagi masa depan Gen Z.

Bagi anak muda zaman sekarang, fungsi makanan telah bergeser secara radikal. Makanan tidak lagi dibeli murni untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh atau rasa lapar. Makanan telah berubah menjadi simbol status sosial dan alat pencari validasi instan berupa tombol "suka" (likes) di media sosial. Seseorang membeli makanan viral agar merasa menjadi bagian dari kelompok yang kekinian. Sayangnya, mayoritas kuliner yang viral di media sosial masuk dalam kategori junk food atau makanan tinggi kalori namun kurang bergizi. Makanan-makanan ini menyembunyikan kadar gula yang sangat tinggi (hidden sugar), garam berlebih, serta lemak jenuh.

Baca juga : Generasi Muda dalam Bayang-bayang Diabetes Akibat Gaya Hidup Tak Sehat

Ketika konsumsi makanan viral ini menjadi kebiasaan mingguan demi sebuah konten, tubuh dipaksa bekerja di luar batas normal. Dampak jangka pendeknya bukan  hanya membuat dompet mahasiswa menipis. Namun, dampak jangka panjang bagi kesehatan tubuh sangat mengerikan.

Asupan gula dan lemak jenuh yang menumpuk dari tren kuliner ini menjadi pemicu utama melonjaknya angka obesitas remaja. Lebih mengkhawatirkan lagi, penyakit degeneratif yang dulu identik dengan usia tua—seperti Diabetes Melitus Tipe 2, hipertensi, hingga gangguan ginjal—kini mulai menyerang anak muda di bawah usia 25 tahun. Gen Z yang seharusnya berada di puncak usia produktif kini justru rentan mengalami resistensi insulin akibat gaya hidup yang tidak terkontrol.

Menghadapi tantangan kesehatan modern seperti ini, pendekatan Ilmu Kesehatan Masyarakat tidak bisa lagi memakai cara lama yang membosankan. Penyuluhan kesehatan konvensional yang kaku di dalam ruang puskesmas atau pembagian brosur kertas sudah tidak lagi mempan bagi generasi sekarang. Kita harus berani masuk ke dunia mereka dan "mengubah" algoritma media sosial.

Baca juga : Scrolling Terus, Pola Hidup Sehatnya Kapan?

Lantas, apakah kita harus sepenuhnya memusuhi media sosial dan berhenti jajan? Tentu tidak. Memutus arus teknologi di era digital ini adalah hal yang mustahil. Namun, yang perlu kita benahi bersama adalah kesadaran dan kendali diri. Sebagai anak muda, kita harus mulai kritis dan bertanya pada diri sendiri sebelum ikut mengantre: Apakah kita membeli makanan ini karena tubuh kita memang membutuhkannya, atau sekadar lapar mata demi sebaris validasi di layar kaca?

Jika industri makanan cepat saji bisa memanfaatkan rasa cemas FOMO untuk menjebak konsumen membeli produk tidak sehat, dunia kesehatan masyarakat harus bisa melakukan hal serupa. Kita perlu merekayasa tren baru yang disebut "Healthy FOMO". Kampanye kesehatan harus dikemas secara estetik, visual yang menarik, dan kekinian.

Kita harus memicu rasa cemas tertinggal pada anak muda jika mereka tidak ikut serta dalam aktivitas sehat, seperti pamer mengikuti ajang maraton di Lapangan Merdeka, mengunggah persiapan bekal sehat (meal prep), bisa juga mengolah camilan viral menjadi lebih sehat yang tinggi akan nutrisi bukan hanya lemak saja atau mendokumentasikan kebiasaan minum air putih dan jus buah segar harian. Kita harus membuat gaya hidup sehat menjadi sebuah tren yang dinilai "keren" dan wajib diikuti.

Baca juga : Dampak Kurang Tidur terhadap Kesehatan dan Aktivitas Mahasiswa

Pada akhirnya, kendali penuh berada di ujung jari kita masing-masing. Media sosial dan konten viral hanyalah visual sementara di layar ponsel, namun tubuh kita adalah aset nyata yang tidak memiliki suku cadang pengganti. Memutus rantai jebakan FOMO kuliner bukan berarti kita harus menutup diri secara ekstrem dari perkembangan zaman. Ini adalah bentuk kesadaran penuh bahwa tubuh kita berhak mendapatkan nutrisi yang nyata, bukan sekadar komoditas estetika konten visual yang berujung pada ancaman jarum suntik insulin di masa depan. Mari menjadi generasi yang bijak: viral di media sosial, namun tetap sehat di dunia nyata.

Artikel ini ditulis oleh: Nazwa Arisyadana, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

IKM10 UINSU Stambuk 2026e
IKM10 UINSU Stambuk 2026e
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.