Sebelumnya
Sektor industri yang menjadi kunci utama pertumbuhan ekonomi, kata dia, justru tidak naik signifikan dalam 10 tahun terakhir. Pertumbuhan industri Indonesia hanya berkisar 3-4 persen. Jauh di bawah Vietnam yang mampu tumbuh 9-10 persen.
“Padahal, di era 1985, Indonesia pernah mengalami pertumbuhan ekonomi 7 persen, dengan sektor industri tumbuh 9-10 persen dan ekspor melonjak 20 persen,” kata Didik dalam diskusi di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (29/1/2025).
Didik menilai, untuk kembali mendorong kinerja industri, pemerintah harus berani mengambil langkah-langkah strategis seperti yang dilakukan di masa Orde Baru.
Baca juga : Pemerintah Selamatkan Rp 6,7 Triliun Dana Korupsi
Didik mengatakan, salah satu persoalan krusial adalah melemahnya investasi asing di Indonesia. Padahal investasi asing adalah sektor yang bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
“Tanpa investasi asing, ekonomi tidak mungkin tumbuh. Untuk mencapai pertumbuhan 6-7 persen. Diperlukan investasi 3-4 kali lipat dari 1.400 triliun rupiah yang ada saat ini,” jelasnya.
Meski menghadapi tantangan, Didik tetap mengapresiasi semangat pemerintahan Prabowo dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Namun, ia juga mengingatkan realitas di lapangan menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 kemungkinan besar akan berada di angka 5 persen, sesuai prediksi Bank Dunia.
Baca juga : Johan Rosihan: Perlu Pansus Karena Tak Semata Fisik Pagar
“Optimisme tetap harus ada, tetapi kita juga harus realistis dengan melihat data dan pengalaman negara-negara lain,” ujarnya.
Pengamat Politik dari Universitas Airlangga Prof Kacung Marijan menuturkan dalam tradisi Tionghoa, Tahun Ular Kayu punya makna kecerdasan dan kreativitas.
“Suatu tahun dinamis yang membutuhkan olah pikir dan kreativitas di dalam mengarungi kehidupan,” ucap Kacung saat dihubungi Rakyat Merdeka, Rabu (29/1/2025).
Baca juga : TB Hasanuddin: Pelaku Sudah Jelas, Nggak Perlu Pansus
Menurut Kacung, tantangan Indonesia relatif besar, khususnya terkait ketidakpastian ekonomi. Namun, Kacung menilai ketika kreativitas dan kecerdasan dipakai, tantangan-tantangan yang ada dapat diatasi.
“Tapi ular juga memiliki sifat yang lain, yakni bisa mematuk dan mengeluarkan racun. Indonesia dituntut untuk menjaga harmoni agar jangan sampai antar kekuatan saling mematuk,” imbuh Kacung.
“Situasi politik kita akan terkendali kalau tidak saling mematuk dan tidak saling menjatuhkan,” sambung dia. [BCG/UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.