Sebelumnya
Dengan begitu, ketika terjadi gejolak pasar di waktu mendatang, maka PTPN sudah mampu memenuhi 40 persen kebutuhan pasar minyak goreng. Khususnya untuk kelompok masyarakat menengah ke bawah.
“Jadi, negara hadir ketika suatu saat ada kelangkaan minyak goreng,” katanya.
Sementara untuk komoditas kopi dan teh, akan dikembangkan untuk meningkatkan ekspor.
Di kesempatan yang sama, Direktur Transformasi Bisnis Pupuk Indonesia Panji W. Ruky menekankan, swasembada pangan juga erat kaitannya dengan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi para petani.
“Kami fokus pada ketahanan pangan melalui dua hal utama, yaitu memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk,” ujar Panji.
Baca juga : Bakal Join CPTPP, Airlangga Gercep Lobi Negara Anggota
Karenanya, subsidi pupuk sangat penting bagi petani, terutama pada komoditas tanaman pangan seperti padi, jagung dan tebu.
Ia melanjutkan, tanpa subsidi, biaya pupuk bisa mencapai 23 persen dari total biaya produksi. Namun dengan adanya subsidi, biaya tersebut bisa ditekan hingga 9 persen.
Selain itu, pengurangan subsidi atau kenaikan harga pupuk juga berdampak pada pengurangan volume penggunaan pupuk, yang pada akhirnya menurunkan produktivitas tanaman pangan hingga 0,5 ton per hektar.
“Penurunan produktivitas ini bisa berdampak pada ketergantungan impor beras,” katanya.
Saat ini Pupuk Indonesia telah menyediakan 9,5 juta ton pupuk subsidi, baik urea maupun NPK (Nitrogen, Phosphat dan Kalium), yang sangat penting untuk mendukung produktivitas petani.
Baca juga : IPA Buaran III Siap Pasok Air Ke 300 Ribu Keluarga
Perseroan juga akan menghadirkan varian pupuk baru yang komponen atau kandungannya disesuaikan kebutuhan petani.
“Seperti pupuk yang survival-nya tinggi dalam menghadapi perubahan iklim,” katanya.
Terpisah, Sekretaris Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Dwi Purnomo Putranto menyampaikan, Indonesia masih memiliki potensi peningkatan produksi, seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan gula dalam negeri.
Namun untuk mencapai itu, kata Dwi, masih ada banyak tantangan, mulai dari bibit, pupuk dan lainnya.
“Makanya, tanaman tebu juga harus bisa kompetitif dibanding komoditas lainnya agar masyarakat mau menanam tebu,” katanya singkat kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca juga : AS Roma Vs Athletic Bilbao, Uji Nyali Pelatih Baru
Ia mengingatkan, rendemen (kadar gula dalam batang tebu) menjadi faktor penentu dalam mendapatkan bahan baku. Karenanya, kondisi iklim juga harus menjadi perhatian khusus guna menghadapi musim tanam selanjutnya.
Meski demikian, upaya mewujudkan swasembada gula harus terus didorong agar Indonesia tidak lagi ketergantungan impor gula.
“Perlu ada perbaikan, baik itu dari sisi on farm maupun off farm,” pungkasnya. IMA
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Kamis, 26 September 2024 dengan judul "Patok Produktivitas Petani Tebu 8 Ton Per Hektar, Dirut PTPN Kejar Target Swasembada Gula 2028"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.