RM.id Rakyat Merdeka - Bau uang baru mulai tercium ketika rombongan jurnalis naik ke lantai dua pabrik percetakan uang kertas milik Perum Peruri di Karawang, Jawa Barat. Menelusuri lorong yang dipandu oleh seorang guide, rombongan melihat proses pencetakan uang kertas yang selama ini beredar di masyarakat.
Bank Indonesia (BI) mengajak Redaktur Pelaksana dari 20 media nasional berkunjung ke pabrik percetakan uang milik Peruri yang letaknya di Desa Parung Mulya, Ciampel, Karawang, Jawa Barat, Rabu (11/9/2024). Pabrik ini terletak di kawasan industri seluas 202 hektare. Rakyat Merdeka pun ikut dalam rombongan jurnalis tersebut.
Tidak mudah memang masuk ke kawasan pabrik tersebut. Rombongan tidak diperkenankan membawa barang-barang. Tas, handpone, kamera, dompet, uang, jaket, harus ditinggal di bus atau ditaruh di loker yang sudah mereka siapkan. Pengawasannya ketat, tentu saja demi keamanan.
Jika semua sudah clear, rombongan baru boleh masuk ke lantai satu gedung percetakan uang. Di sini kita dapat melihat berbagai macam uang kertas yang beredar di Indonesia, dari dulu hingga sekarang. Mereka memajang specimen uang-uang itu di dalam kaca.
Baca juga : Industri Petrokimia Di Cilegon Siap Produksi
Dari lantai satu, rombongan menuju ke lantai dua. Di sinilah kita dapat melihat melalui kaca, kerja-kerja mesin pencetak uang. Mesin-mesin canggih itu otomatis bekerja sendiri. Tidak ada pekerja yang menunggui. Kita baru lihat ada beberapa pekerja di bagian pengecekan uang secara manual.
Para pekerja yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu nampak serius melakukan pengecekan. Lembaran demi lembaran uang yang sudah dicetak dan diberikan nomor seri, dicek kembali sebelum dipotong.
Direktur Currency & Security Solution Perum Peruri Saiful Bahri mengatakan, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam pembuatan uang.
“Untuk menjadi selembar uang memang cukup lama, 25 hari dan ada dramanya, karena pencetakan uang tidak hanya mengedepankan desain, juga security-nya. Ini yang membuat lama,” kata Saiful.
Baca juga : Jalan Rusak Dan Parkir Liar Paling Dikeluhkan Warga
Produksi uang kertas dimulai dengan pembuatan desain oleh BI. Selanjutnya, pencetakan di dua sisi kertas di lembaran kertas besar, yang disempurnakan dengan cetakan dalam atau intaglio printing.
Saiful mengaku, proses pemberian tinta saja memakan waktu lama, karena harus menunggu tinta kering sebelum menuju proses berikutnya. Tinta ini mengandung elemen khusus, seperti tinta yang berubah warna atau partikel metalik yang sulit ditiru.
Proses dilanjutkan dengan penyimpanan lembaran uang dan pengecekan menggunakan mesin. Dalam proses ini akan diketahui uang yang layak edar dan tidak.
Lembaran uang yang tintanya tidak merata atau kertasnya berlipat, disebut tidak layak edar.
Baca juga : Southampton Vs Manchester United, Jabatan Ten Hag Jadi Taruhan
Nah, tahap berikutnya, penomoran seri dan pengecekan ulang secara manual. Beres ini, uang dalam bentuk lembaran itu kemudian dipotong, lalu disusun dan dikemas untuk diserahkan ke BI.
Proses belum selesai sampai di sini. Pengecekan sekali lagi dilakukan. Uang yang tidak layak edar akan dihancurkan. BI akan menerima uang yang layak edar maupun yang tidak layak edar.
“Makin tinggi level security-nya, makin sulit dipalsukan dan makin lama pencetakannya,” kata Saiful.
Asisten Gubernur Departemen Pengelolaan Uang BI Marlison Hakim, yang mendampingi jurnalis mengatakan, percetakan uang di Peruri masuk sebagai lima besar percetakan yang ada di dunia. Pasalnya, penduduk Indonesia banyak dan sebagai pengguna uang kapital terbesar.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.