RM.id Rakyat Merdeka - Layanan Green as a Service (GEAS) Renewable Energy Certificate (REC) yang disediakan oleh PT PLN (Persero) semakin diminati oleh pelanggan dari berbagai sektor.
Hingga akhir 2024, jumlah pelanggan REC mencapai 7.354 pelanggan, meningkat 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 3.378 pelanggan.
REC merupakan instrumen inovatif dari PLN yang memungkinkan pelanggan mendapatkan pengakuan atas penggunaan energi baru terbarukan (EBT) secara transparan, akuntabel, dan diakui secara internasional.
Dengan REC, pelanggan dapat memastikan bahwa listrik yang mereka gunakan berasal dari sumber energi hijau yang telah terverifikasi.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa REC menjadi solusi bagi sektor industri dan bisnis dalam memperoleh listrik hijau yang andal dan terjangkau.
Baca juga : Kemenperin Catat Indeks Kepercayaan Industri Capai 52,93 Persen
Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan keberlanjutan, permintaan produk yang dihasilkan melalui energi bersih semakin menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri.
"Sebagai tulang punggung penyedia EBT nasional, PLN berkomitmen meningkatkan daya saing industri dengan menyediakan layanan listrik hijau yang 100 persen dipasok oleh pembangkit EBT kami melalui REC. Kami siap melayani kebutuhan listrik hijau untuk sektor bisnis dan industri dengan proses yang mudah dan cepat," ujar Darmawan.
Sejak diluncurkan pada 2020, penjualan REC terus mencatatkan pertumbuhan signifikan hingga mencapai 10,99 Terawatt hour (TWh) pada 2024.
Dari total tersebut, 49 persen atau 5,38 TWh dicapai pada 2024, meningkat 52 persen secara year-on-year (YoY) dibandingkan dengan 2023 yang sebesar 3,54 TWh.
Banyak perusahaan besar, baik lokal maupun internasional, telah menjadi pelanggan utama REC PLN.
Baca juga : Jalin Sinergi Strategis, BRI dan HIPMI Dorong Pengusaha Muda Naik Kelas
Beberapa di antaranya adalah Nike, PT Cheil Jedang Indonesia, PT Asahimas Chemical, PT Agincourt Resources, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT Air Liquide Indonesia, PT South Pacific Viscose, PT Sorini Agro Asia Corporindo, PT Smelting, dan PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia.
Total kapasitas penggunaan REC dari perusahaan-perusahaan tersebut mencapai 2,81 TWh, atau sekitar 52 persen dari total kapasitas yang digunakan pada 2024.
Darmawan optimistis tren penggunaan REC di sektor industri dan bisnis akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.
"Semakin banyak perusahaan besar, baik dari dalam dan luar negeri, yang mempercayakan suplai listrik hijaunya dengan REC PLN. Kami optimistis layanan listrik hijau ini akan terus tumbuh," jelasnya.
Dukungan dari 8 Pembangkit EBT
PLN Saat ini, ada delapan pembangkit listrik berbasis EBT yang telah menyuplai listrik hijau untuk pelanggan REC, yaitu: PLTP Kamojang, PLTP Ulubelu, PLTP Lahendong, PLTP Ulumbu, PLTA Cirata, PLTA Bakaru, PLTA Orya Genyem, PLTM Lambur.
Baca juga : Peran Strategis Pendidikan Vokasi dalam Pembangunan Ekonomi Daerah
Setiap sertifikat REC yang diterbitkan menggunakan sistem pelacakan APX Tradable Instrument for Global Renewables (TIGRs) dari Amerika Serikat, yang memastikan bahwa listrik yang digunakan pelanggan berasal dari pembangkit EBT atau nonfosil dan telah memenuhi standar internasional.
"REC memberikan jaminan atas penggunaan EBT secara transparan dan diakui internasional, memastikan pelanggan mendapatkan sumber energi hijau yang terpercaya," tutup Darmawan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.