BREAKING NEWS
 

Harga Minyak Melambung, Genjot Efisiensi

Top, Pertamina Sukses Ngirit Anggaran Rp 32 Triliun

Reporter & Editor :
SRI NURGANINGSIH
Kamis, 23 Juni 2022 09:49 WIB
Foto: Dok. Pertamina

 Sebelumnya 
Kinerja operasional kilang yang moncer, tetap sejalan dengan penghematan. Ini terlihat pada proses penga daan minyak mentah dan produk dimana Pertamina menerapkan optimasi biaya pengadaan Medium Crude melalui aktivitas blending Heavy & Light Crude, Renegosiasi alpha, advance procurement, pembelian distress cargo, co-load delivery, dan extensive delivery date range, dan optimasi portofolio impor LPG (Multisource, Direct Sourcing dan Trading Swap). Meski rumit, tapi hasilnya ciamik dengan menekan biaya hingga Rp 2,8 triliun.

“Dengan menghemat energi dan bahan bakar kilang untuk penggunaan sendiri serta optimasi penggunaan listrik, anggaran Rp 403 milliar dapat diefisienkan” ujar Emma.

Lalu di lini transportasi dan logistik, Pertamina mengoptimalkan kapasitas muatan untuk meraih pendapatan dan efisiensi biaya. Optimasi biaya menuai ganjaran positif sebesar Rp 4,1 triliun dengan trik, antara lain perubahan pola suplai crude dan produk, perubahan rute dan jenis kapal, optimasi bunker, optimasi pola supply logistic serta optimasi biaya distribusi, handling dan storage dan renegosiasi tarif alur pelayaran, renegosiasi tanker charter rate, dan lain-lain.

Tak kalah membanggakan, pada belanja pengadaan dan perawatan non hydro, perseroan mampu membukukan penghematan biaya sebesar Rp 3,4 triliun dengan metode sentralisasi pengadaan, renegosiasi kontrak jangka panjang dan penurunan konsumsi barang/jasa. Lainnya, juga dilakukan penyempurnaan program pemeliharaan melalui peningkatan TKDN dan reprioritasi aktivitas pemeliharaan peralatan kilang, preventive maintenance mobil tanki dan prioritasi tank cleaning serta penyempurnaan program Docking Panel dan pengurangan durasi pelaksanaan docking.

Baca juga : Pertamina Klaim Hemat Anggaran Hingga Rp 32 T

Gerakan optimalisasi biaya juga masif untuk pengeluaran keuangan, umum dan administrasi. Sektor pendu kung ini juga berkreasi dengan penghematan Rp 2,5 triliun, lebih tinggi dari target yang ditetapkan yakni sebesar Rp 2,3 triliun.

Capaian ini diraih dari jurus opti masi beban pajak dan bunga dan opti masi biaya administrasi dan umum, diantaranya pemanfaatan media online untuk optimasi biaya travel dan training pekerja, pembatasan penggunaan jasa konsultan, relokasi gedung perkantoran dengan tarif sewa yang lebih murah serta reprioritas kegiatan promosi, seremonial dan sponsorship.

Di sisi bisnis gas, Pertamina mening katkan volume perdagangan dan transportasi gas serta volume transportasi minyak.

“Kami juga mengoptimalkan berbagai sumber pendapatan lain seperti sharing fasilitas dan sharing development agreement, khususnya di upstream subholding,” imbuh Emma.

Baca juga : Jokowi Senang, Harga Minyak Goreng Di Pasar Baros Serang Sudah Rp 14 Ribu

Emma menambahkan, kinerja positif di hilir juga didukung oleh Pemerintah melalui pengakuan kompensasi selisih Harga Jual Eceran Jenis Bahan bakar Tertentu (HJE JBT) Solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite pada tahun 2021, mencapai sekitar 4 miliar dar AS Ekv. Rp 58,6 triliun (di luar pajak) serta pembayaran atas kompensasi 2018 dan 2019 sekitar 1,7 miliar dolar AS Ekv. Rp 24,1 triliun (di luar pajak).

Dilanjutkan Emma, dukungan Pemerintah berlanjut di tahun 2022 melalui revisi kebijakan yang mene tapkan Pertalite (RON 90) sebagai Bahan Bakar Penugasan Khusus menggantikan Premium (RON88) dan penyesuaian harga Pertamax. Sebagai bentuk apresiasi terhadap dukungan tersebut, lanjut Emma, Pertamina telah diterapkan beberapa inisiatif di sektor hilir yang sekaligus merespons perubahan pasar. Seperti ekspansi transaksi digital, mempercepat pembangunan outlet Pertashop di daerah pedesaan dan mengalihkan sumber energi SPBU ke panel surya.

“Kami sangat mengapresiasi keputusan Pemerintah dan DPR yang telah menambah pagu anggaran subsidi dan kompensasi 2022 untuk menjaga dan melindungi daya beli masyarakat serta menahan potensi inflasi. Hal ini merupakan bukti dukungan terhadap Pertamina dalam penyediaan energi di tengah tantangan harga minyak mentah yang tinggi,” imbuh Emma.

Dengan dukungan tersebut, lanjut Emma, pada tahun 2022 Pertamina mengembangkan strategi utama melalui upaya mendorong produksi migas naik hingga 17 persen, menargetkan Yield Valuable Product sebesar 79,9 persen, penambahan outlet BBM sekitar 3.000 Pertashop, pengembangan pasar digital hingga 25 juta pengguna MyPertamina, dan memperbesar porsi pendapatan dari non-captive market di bisnis shipping hingga 7,5 persen.

Baca juga : Dorong UMKM Go Global, Pertamina Sukses Bawa Mitra Binaan Unggulan Ke Turki

Untuk memperkuat komitmen energi rendah karbon akan memproduksi listrik 7.138 Giga Watt Jam (GWh) dan didukung oleh peningkatan kapasitas terpasang yang ditargetkan hingga 2,9 GW.

“Di sektor keuangan, kami akan fokus optimalisasi biaya yang ditargetkan mencapai hingga 600 juta dolar AS. Kami akan terus berkomunikasi dengan Pemerintah untuk memastikan keputusan yang baik bagi perusahaan,” tandas Emma. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense