Sebelumnya
“Intinya kita ingin mengatakan wisdom (kebijaksanaan) yang kedua adalah teliti sebelum membeli, kita sebelum transaksi pahami betul-betul itu merupakan kebutuhan yang kita butuhkan,” imbaunya.
Hal terakhir yang dapat dilakukan dalam memilih produk ataupun layanan jasa keuangan adalah terkait dengan legalitasnya, apakah produk ataupun layanan tersebut diawasi oleh OJK atau tidak, dan bersifat legal atau ilegal.
“Yang legal itu berizin di OJK, yang tidak legal tidak berizin dari OJK, kalau tidak berizin hampir dipastikan bisa menyesatkan," tegas Aman.
Sedangkan produk keuangan yang terdaftar di OJK, sudah tentu diawasi dan mengikuti aturan main yang harus dipatuhi sehingga konsumen akan relatif lebih aman.
Untuk itu ia mengimbau, jangan sampai kaum milenial terjerumus ke dalam lingkaran pinjol (pinjaman online) ilegal.
Aman meminta, agar dapat membedakan mana pinjol yang legal dan ilegal di tengah menjamurnya pinjol yang menyesatkan masyarakat.
Di kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teguh Dartanto mengatakan, generasi milenial dan Gen Z memang dinilai sebagai generasi paling adaptif terhadap perkembangan zaman.
Baca juga : Cegah Intoleransi, Perempuan Sangat Krusial Tentukan Pola Pikir Keluarga
Salah satunya, tren penggunaan paylater untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup seperti memesan makanan, fashion hingga agen perjalanan. Apalagi, belakangan kaum milenial dan Gen Z begitu dimanjakan dengan akses sektor finansial.
“Bayangkan saja dengan one click, mereka bisa melakukan apa saja seperti memesan makanan hingga produk fashion dengan paylater,” sebutnya.
Layanan paylater uang saat ini hadir di berbagai platform digital memberikan kemudahan. Apalagi proses pendaftarannya relatif cepat dan pengajuannya mudah.
Namun di satu sisi, penggunaan paylater yang berlebihan bisa menjadi bumerang bagi penggunanya. Bagai pisau bermata dua. Alih-alih ingin memudahkan beragam kebutuhan hidup justru bisa membelit masalah finansial.
“Kita tidak sengaja klik ini, klik itu tapi kan akhir bulan utangnya harus dibayar. Kalau tidak bisa dibayar bagaimana?” katanya.
Untuk itu, dirinya mewanti-wanti kaum muda untuk bijak dalam menggunakan layanan paylater. Jangan sampai menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari.
Pasalnya, hal tersebut bisa memberikan credit score buruk bagi pengguna yang tercatat dalam BI Checking atau kini populer dengan istilah Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Baca juga : Muslimah Ganjar Bikin Lomba Menyanyi Di Kebayoran Lama
“Kalau nama kita sudah masuk kategori buruk, tentu saja akan merugikan di masa depan seperti tidak bisa mengajukan KPR rumah dan sebagainya,” tegasnya.
Produk Investasi Aman
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Bank Mandiri Dian Ayu Yustina menyarankan, dalam mengelola keuangan, milenial dan Gen Z bisa mengalokasi dana ke produk investasi yang cocok untuk mereka saat ini.
Seperti obligasi misalnya, karena bersifat kepemilikan surat berharga yang tentunya relatif aman.
“Obligasi itu salah satu alternatif investasi yang relatif aman, kenapa? Karena dia sifatnya pendapatan tetap dia sifatnya itu kepemilikan surat berharga, surat utang yang bisa di-hold sampai jatuh tempo dapat nanti kupon ya atau bisa dijualbelikan sebelum jatuh tempo, nanti bisa dapat yang namanya capital gain,” ujarnya.
Menurut Dian, obligasi berbeda dengan investasi saham yang sangat bergantung pada fluktuasi harga saham, dimana mengikuti keadaan perekonomian Indonesia maupun global.
“Bisa jadi kalau kita invest di saham, sahamnya jelek, perusahaannya jelek, sahamnya turun begitu kita ambil, uangnya hilang sebagian merugi, tapi kalau obligasi cenderung lebih aman,” imbuhnya.
Baca juga : Malaysia Paling Rawan Kecurangan Pemilu
Salah satu jenis obligasi yang sangat diminati saat ini adalah obligasi pemerintah, karena obligasi pemerintah biasa disebut dengan safe haven asset atau aset yang relatif aman karena dimiliki langsung oleh pemerintah dan tentunya aset tersebut dapat terjaga dengan baik.
Senada, Senior Analyst Panin Sekuritas Aqil Triyadi membeberkan ada sejumlah kesalahan dalam mengelola keuangan yang acapkali dilakukan oleh generasi muda.
Kesalahan-kesalahan ini yang pada akhirnya membuat kondisi keuangan di waktu mendatang menjadi lebih sukar. Salah satunya terkait dengan menabung.
Ia mengatakan, generasi muda juga hendaknya memiliki lebih dari satu rekening tabungan untuk memudahkan pengelolaan keuangan melalui pemisahan fungsi antara rekening yang satu dan lainnya.
Menurut Chairman Infobank Media Group Eko B Supriyanto, saat ini generasi milenial sudah banyak yang masuk datanya di SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) dan kena blacklist, karena korban daripada pinjol, sehingga ke depannya, para milenial tersebut tidak lagi bisa mendapatkan kredit dari bank akibat terkena blacklist.
Situasi ini, lanjutnya, terjadi bukan karena kesengajaan dari anak-anak muda itu, namun akibat ketidaktahuan bahwa meminjam dari pinjol yang ilegal itu memiliki risiko besar untuk jangka panjang.
“Pinjamlah untuk produktivitas, bukan untuk konsumtif. Apalagi, untuk konser. Itu berbahaya. Anak-anak muda ini akan menjadi malapetaka di tahun 2045 kalau tidak dibereskan dan akan bertambah terus," tegas Eko.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.