BREAKING NEWS
 

Potensi Besar Nikel Dan Pasir Silika

Indonesia Siap Jadi Pemain Global Kendaraan Listrik dan Panel Surya

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Sabtu, 14 Desember 2024 21:53 WIB
Lokasi pertambangan nikel milik PT ANTAM. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia terus mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama dalam sektor hilirisasi sumber daya alam (SDA), dengan potensi besar dari nikel dan pasir silika.

Kedua komoditas ini adalah tulang punggung pengembangan industri kendaraan listrik (EV) dan panel surya, yang semakin berperan penting dalam transisi energi global menuju teknologi ramah lingkungan.

Melalui risetnya, The Reform Initiatives (TRI) Indonesia mengungkapkan, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, mencapai 21 juta ton atau 22,1 persen dari total cadangan global.

Tahun 2020, kontribusi Indonesia terhadap total produksi nikel dunia mencapai 31 persen. Fakta ini menjadikan Indonesia sebagai pemasok utama bahan baku baterai kendaraan listrik.

Bahkan, saat ini Indonesia menyumbang 60-80 persen bahan baku nikel untuk baterai global.

"Indonesia tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki strategi hilirisasi yang unggul. Nilai tambah dari hilirisasi nikel, terutama dalam produk baterai, bisa mencapai 67 kali lipat," kata Ketua Tim Peneliti TRI Indonesia, Unggul Heriqbaldi dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/12/2024).

"Ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah dalam menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan," imbuhnya.

Baca juga : Restoran Indonesia Sendok Emas Dibuka di Mauritius: Satukan Cita Rasa dan Budaya

Pria yang akrab disapa Eriq tersebut juga mengungkap potensi pasir silika Indonesia, yang tak kalah menjanjikan.

Dengan total cadangan mencapai 330 juta ton dan tambahan sumber daya kuarsit sebesar 297 juta ton, Indonesia menjadi salah satu negara dengan pasokan bahan baku melimpah untuk industri semikonduktor dan photovoltaic (PV) module.

Kedua sektor ini krusial untuk mendukung panel surya, sebagai salah satu teknologi energi terbarukan.

"Hilirisasi pasir silika menjadi wafer silikon adalah langkah strategis untuk mendukung pengembangan PV module dalam negeri. Dengan dukungan teknologi tinggi dan investasi yang kuat, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat industri teknologi tinggi dunia," papar Eriq, yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga Surabaya.

Riset TRI juga menyebut, Indonesia telah berhasil menarik perhatian produsen kendaraan listrik global, berkat cadangan nikel yang melimpah.

Adsense

Perusahaan seperti Hyundai dan Wuling telah mendirikan fasilitas produksi di Jawa Barat, dengan kapasitas mencapai 260.000 unit kendaraan per tahun.

Selain itu, Indonesia juga menargetkan menjadi salah satu dari lima produsen baterai terbesar dunia, dengan kapasitas produksi mencapai 700 GWh per tahun pada 2045.

Baca juga : Menperin Apresiasi IWIP Sukses Kembangkan Ekosistem Kendaraan Listrik

"Permintaan baterai global diperkirakan meningkat hingga 7.100 GWh pada 2045. Indonesia berpotensi memenuhi lebih dari 10 persen dari total permintaan tersebut. Ini adalah pencapaian besar yang mencerminkan visi jangka panjang pemerintah," jelas Eriq.

Sementara itu, pengembangan panel surya juga menjadi fokus utama. Hilirisasi pasir silika yang meliputi produk seperti tepung silika, resin-coated sand, hingga wafer silikon diharapkan dapat mendukung kemandirian Indonesia dalam teknologi photovoltaic.

Produk-produk ini tidak hanya penting untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi menjadi komoditas ekspor unggulan.

Dukungan pemerintah terhadap hilirisasi nikel dan pasir silika, terlihat dari berbagai kebijakan insentif yang mendorong investasi dan transfer teknologi.

Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan perusahaan swasta juga terus diperkuat untuk memastikan keberlanjutan pengembangan industri ini.

"Indonesia memiliki segalanya untuk menjadi pemimpin global dalam kendaraan listrik dan energi terbarukan. Dengan strategi yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, kita tidak hanya akan meningkatkan nilai ekonomi tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat," pungkas Eriq.

Dia meyakini, dengan langkah progresif ini, Indonesia tidak hanya menjadi raksasa sumber daya alam. Tetapi juga pilar penting dalam teknologi ramah lingkungan dunia.

Baca juga : Bamsoet Dorong Penggunaan Kendaraan Listrik di Indonesia

Hilirisasi nikel dan pasir silika adalah kunci untuk membuka pintu menuju era baru keemasan ekonomi dan teknologi Indonesia.

The Reform Initiatives (TRI) Indonesia bersama konsorsium yang terdiri dari Binus University, The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya Malang, dan FEB Universitas Indonesia telah menyelenggarakan penelitian terkait Hilirisasi di Indonesia dalam berbagai tema kunci.

TRI Indonesia mengambil tema spesifik "Membangun Harmoni yang Produktif antara Pekerja Asing-Domestik dan Masyarakat Lokal: Tantangan, Kesempatam, dan Kebijakan Investasi Hilirisasi di Indonesia" yang dilaksanakan di Kabupaten Konawe - Sulawesi Tenggara dan Kota Batam - Kepulauan Riau.

Hasil riset tersebut kemudian didesiminasikan oleh TRI Indonesia bekerjasama dengan FEB Universitas Nasional Jakarta, Rabu (12/12/2024).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense