BREAKING NEWS
 

E-commerce Kompak Kerek Biaya Layanan

Pelaku UMKM Cemas Pendapatan Merosot

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Senin, 2 September 2024 07:05 WIB
Ilustrasi e-commerce. Foto: Indonesia

RM.id  Rakyat Merdeka - Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) khawatir pendapatan mereka merosot akibat naiknya biaya layanan di beberapa e-commerce. Sebab, kenaikan layanan tersebut diperkiraan akan berdampak pada minat belanja customer.

Biaya layanan merupakan bi­aya yang dikenakan pada setiap pesanan yang diselesaikan, ber­dasarkan persentase yang ber­beda untuk setiap sub-kategori produk terjual.

Pengamat ICT (Information and Communication Tech­nology) Institute Heru Sutadi berpendapat, sah-sah saja jika e-commerce mengerek biaya layanan e-commerce.

“Namun kenaikan ini diharapkan tidak membebani seller maupun pembeli,” kata Heru kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca juga : UMKM Buka Jutaan Lapangan Kerja Baru

Diungkapkannya, banyak fak­tor yang membuat e-commerce menaikkan biaya layanan. Di antaranya, ada potensi keuntungan yang lebih tinggi dari suatu proses transaksi.

Pendorong lainnya, lanjut Heru, mungkin selama ini bi­aya layanan masih di bawah cost e-commerce.

“Bisa juga karena terlalu banyak promo yang diberikan, se­hingga mereka ingin mendapat­kan keuntungan lebih,” jelasnya.

Apapun alasannya, Heru menegaskan, kenaikan biaya layanan harus tetap memperhatikan keseimbangan pendapatan atau keuntungan antara seller dengan platform. Jangan sampai keun­tungannya lebih berat ke plat­form, karena seller sudah men­jadi bagian dari aset platform tersebut.

Baca juga : Telan Banyak Korban, Ranjau Paku Teror Para Pengendara

“Jangan sampai juga harga yang dibebankan ke pembeli jadi lebih mahal,” imbaunya.

Heru berharap, kenaikan biaya layanan tidak signifikan dan tidak membebani konsumen. Sebaiknya, kenaikan tersebut berdasarkan harga produk yang dijual oleh pedagang online dan dipastikan tidak mengurangi trafik transaksi.

Heru berpendapat, prospek pasar e-commerce masih baik pada 2024. Ekonomi digital di Indonesia ditargetkan mencapai 135 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 2.091,1 triliun hingga 2025. Sementara pada 2023 baru mencapai sekitar 82 miliar dolar AS (Rp 1.270,1 triliun).

Terpisah, Sekretaris Jender­al Asosiasi UMKM Indone­sia (Akumindo) Edy Misero mengimbau para pelaku usaha, untuk fokus menggenjot penjualan demi meminimalisir dam­pak dari kenaikan biaya layanan e-commerce.

Baca juga : Blaugrana Kokoh Di Kursi Puncak

“Keputusan tersebut men­imbulkan kekhawatiran bagi pelaku UMKM, karena kenaikan biaya layanan ini dapat berdam­pak pada keuntungan mereka,” aku Edy kepada Rakyat Merde­ka, kemarin.

Adsense

Namun begitu, Edy menyarankan UMKM untuk tidak latah menaikkan harga produk mereka. Dia lebih cenderung meminta pelaku usaha lebih getol berjualan di e-commerce.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense