BREAKING NEWS
 

Ketika Hijau Menghilang: Ancaman bagi Kehidupan Manusia

Writer : IKM8 UINSU Stambuk 2026a
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 5 Oktober 2026 20:02 WIB
Ilustrasi hutan perlahan menghilang (Gambar dibuat dengan AI)

Hutan Indonesia kian terdesak. Auriga Nusantara memperkirakan, 433.751 hektare hutan hilang sepanjang 2025, tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Angka ini melonjak dari 261.575 hektare pada 2024.

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menyatakan, Pemerintah terbuka terhadap temuan itu dan menerima masukan dari berbagai pihak. Bagi masyarakat, persoalannya bukan sekadar angka. Setiap hektare yang hilang berarti berkurangnya perlindungan alam yang selama ini menopang kehidupan manusia, mulai dari udara yang dihirup hingga air yang diminum.

Efek pertama yang terasa dari banyaknya hutan yang hilang adalah udara dan suhu. Tumbuhan menyerap karbon dioksida, menyaring debu, dan menghasilkan oksigen untuk pernapasan. Saat tutupan hijau menyusut, polusi bertahan lebih lama di udara sehingga risiko gangguan pernapasan seperti asma dan ISPA ikut meningkat.

Baca juga : Krisis Air Bersih, Saatnya Kesehatan Menjadi Prioritas

Wilayah tanpa kanopi pepohonan juga terasa lebih terik, sehingga warga membutuhkan lebih banyak energi untuk mendinginkan ruangan. Anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru menjadi kelompok yang paling mudah terkena dampaknya. Beban itu akhirnya ditanggung oleh keluarga dan fasilitas kesehatan setempat.

Ancaman yang lebih besar datang dari air. Pada akhir November 2025, banjir bandang dan longsor menghantam tiga provinsi di Sumatera. BNPB melaporkan 990 korban meninggal, yakni 407 jiwa di Aceh, 343 di Sumatera Utara, dan 240 di Sumatera Barat. Sebanyak 5.400 orang luka-luka dan 220 lainnya hilang.

Menurut para pakar, hujan ekstrem hanyalah pemicu, sedangkan deforestasi di hulu daerah aliran sungai membuat tanah tak lagi mampu menyerap air. Air pun meluncur deras membawa lumpur, batu, dan kayu ke permukiman warga, merusak rumah, jalan, dan fasilitas air bersih. Setelah banjir surut, ancaman kesehatan belum berakhir. Pencemaran air, sanitasi yang rusak, dan pengungsian yang padat meningkatkan risiko diare, infeksi kulit, ISPA, dan demam.

Baca juga : Lingkungan Bersih, Kesehatan Terjaga: Mengapa Masih Sulit Dilaksanakan?

Kementerian Kesehatan juga mewaspadai kejadian luar biasa demam berdarah dengue dan leptospirosis akibat genangan sisa banjir. Bagi sektor kesehatan masyarakat, ini menjadi beban ganda: menolong korban sekaligus mencegah wabah.

Karena itu, semua pihak perlu ikut bertindak. Pemerintah perlu memperketat tata ruang dan penegakan hukum, serta memastikan proyek pembangunan tidak menyentuh hutan alam tanpa perencanaan matang. Dunia usaha wajib menjalankan praktik berkelanjutan dan terbuka soal data. Masyarakat, termasuk di Sumatera Utara, bisa berperan mulai dari hal sederhana, seperti menanam pohon di pekarangan, merawat taman lingkungan, dan mengurangi sampah. 

Langkah-langkah kecil itu tidak mengembalikan hutan yang sudah hilang, tetapi dapat menumbuhkan kebiasaan peduli yang dibutuhkan untuk menjaga sisanya. Kesadaran itu penting karena pemulihan hutan membutuhkan puluhan tahun, sementara kerusakannya bisa terjadi dalam hitungan bulan. Sebab bila hijau benar-benar menghilang, tidak ada teknologi yang sanggup menggantikannya, dan generasi mendatang akan mewarisi bumi yang lebih panas, lebih basah oleh bencana, dan lebih rapuh.

Baca juga : 196 Orang Jadi Tersangka, 96 Korporasi Diduga Terlibat

Artikel ini ditulis oleh Anggun Sri Efendi, Luthfiah Mawar M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Putri Namira, Latan Sabila Lubis, Peggi Aulia, Nabila Atika Rahma, Sri Rahma, Salsabila Siregar, Aninda Listya, dan Sitti Fhadillah Pasaribu dari IKM 8 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense