BREAKING NEWS
 

Indef: Laporan KADI Soal BMAD Ubin Keramik China Tidak Representatif

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Selasa, 23 Juli 2024 18:09 WIB
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho mengungkapkan beberapa kesalahan yang diduga dilakukan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) dalam Laporan Akhir Hasil Penyelidikan terkait Bea Masuk Anti dumping (BMAD) ubin keramik porselen asal China.

Pertama, Indef menilai pengajuan permohonan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) oleh Asosiasi Aneka Industri Industri Keramik Indonesia (ASAKI) dianggap tidak representatif dan lemah karena hanya merepresentasikan 26 persen dari total produksi ubin keramik dalam negeri.

Hal tersebut, kata Andry, bertentangan dengan perjanjian Anti Dumping WTO yang mensyaratkan adanya major proportion dari total produksi domestik untuk pengajuan tersebut.

“Kalau dilihat dari sisi peraturan WTO sendiri jangan lupa, kita tahu bahwa harus ada terjadi major injury dan pemohon harus merepresentasikan keseluruhan pemain yang ada di lokal,” ujar Andry, Selasa (23/7/2024).

Menurutnya, angka 26 persen ini belum bisa merepresentasikan keseluruhan industri dalam negeri (IDN).

“Hasil penyelidikan KADI dengan dasar 26 persen ini tentu sangat lemah untuk memberi gambaran bahwa IDN itu sedang turun kinerjanya. Apalagi hasil KADI tidak menunjukkan adanya injury dalam industri keramik khususnya untuk porselen di dalam negeri,” tuturnya.

Kedua, kata Andry, hasil penyelidikan KADI menerangkan bahwa terdapat 6 perusahan ubin keramik Industri Dalam Negeri (IDN) telah dinyatakan tutup karena banjirnya impor ubin keramik dari China.

Baca juga : Indef Tantang KADI Buktikan Kredibilitas Data

Indef menilai, rekomendasi KADI itu sesat, bak buruk muka cermin dibelah. Justru Indef melihat fakta bahwa 6 perusahaan ubin keramik IDN yang tutup tersebut tidak terpengaruh impor keramik dari China.

Melainkan, karena faktor tidak mampu survive di tengah persaingan dagang yang tidak sehat yang terjadi di antara para produsen dalam negeri sendiri.

Untuk kasus perusahaan yang bangkrut dan tutup perlu dilihat lagi karena beberapa data menunjukkan itu terjadi di tahun 2014, 2015 dan juga di tahun 2017 dan 2018.

“Jadi jangan sampai hasil rekomendasi KADI hari ini, itu berpatokan pada kejadian-kejadian yang ada di masa lampau,” bebernya.

Andry menambahkan, untuk kasus sejumlah industri keramik dalam negeri tumbang itu diduga penyebabnya over produksi keramik body merah yang kurang diminati konsumen.

Adsense

Sedangkan konsumen lebih memilih keramik body putih hasil impor dari China.

Andry mengungkapkan, selain over supply, industri dalam negeri juga terlibat 'price war' atau perang harga sehingga mereka yang tidak sanggup bertahan mengalami kerugian.

Baca juga : Indef Minta Wacana BMAD Keramik Dikaji Lagi, Ini Alasannya

“Saya melihat bahwa ini yang banyak tutup adalah yang memproduksi keramik body merah. Ini over supply dan sudah terjadi price war di dalam negeri. Ketidakmampuan dari perusahaan-perusahaan ini untuk price war terutama ini yang menyebabkan mereka mengalami kebangkrutan,” tambahnya.

Fakta ketiga, lanjut Andry, para pemohon pengajuan BMAD terhadap produk keramik asal Tiongkok dengan alasan melindungi industri dalam negeri kurang tepat.

Pasalnya, dari data KADI sendiri menunjukkan tidak ada tanda-tanda penurunan atau pelemahan industri dalam negeri.

“Dari segi kapasitas produksi saja itu ada peningkatan, permintaan di dalam negeri baik itu dari sisi pemohon dan bukan itu juga ada peningkatan, meskipun kalau kita lihat dari sisi pemohon sendiri peningkatan ini masih lebih kecil daripada yang perusahaan lain di dalam negeri,” urainya.

“Tetapi secara keseluruhan tidak ada penurunan dari permintaan juga dari sisi volume penjualan juga terus meningkat dari sisi peningkatan tenaga kerja juga ada di sana hampir tidak ada tanda-tanda dari pelemahan industri di dalam negeri,” tegasnya.

Fakta keempat, Andry mengaku heran antara proses penyelidikan serta analisis dan hasil rekomendasi KADI tidak sinkron, pengenaan BMAD dinilai sangat berlebihan karena hasil penyelidikan KADI sendiri tidak menunjukkan angka yang negatif.

“Jadi hal ini juga jadi salah satu kelemahan juga dari hasil KADI tersebut karena hasil analisisnya menunjukkan angka-angka yang cukup positif tetapi rekomendasinya justru mengenakan BMAD yang cukup excessive artinya dari hasil analisis dan hasil rekomendasi itu tidak nyambung begitu,” jelasnya.

Baca juga : PDIP Berusaha Tenang

Lebih jauh, Andry memaparkan, komparasi yang dilakukan oleh KADI tidak apple to apple atau tidak sebanding antara produk satu dengan produk lainnya.

KADI melakukan generalisir terhadap produk impor yang datanya berasal dari Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) saja, tidak melakukan kajian secara detail dan mendalam menggunakan data primer.

“Apalagi kita tahu bahwa praktik yang dilakukan KADI itu tidak melakukan komparasi berdasarkan produk spesifik, jadi KADI hanya merata-ratakan dan berpaku kepada hasil atau angka dari DJBC yang menurut saya justru ini salah kaprah,” ungkapnya.

Harusnya, kata dia, KADI melakukan komparasi yang apple to apple antara satu produk yang sama baik itu dari sisi harga di luar harga ekspor dan juga harga di dalam negeri.

“Ini perlu dikomparasi. Apalagi kalau kita melihat terkait dengan keramik ini kan cukup banyak sekali variannya dan tipenya nah ini jangan disamakan semua begitu,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense