BREAKING NEWS
 

Menteri ESDM Dan Pangeran Abdulaziz Bertemu Virtual

Saudi Lirik Investasi EBT

Reporter : KINTAN PANDU JATI
Editor : FAZRY
Rabu, 9 November 2022 06:35 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif. (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Arab Saudi melirik investasi sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. Salah satunya, ingin mengembangkan industri petrokimia di kawasan industri hijau di Kalimantan Utara (Kaltara).

Hal itu terungkap usai per­temuan virtual Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dengan Menteri Energi Kerajaan Arab Saudi Pangeran Abdulaziz Bin Salman bin Abdulaziz Al Saud.

Pertemuan itu dilakukan untuk menjaga hubungan baik bilateral antara Indonesia dan Arab Saudi, khususnya di bidang energi.

Baca juga : Puan Tak Bermaksud Acak-acak KIB

Dalam pertemuan tersebut, Arifin menekankan hubungan persaudaraan antara Indonesia dengan Arab Saudi menjadi hal yang krusial bagi kedua negara.

“Kerajaan Arab Saudi, dalam bidang energi telah menjadi mitra utama kerja sama Indonesia. Saudi menjadi pemasok minyak mentah dan produk olahannya ke Indonesia,” kata Arifin di Jakarta, kemarin.

Adsense

Keduanya juga membahas tentang peningkatan kerja sama di bidang energi lain. Seperti peluang investasi petrokimia, kilang minyak, pembangkit listrik yang berasal dari EBT di Indonesia.

Baca juga : Bahlil: Ini Proses Bersejarah Dalam Kerja Sama Investasi

Pangeran Abdulaziz Bin Sal­man mengatakan, negaranya membuka peluang kerja sama dan kolaborasi seluas-luasnya.

“Arab Saudi mau bekerja sama untuk transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkat­kan kesadaran Circular Carbon Economy (CCE),” ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Koor­dinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menunjukkan minat mereka mengembangkan industri petrokimia di kawasan industri hijau di Kaltara.

Baca juga : Ke Menteri Haji Dan Umrah Saudi, Wapres Minta Tambahan Kuota

Saat ini, kata Luhut, porsi investasi China di kawasan industri hijau tersebut masih mendominasi, jika dibandingkan dengan negara mitra lain.

“China masih besar, tapi seka­rang Saudi juga minta masuk untuk di petrochemical. Tahap pertama 11 miliar dolar AS pihak China, tidak bisa lagi karena sudah jalan,” kata Luhut.

Pada tahap kedua pengembangan, Luhut mengatakan, Arab Saudi dan UEA akan masuk untuk ikut mengembangkan potensi EBT di kawasan industri hijau tersebut. [KPJ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense