BREAKING NEWS
 

Luka Ekonomi Keluarga Terdampak Bencana

Writer : IKM10 UINSU Stambuk 2026g
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 22 September 2026 15:29 WIB
Ilustrasi keluarga terdampak bencana. (Gambar dibuat dengan AI)

Bencana alam seperti banjir bandang, gempa bumi, dan tanah longsor selalu datang tanpa pernah memberi peringatan terlebih dahulu. Dalam hitungan detik, pemukiman warga dapat rata dengan tanah dan seluruh aktivitas kehidupan masyarakat lumpuh total. Namun, ketika gemuruh bencana telah berlalu dan air mulai surut, masalah yang sebenarnya baru saja dimulai bagi para penyintas. Di luar kerusakan fisik bangunan dan trauma psikologis yang dialami, ada ancaman lain yang berdampak jangka panjang bagi kehidupan warga, yaitu hilangnya mata pencaharian dan hancurnya fondasi ekonomi keluarga.

Bagi sebagian besar masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, pekerjaan harian merupakan satu-satunya benteng pertahanan untuk menyambung hidup. Ketika bencana menerjang, benteng tersebut roboh seketika dan menghilangkan sumber pendapatan utama mereka. Petani tidak lagi bisa memanen hasil bumi karena sawahnya tertimbun lumpur, nelayan kehilangan mata pencaharian akibat perahunya rusak diterjang gelombang, dan pedagang kecil harus merugi karena barang dagangannya hanyut. Perubahan drastis ini memaksa keluarga yang sebelumnya mandiri secara finansial berubah menjadi pengungsi yang bergantung penuh pada bantuan logistik.

Baca juga : Air Putih Sering Dilupakan, Padahal Penting bagi Tubuh

Dampak dari hilangnya mata pencaharian ini dengan cepat merembet pada kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar harian. Tanpa adanya pemasukan rutin, warga yang terdampak terpaksa menguras sisa tabungan yang mereka miliki hanya untuk membeli bahan makanan pokok. Ketika sisa uang simpanan tersebut akhirnya habis, pilihan yang tersisa menjadi sangat terbatas dan berisiko tinggi bagi masa depan mereka. Banyak warga akhirnya terpaksa mengambil jalan pintas dengan berutang kepada pihak informal atau pinjaman tidak resmi, yang justru menjerat mereka dalam ikatan finansial baru pascabencana.

Adsense

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan merasakan dampak dari krisis keuangan keluarga ini. Saat seluruh alokasi uang yang tersisa dialihkan sepenuhnya untuk membeli beras atau memperbaiki tempat tinggal, anggaran untuk biaya pendidikan anak sering kali terabaikan. Kondisi ini membuat tidak sedikit anak di daerah terdampak bencana terancam putus sekolah atau terpaksa bekerja demi membantu perekonomian orang tua mereka. Di sisi lain, keterbatasan akses terhadap makanan bergizi dan fasilitas air bersih juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan serta gizi buruk pada anak-anak di pengungsian.

Baca juga : Pengaruh Pola Makan bagi Kesehatan Masyarakat

Selama ini, kehadiran Pemerintah dan berbagai lembaga sosial memang sangat terasa pada masa-masa awal pascabencana melalui penyaluran bantuan darurat. Tenda pengungsian, pakaian, mi instan, serta air bersih disalurkan secara masif untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek para korban. Namun, bantuan tanggap darurat tersebut memiliki keterbatasan waktu dan tidak bisa diandalkan selamanya. Saat perhatian media mulai berkurang dan para relawan secara berangsur kembali ke daerah asal, para penyintas harus berhadapan dengan kenyataan pahit tentang bagaimana cara mendapatkan penghasilan kembali demi memberi makan keluarga mereka.

Oleh karena itu, strategi penanganan bencana perlu diperluas dari sekadar pembagian sembako menuju pemulihan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan. Penanganan pascabencana harus memprioritaskan pemulihan mata pencaharian warga agar mereka dapat kembali berdiri di atas kaki sendiri. Pemerintah dan pihak terkait perlu memberikan bantuan modal usaha tunai tanpa beban agar petani dapat kembali membeli bibit dan pedagang bisa membuka usahanya. Selain itu, program pelatihan keterampilan baru serta pendampingan akses pasar sangat krusial diberikan agar roda perekonomian di tingkat desa dapat dengan cepat berputar kembali.

Baca juga : Cara Mengelola Pola Makan Sehat di Tengah Rutinitas Sibuk

Memulihkan ketahanan ekonomi keluarga yang terdampak bencana bukanlah proses singkat yang dapat diselesaikan dalam hitungan bulan. Upaya ini memerlukan komitmen dan kerja sama jangka panjang antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, serta masyarakat itu sendiri. Dengan membantu mengembalikan sumber pekerjaan dan pendapatan para penyintas secara bertahap, kita tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka hari ini, tetapi juga mengembalikan kemandirian, martabat, dan harapan masa depan yang sempat hilang terangkut bencana.

Artikel ini ditulis oleh Adelia Az zahra Lubis, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisah Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense