RM.id Rakyat Merdeka - Transisi dari energi fosil ke energi baru terbarukan tak bisa dilakukan secara instan. Butuh waktu dan persiapan yang matang. Di sinilah Pertamina New & Renewable Energy atau Pertamina NRE berperan sebagai ujung tombak dalam transisi energi nasional. Perusahaan bungsu Pertamina ini memiliki dua peran strategis. Yaitu, mendukung Pemerintah mencapai target dekarbonisasi, sekaligus membangun fondasi bisnis energi masa depan.
Pertamina NRE resmi berdiri pada tahun 2021. Perusahaan didirikan seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih. Meski terbilang baru, perusahaan ini telah membangun portofolio yang kuat dan terus bertambah. Perusahaan misalnya telah mengembangkan proyek gas to power, panas bumi (geothermal), dan hidrogen. Perusahaan juga mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan biomassa. Selain itu, Pertamina NRE juga terlibat dalam bisnis baterai, perdagangan karbon, dan produksi bioetanol.
Salah satu pencapaian terbesar Pertamina NRE adalah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Jawa-1 di Karawang, Jawa Barat. Pembangkit ini memiliki berbagai keunggulan. Salah satunya adalah penggunaan teknologi canggih gas-to-power yang dilengkapi Floating Storage and Regasification Units (FSRU).
Teknologi ini terbilang baru di Indonesia. Prosesnya sederhana: gas alam cair (LNG) diambil menggunakan kapal khusus dari lapangan gas di Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat. Setelah itu, LNG disimpan di fasilitas Floating Storage dan diubah kembali menjadi bentuk gas (diregasifikasi) oleh sistem FSRU. Proses regasifikasi ini memungkinkan gas tersebut digunakan sebagai bahan bakar. Gas yang sudah diregasifikasi kemudian dialirkan ke pembangkit untuk menggerakkan turbin, yang menghasilkan energi listrik.
PLTGU Jawa-1 memiliki dua unit pembangkit. Masing-masing berkapasitas 880 megawatt (MW), sehingga total kapasitasnya mencapai 1.760 MW. Pembangkit ini mulai beroperasi penuh pada Maret 2024.
CEO Pertamina NRE John Anis mengatakan, keseluruhan proyek ini dibangun oleh tenaga kerja Indonesia dengan dukungan dari perusahaan Jepang, Marubeni dan Sojitz. Meski demikian, John Anis memastikan Pertamina yang memimpin seluruh proses pembangunan. Mulai dari desain, implementasi, konstruksi, hingga tahap awal operasi (startup). Saat ini, posisi direktur utama dan direktur operasional pun diisi oleh perwakilan dari Pertamina. Sehingga memungkinkan pengawasan dan kontrol proyek ini tetap optimal.
“Ini salah satu proyek kebanggaan kami. Karena menjadi pembangkit gas terintegrasi terbesar di Asia Tenggara dan mengurangi emisi karbon. Mudah-mudahan Presiden yang baru (Prabowo Subianto), berkenan meresmikan proyek strategis ini sebagai modal untuk masa depan,” kata John dalam wawancara dengan Rakyat Merdeka, di kantornya, Grha Pertamina, Jakarta, Senin (14/10/2024).
Baca juga : Prabowo-Gibran Diminta Pilih Kepala Bapanas yang Profesional dan Mumpuni
John Anis menambahkan, keunggulan lain dari PLTGU Jawa-1 adalah penggunaan teknologi power generation dengan sistem single shaft. Teknologi ini memungkinkan pembangkit cadangan segera beroperasi jika salah satu unit mati. Sehingga waktu tunggu bisa diminimalisasi.
Selain itu, pembangkit ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon hingga 3,3 juta ton CO2 per tahun. Dengan pencapaian ini, Pertamina NRE berpotensi mendapatkan kredit karbon setiap tahunnya.
“Saat ini, kami sedang memproses ini menjadi sertifikat karbon yang nantinya dapat dijual sebagai karbon kredit,” ungkapnya.
Menurut John Anis, gas adalah solusi transisi energi yang ideal. Gas memang belum sepenuhnya energi hijau. Namun, gas memiliki emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan minyak atau batubara. Sumbernya pun masih melimpah. Ia pun menilai FSRU sebagai solusi terbaik untuk Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Membangun jaringan pipa sangat mahal, sehingga sistem regasifikasi terapung bisa menjadi alternatif untuk masa depan. Menurut dia, keberhasilan membangun PLTGU Jawa-1 juga telah memperkuat portofolio Pertamina NRE. “Jika dibutuhkan untuk membangun PLTGU di wilayah lain seperti Sulawesi atau Kalimantan, kami sudah siap,” ujarnya.
