RM.id Rakyat Merdeka - Sinergi antara PT Pos Indonesia (Persero) dan TikTok menghadirkan Creator House dinilai efektif untuk mendorong kemajuan bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan industri. Sebab, fasilitas itu dapat membuat pelaku usaha lebih atraktif memasarkan produknya.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, TikTok, dengan ekosistem media sosialnya akan memberikan dampak positif jika bisa bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk di antaranya Pos Indonesia.
“Pengguna TikTok adalah salah satu yang terbesar, bisa menjadi pasar yang atraktif bagi UMKM,” yakin Nailul kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Namun, sambung Nailul, untuk menangkap peluang pasar tersebut diperlukan dukungan dari Pemerintah. Ini agar bisa lebih akseleratif dalam membantu usaha wong cilik beradaptasi secara digital.
Karenanya, ia memandang positif upaya Kementerian BUMN yang terus berupaya mengoptimalkan aset-aset. Di antaranya berupa gedung milik perusahaan pelat merah agar tetap produktif dan memberi nilai tambah. Khususnya bagi para content creator dan UMKM.
Baca juga : Tolong, Kekerasan Ke Anak Dan Perempuan Masih Marak
Ia menilai, langkah yang bagus apabila TikTok bisa membuka layanan e-commerce-nya. Apalagi jika bisa mensinkronkan layanan e-commerce dengan social media TikTok. Dengan catatan, tidak melanggar ketentuan apapun.
“Bagi UMKM, dengan semakin banyak channel penjualan, akan semakin bagus,” katanya.
Menurut Nailul, pemanfaatan digitalisasi saat ini penting bagi pelaku UMKM dalam meningkatkan transaksinya.
Bila mengacu pada laporan pada 2021, Google, Temasek, dan Bein memproyeksikan, ekonomi digital Indonesia mencapai 146 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau setara Rp (2.361 triliun) pada 2025.
Sayangnya pada laporan tahun lalu, ekonomi digital Indonesia diramal turun menjadi 109 miliar dolar AS (Rp 1.763 triliun).
Baca juga : Tiga Singa Siapkan Jurus Ampuh Dan Jitu
Hal ini turut berdampak pada penurunan investasi yang masuk ke Indonesia di sektor digital. Yakni dari nilai Rp 140 triliun pada 2021 menjadi hanya Rp 30 triliun pada 2023.
Itu artinya, imbuh Nailul, proyeksi ini membuat ekspektasi investor masuk ke sektor digital di Tanah Air, merosot.
“Pemerintah harus punya strategi jitu untuk menarik investor masuk,” katanya.
Terpisah, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta, para investor asing, termasuk TikTok, untuk meningkatkan investasi di Indonesia.
Ia menekankan, Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang sangat besar. Mengingat posisi ekonomi Indonesia tidak hanya menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga akan menjadi yang terbesar di dunia.
Baca juga : Los Rojiblancos Buru Alvarez
Erick menyerukan, agar TikTok harus berani investasi lebih besar dari negara lain. Ia pun minta pesannya disampaikan kepada para petinggi TikTok, agar jangan menjadi stranger (orang asing) di Indonesia.
“Karena fakta ekonominya jauh lebih besar dari (negara) yang lain. Kalau yang lain dikasih satu, Indonesia mesti dikasih empat,” seru Erick dalam acara bertajuk ‘TikTok I Pos Aja! Creator House’, di kawasan Kota Tua, Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.