Dark/Light Mode

Patok Produktivitas Petani Tebu 8 Ton Per Hektar

Dirut PTPN Kejar Target Swasembada Gula 2028

Kamis, 26 September 2024 07:05 WIB
Direktur Utama PTPN III, M. Abdul Ghani dan  Direktur Transformasi Bisnis Pupuk Indonesia, Panji W Ruky.
Direktur Utama PTPN III, M. Abdul Ghani dan Direktur Transformasi Bisnis Pupuk Indonesia, Panji W Ruky.

 Sebelumnya 
Dengan begitu, ketika ter­jadi gejolak pasar di waktu mendatang, maka PTPN sudah mampu memenuhi 40 persen kebutuhan pasar minyak goreng. Khususnya untuk kelompok masyarakat menengah ke bawah.

“Jadi, negara hadir ketika suatu saat ada kelangkaan minyak goreng,” katanya.

Sementara untuk komoditas kopi dan teh, akan dikembang­kan untuk meningkatkan ekspor.

Di kesempatan yang sama, Direktur Transformasi Bisnis Pupuk Indonesia Panji W. Ruky menekankan, swasembada pangan juga erat kaitannya dengan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi para petani.

“Kami fokus pada ketahanan pangan melalui dua hal utama, yaitu memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk,” ujar Panji.

Baca juga : Bakal Join CPTPP, Airlangga Gercep Lobi Negara Anggota

Karenanya, subsidi pupuk sangat penting bagi petani, terutama pada komoditas tanaman pangan seperti padi, jagung dan tebu.

Ia melanjutkan, tanpa subsidi, biaya pupuk bisa mencapai 23 persen dari total biaya produksi. Namun dengan adanya sub­sidi, biaya tersebut bisa ditekan hingga 9 persen.

Selain itu, pengurangan sub­sidi atau kenaikan harga pupuk juga berdampak pada pengurangan volume penggunaan pupuk, yang pada akhirnya menurunkan produktivitas tanaman pangan hingga 0,5 ton per hektar.

“Penurunan produktivitas ini bisa berdampak pada ketergan­tungan impor beras,” katanya.

Saat ini Pupuk Indonesia telah menyediakan 9,5 juta ton pupuk subsidi, baik urea maupun NPK (Nitrogen, Phosphat dan Ka­lium), yang sangat penting untuk mendukung produktivitas petani.

Baca juga : IPA Buaran III Siap Pasok Air Ke 300 Ribu Keluarga

Perseroan juga akan menghadirkan varian pupuk baru yang komponen atau kandungannya disesuaikan kebutuhan petani.

“Seperti pupuk yang survival-nya tinggi dalam menghadapi perubahan iklim,” katanya.

Terpisah, Sekretaris Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Dwi Purnomo Putranto menyam­paikan, Indonesia masih memiliki potensi peningkatan produksi, seiring dengan terus meningkat­nya kebutuhan gula dalam negeri.

Namun untuk mencapai itu, kata Dwi, masih ada banyak tan­tangan, mulai dari bibit, pupuk dan lainnya.

“Makanya, tanaman tebu juga harus bisa kompetitif dibanding komoditas lainnya agar ma­syarakat mau menanam tebu,” katanya singkat kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca juga : AS Roma Vs Athletic Bilbao, Uji Nyali Pelatih Baru

Ia mengingatkan, rendemen (kadar gula dalam batang tebu) menjadi faktor penentu dalam mendapatkan bahan baku. Kare­nanya, kondisi iklim juga harus menjadi perhatian khusus guna menghadapi musim tanam se­lanjutnya.

Meski demikian, upaya mewujudkan swasembada gula ha­rus terus didorong agar Indo­nesia tidak lagi ketergantungan impor gula.

“Perlu ada perbaikan, baik itu dari sisi on farm maupun off farm,” pungkasnya. IMA

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Kamis, 26 September 2024 dengan judul "Patok Produktivitas Petani Tebu 8 Ton Per Hektar, Dirut PTPN Kejar Target Swasembada Gula 2028"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.