BREAKING NEWS
 

Terapkan Cofiring, PLTU Jeranjang Kerek Ekonomi Warga Lombok Dan Jaga Lingkungan

Reporter & Editor :
FAZRY
Jumat, 6 September 2024 23:16 WIB
Kepala Dinas ESDM Provinsi NTB Sahdan (tengah), Manager Unit PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Jeranjang Yunisetya Ariwibawa (kiri) dan koordinator masyarakat penyedia biomassa sawdust Mansyur (kanan), melihat penyediaan biomassa untuk energi primer di PLTU Jeranjang. (PLN IP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya PLN Indonesia Power (PLN IP) menjalankan program cofiring di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang menghasilkan manfaat ganda.

Selain sebagai green booster transisi energi Tanah Air, program ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik dari sisi finansial maupun sosialnya.

Hal ini selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG's).

Kepala Dinas ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Sahdan menyebutkan, selain menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan sosial.

Baca juga : Tekan Emisi, PLTU Jeranjang Manfaatkan Beragam Biomassa

Penerapan program cofiring menggunakan biomassa berbahan baku sawdust, juga sejalan dengan program pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan mendukung target Net Zero Emission 2050 di Wilayah NTB.

"Program cofiring ini ada kaitan dengan pengembangan EBT. Green energi betul-betul kita perjuangkan, agar apa yang menjadi cikal bakal masyarakat ini musti kita capai di tahun 2050 untuk NTB," tutur Sahdan.

Pihaknya menyebutkan bahwa pemanfaatan biomassa pada PLTU Jeranjang juga dapat mendukung sektor pariwisata, dengan menghadirkan green energy yang minim emisi.

Sehingga diharapkan dapat meningkatkan wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata NTB, khususnya Lombok.

Baca juga : Kerja Sama Iklim RI-Jepang, Menteri Siti: Dukung Kelestarian Lingkungan

"Kita ketahui cofiring banyak manfaatnya. Selain sebagai green energy untuk mendukung transisi energi, program itu membawa manfaat bagi masyarakat," tutup Sahdan.

Direktur Utama PLN Indonesia Power Edwin Nugraha Putra mengatakan, biomassa sawdust menjadi salah satu pilihan untuk dijadikan energi primer menggantikan peran batu bara.

Aksi ini merupakan bentuk komitmen PLN grup dalam upaya transisi energi di Tanah Air serta mendukung percepatan menuju Net Zero Emision tahun 2060.

Cofiring Biomass juga merupakan salah satu green booster dalam program akselerasi peningkatan bauran energi terbarukan Tanah Air.

Adsense

Baca juga : Pelindo Meriahkan HUT Ke-79 RI Dengan Program Sosial Dan Lingkungan  

"Penggunaan biomassa pada unit bisnis pembangkitan khususnya PLTU ini berdampak pada penurunan emisi yang berasal dari sektor kelistrikan, hal ini merupakan dukungan PLN IP sebagai Subholding PLN kepada Pemerintah untuk mencapai Net Zero Emision pada tahun 2060," kata Edwin.

Sementara itu, Manager Unit PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Jeranjang Yunisetya Ariwibawa mengatakan, PLTU Jeranjang telah memanfaatkan beragam limbah untuk dijadikan bahan baku biomassa yang dimanfaatkan sebagai energi primer untuk mengurangi peran batu bara.

Adapun limbah tersebut mulai dari hasil olahan sampah (solid recovered fuel/SRF), serbuk kayu atau sawdust, woodchip dan Limbah Racik Uang Kertas (LURK).

"Untuk PLTU Jeranjang kami menggunakan biomassa dari SRF, kemudian Sawdust dan woodchip, terakhir ada LURK. Secara akumulatif, total konsumsi biomassa PLTU Jeranjang sepanjang 2024 hingga Agustus ini mencapai 15.796 ton," kata Ariwibawa.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense