RM.id Rakyat Merdeka - Pelibatan masyarakat, khususnya kelompok rentan, menjadi kunci dalam transisi energi yang berkeadilan. Untuk mencapai hal ini, penting mengedukasi masyarakat dengan cara yang tepat, misalnya melalui kisah inspiratif dan aksi kolektif untuk menurunkan emisi.
Direktur Ketenagalistrikan, Telekomunikasi, dan Informatika di Kementerian PPN/Bappenas, Taufiq Hidayat Putra mengatakan, komunikasi politik yang baik diperlukan untuk memastikan kebijakan transisi energi dapat dipahami seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, rekomendasi dari diskusi Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2024 akan memberikan masukan penting dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. "Terutama terkait peningkatan konektivitas dan transisi energi listrik," ujarnya.
Direktur Ketenagalistrikan, Telekomunikasi dan Informatika, Kementerian PPN/Bappenas, Taufiq Hidayat Putra memberikan kalimat penutup pada ISEW 2024. (Foto: Ist)
Baca juga : Infrastruktur Tangguh Berperan Penting Pada Sektor Manajemen Kebencanaan
Manajer Proyek CASE dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Agus Tampubolon menekankan, kekuatan cerita inspiratif tentang aksi iklim dan transisi energi. Kisah-kisah semacam ini bisa menyatukan tujuan dan memotivasi tindakan bersama untuk membentuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
Menurut dia, setiap individu berperan sebagai penjaga bumi dan aksi-aksi kecil yang dilakukan bersama, seperti menanam pohon dan bersepeda ke sekolah, bisa memberikan dampak signifikan dalam penurunan emisi. Menurutnya, tanggung jawab setiap orang sangat penting dalam mengurangi cengkraman emisi yang memicu krisis iklim global.
Pendiri Buibu Baca Buku, Puty Puar menyuarakan, pentingnya pelibatan ibu-ibu dalam agenda transisi energi. Menurutnya, meskipun ibu-ibu adalah kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim, suara mereka sering kali tidak terdengar.
Baca juga : Hari ini Terbang Ke Singapura, Paus Fransiskus Naik Aero Dili
Ia mencontohkan bagaimana dampak langsung dari krisis energi, seperti pemadaman listrik, lebih terasa oleh kalangan ibu-ibu yang pekerjaan rumah tangganya terganggu. Ketika polusi udara meningkat, mereka juga yang harus lebih sering ke rumah sakit. Puty mengajak, agar suara ibu-ibu lebih didengarkan dalam proses pengambilan keputusan di bidang energi.
Kepala Desa Tampir Wetan di Magelang, Jawa Tengah, Wahyu Hantoro berbagi pengalamannya dalam mengajak masyarakat memanfaatkan energi terbarukan. Desanya memiliki potensi air yang besar, tetapi dua pertiga lahan pertanian mengalami kekeringan. Ia memprakarsai, penggunaan pompa air bertenaga surya untuk mengatasi masalah ini.
Awalnya, kata dia, banyak warga ragu menggunakan energi surya, tapi melalui komunikasi dan diskusi rutin, mereka mulai menerima dan mendukung penggunaan energi terbarukan. Hasilnya, kini lebih dari 170 pelanggan memanfaatkan pompa air bertenaga surya, dan lahan pertanian dapat diolah sepanjang tahun tanpa terpengaruh musim.
Baca juga : Jadi Negara Maju, RI Perlu Percepat Transisi Energi
ISEW 2024 menjadi bagian dari 30 tahun kerja sama antara Indonesia dan Jerman dalam sektor energi. Kerja sama ini mencakup dukungan teknis dan finansial untuk pengembangan proyek energi terbarukan di Indonesia.
Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian ESDM, dengan dukungan dari GIZ Indonesia/ASEAN dan IESR, di bawah kerangka kerja sama Indonesia-Jerman. Kerja sama ini bertujuan mempercepat transisi menuju energi bersih yang terjangkau dan aman, serta mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di masa depan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.