Sebelumnya
Pekerjaan Rumah untuk SMK
Lalu, apa yang harus dibawa pulang dari Shanghai? Tentu kita ingin anak-anak Indonesia berprestasi dan Merah Putih berdiri di panggung dunia. Tetapi WorldSkills tidak seharusnya berhenti menjadi urusan segelintir peserta terbaik yang dikirim mengikuti kompetisi internasional.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:seberapa jauh standar dunia yang terlihat di Shanghai dapat masuk ke ruang-ruang belajar SMK Indonesia?
“Ke bengkel. Ke laboratorium. KeTeaching Factory. Ke Praktik Kerja Lapangan. Ke proses asesmen dan sertifikasi serta paling penting bagaimana cara guru mengajar serta murid belajar.”
Murid SMK tidak cukup hanya diajarkan bagaimana mengerjakan sesuatu. Mereka perlu dibiasakan bertanya: Mengapa pekerjaan ini dilakukan? Masalah apa yang sedang diselesaikan? Apa yang harus dilakukan jika kondisinya berubah? Bisakah prosesnya dibuat lebih baik? Di titik inilah kita perlu berhenti mempertentangkan basic skills dengan vocational skills.
Seorang teknisi membutuhkan numerasi untuk melakukan pengukuran. Mekanik membutuhkan literasi untuk memahami manual dan prosedur. Programmer membutuhkan komunikasi untuk menerjemahkan kebutuhan pengguna.
Tenaga pelayanan membutuhkan kompetensi teknis sekaligus empati. Literasi, numerasi, berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, karakter, dan keterampilan kejuruan bukanlah pulau-pulau yang terpisah.
Baca juga : Mansur: Belum Ada Kebijakan Khusus Bagi Guru Swasta
Semuanya bertemu ketika seseorang menghadapi pekerjaan nyata. Itulah sebabnya hubungan SMK dengan industri juga tidak cukup berhenti pada penempatan PKL atau penyerapan lulusan.
Industri perlu semakin hadir dalam penyelarasan kompetensi, pembelajaran, asesmen, sertifikasi, peningkatan kompetensi guru, hingga pembangunan budaya kerja.
Sekolah harus semakin menyerupai ekosistem belajar yang mempertemukan teori dengan praktik, keterampilan dengan persoalan, serta teknologi dengan kebutuhan manusia.
WorldSkills Shanghai juga menunjukkan bahwa ekosistem keterampilan tidak hanya berbicara kepada mereka yang sudah memilih pendidikan vokasi.
Ia berusaha menyalakan rasa ingin tahu generasi yang lebih muda. Melalui kompetisi, demonstrasi,Try-a-Skill, lokakarya, dan interaksi dengan para praktisi, anak-anak diberi kesempatan melihat bahwa keterampilan dapat menjadi jalan menuju profesi, kemandirian, dan kontribusi bagi masyarakat. Oleh karena itu, standar dunia tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga perludiimbaskan.
Bahasa yang Dipahami Dunia
Ada satu pemandangan sederhana yang terus tertinggal dalam ingatan saya dari Shanghai. Anak-anak muda dari berbagai negara bekerja berdampingan. Mereka tidak selalu berbicara dalam bahasa yang sama. Namun, ketika hasil pekerjaan berada di depan mata, kualitas dapat berbicara dengan sendirinya.
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Nasib Guru Swasta Kerap Dipinggirkan
“Sambungan las yang presisi tidak membutuhkan penerjemah. Program yang berjalan baik tidak membutuhkan penerjemah. Dinding yang dibangun dengan tepat dapat dilihat kualitasnya. Pelayanan yang diberikan dengan empati dapat dirasakan oleh orang yang menerimanya.”
Skill adalah bahasa yang dipahami dunia. Bagi SMK Indonesia, tantangan kita bukan sekadar bagaimana mengirim lebih banyak peserta ke kompetisi dunia.
Tantangan yang jauh lebih besar adalah bagaimana meratakan kompetensi dan membawastandar dunia semakin dekat kepada jutaan murid SMK di Indonesia.
Bagaimana standar presisi di Shanghai hadir di bengkel sekolah kita. Bagaimana budaya keselamatan menjadi kebiasaan. Bagaimana teknologi digunakan bukan sekadar karena baru, melainkan untuk menyelesaikan masalah.
Bagaimana murid terbiasa bekerja sama, beradaptasi, berkomunikasi, dan menghasilkan pekerjaan yang kualitasnya dapat diakui siapa pun.
Sebab kita tidak sedang mempersiapkan anak-anak hanya untuk memperoleh ijazah. Kita sedang mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan untuk bekerja, beradaptasi, menciptakan nilai, bekerja bersama orang lain, dan percaya diri di tengah perubahan dunia.
Pada akhirnya, ketika meninggalkan sekolah, mereka harus membawa sesuatu yang dapat dibaca, diuji, dan dihargai di mana pun mereka berada: kompetensi.
Baca juga : Bertemu Siswa Papua, Wamen Fajar Tanamkan Semangat Persatuan dan Kepemimpinan
Hal tersebut dikarenakan dunia terus berubah, ijazah mungkin menjelaskan di mana seseorang pernah belajar. Namun, kompetensilah yang menunjukkan apa yang mampu ia kerjakan.
Ketika kompetensi itu memenuhi standar yang dipahami dunia, anak-anak Indonesia tidak hanya siap mencari tempat di masa depan.
Mereka siap ikut membentuknya.
Shanghai, September 2026
Penulis adalah Didik Suhardi, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Kemendikdasmen
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.