Portofolio Si Bungsu
John Anis menjelaskan, Pertamina NRE adalah unit bisnis yang masih relatif baru di bawah naungan Pertamina. Bisa dibilang sebagai "anak bungsu" dalam struktur holding perusahaan. Pertamina telah melakukan restrukturisasi untuk memperkuat fokus setiap unit bisnis sesuai core masing-masing: Pertamina Hulu Energi di sektor hulu, Kilang Pertamina Internasional di bidang kilang, Patra Niaga di distribusi, serta unit khusus gas. Setelah itu, barulah ada Pertamina NRE.
Sejak awal, Pertamina NRE berkembang dengan tiga pilar utama: pengembangan bisnis rendah karbon, energi baru, dan ekspansi. Meski dimulai dari skala kecil, pertumbuhan Pertamina NRE terbilang cukup besar dengan portofolio yang terus bertambah.
Baca juga : Warga Pinggiran Bikin Macet Di Jakarta Parah
Dalam mengembangkan bisnis rendah karbon, Pertamina NRE telah mencapai kapasitas geothermal sebesar 672 MW. Tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi Utara. Salah satu proyek terbaru adalah pengembangan geothermal di Lumut Balai, Sumatera Selatan, dengan kapasitas sekitar 55 MW.
“Potensi geothermal masih sangat besar untuk terus dikembangkan. Kami terus mendorong pengembangannya,” ujar John Anis.
Pertamina NRE juga berfokus pada pengembangan energi baru terbarukan, meliputi panel surya, biomassa, dan teknologi terbarukan lainnya. Saat ini, kapasitas solar panel yang dimiliki sekitar 56 MW. Untuk biomassa, pengembangan sudah dimulai di Sumatera Utara dengan skala kecil. Meski begitu sudah memberikan dampak positif pada ekonomi sirkular.
Portofolio lain mencakup sistem Charge Discharge (CDC) untuk pengisian dan pengosongan baterai, yang sudah diterapkan di perusahaan seperti Inalum, Mind ID, dan Antam, dengan PLN segera bergabung. Teknologi CDC ini diharapkan menjadi pendukung utama dalam elektrifikasi dan mendukung program hilirisasi pemerintah, terutama di sektor mobilitas. Selain itu, Pertamina NRE mulai mengembangkan potensi bioethanol. "Pertumbuhan portofolio kami pesat. Namun, ambisi kami lebih besar untuk ke depan," ungkap John Anis.
Menyiapkan Perwira Renewable Energy
Pertamina NRE punya beberapa program untuk mendukung pengembangan SDM di bidang Renewable Energy. Salah satunya adalah program PNRE Academy. Akademi ini disusun dengan kurikulum khusus untuk memberikan pemahaman mendalam dan komprehensif tentang energi baru dan terbarukan kepada para karyawan. PNRE Academy bekerja sama dengan universitas-universitas terkemuka, termasuk University of Arizona di Amerika Serikat. “Beberapa perwakilan Pertamina sudah kami kirim untuk mengikuti pelatihan di sana,” kata John Anis.
Selain program akademi ini, Pertamina NRE juga fokus pada perekrutan talenta baru dengan latar belakang energi baru terbarukan. Selain itu, perusahaan juga memberikan beasiswa untuk studi dan pelatihan terkait renewable energy. Pertamina NRE juga menggandeng Universitas Pertamina yang telah memiliki program studi berfokus pada keberlanjutan (sustainability).
Baca juga : Andi Gani: Biaya Pembangunan Pusdiklat Terbesar di ASEAN Dari Swadaya Buruh
Tantangan Pengembangan Renewable Energy
Pertamina NRE menghadapi sejumlah tantangan serupa dengan yang dialami perusahaan lain di sektor energi terbarukan. Salah satu tantangan yang terbesar adalah soal keekonomian, khususnya terkait biaya. Misalnya, meski teknologi hidrogen sudah tersedia, biaya produksinya masih terlalu mahal untuk pasar saat ini.
Pendanaan juga menjadi isu utama karena pengembangan energi baru dan terbarukan memerlukan investasi besar. Karena itu butuh akses ke investor serta sumber dana yang kuat. Selain itu, regulasi juga memengaruhi perkembangan. Seperti bioethanol yang masih dikenakan cukai karena dianggap alkohol, sehingga harganya kurang kompetitif.
Dari sisi infrastruktur, energi baru terbarukan memerlukan transmisi yang andal karena sifatnya yang tidak mudah dipindahkan. Seperti geothermal yang hanya bisa dimanfaatkan di lokasi panas bumi atau tenaga surya dan angin yang bergantung pada lokasi tertentu. Karena itu, transmisi menjadi kunci untuk memastikan distribusi energi yang optimal—no transition without transmission.
John Anis menyadari transisi energi adalah perjalanan panjang. Mengembangkan energi hijau hampir seperti membangun sebuah startup, yang penuh tantangan dan peluang.
“Jika tidak dimulai sekarang, kita bisa terlambat. Dengan semangat kewirausahaan dan kolaborasi, kami berkomitmen untuk terus mencari peluang dan bekerja sama dengan berbagai pihak guna memastikan transisi energi ini berjalan dengan baik,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.