BREAKING NEWS
 

Sukses Kantongi Rp 7,01 Triliun

Top, Laba BSI 2024 Tumbuh Double Digit

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : FIRSTY HESTYARINI
Sabtu, 8 Februari 2025 07:05 WIB
Direktur Utama BSI Hery Gunardi (kiri) bersama Direktur Compliance & Human Capital BSI Tribuana Tunggadewi (kedua kiri), Direktur Information Technology BSI Saladin D Effendi (kedua kanan) dan Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho, saat mengamati statistik hasil laporan keuangan BSI tahun 2024 sebelum memberikan konferensi pers Laporan Kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk 2024 di BSI Tower Jakarta, Kamis (6/2). AMA/rakyat merdeka/RM.id

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI)  mampu meraih kinerja positif dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sepanjang 2024, BSI mengantongi laba bersih mencapai Rp 7,01 triliun. 

Capaian itu tumbuh double digit 22,83 persen secara tahunan (year on year/yoy). Bahkan,  BSI mencatat semua indikator keuangan lain, dengan rata-rata tumbuh double digit. Mulai dari Dana Pihak Ketiga (DPK), pembiayaan dan aset perseroan. 

“Fokus pada pembiayaan yang berkualitas. Transformasi digital dan inovasi menjadi kunci BSI menjaga kinerja yang impresif di tengah dinamika kondisi perekonomian,” kata Direktur Utama BSI Hery Gunardi dalam konferensi persen kinerja tahun 2024 secara virtual, Kamis (6/2/2025).

Menurut Hery, tahun 2024 merupakan periode menantang. Kondisi ekonomi global masih diliputi ketidakpastian, dengan likuiditas yang ketat dan persaingan pasar yang tinggi. 

Di tengah kondisi itu, BSI terus mempertahankan fokus untuk senantiasa agile dan inovatif melalui transformasi digital. Serta menjaga pertumbuhan pembiayaan yang berkualitas. 

“Alhamdulillah, kinerja yang dicapai menggembirakan bahkan melebihi ekspektasi di te­ngah ketidakpastian ekonomi glo­bal,” tutur Hery.

Yang tidak kalah membanggakan, imbuh Hery, BSI sejak lahir hingga saat ini, selalu tumbuh di atas pertumbuhan industri.

Dengan pertumbuhan laba bersih 22,83 persen yoy pada 2024, BSI menjadi salah satu di jajaran Top 10 Bank yang mencatatkan pertumbuhan ki­nerja tertinggi. 

“Pencapaian laba yang tinggi tidak terlepas dari pengelolaan DPK yang tepat. Serta pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang tepat dan sustain,” ucap mantan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri ini.

Di tengah ketatnya kompetisi likuiditas sektor perbankan, BSI juga sukses mencatat pertumbuh­an DPK sebesar 11,46 persen, menjadi Rp 327,45 triliun. 

Pencapaian ini ditopang oleh dana murah (Current Account Saving Account/CASA) yang mencapai rasio 60,12 persen dari total DPK. Sepanjang 2024, CASA BSI mencapai Rp197 tri­liun atau naik 10,65 persen yoy. 

DPK BSI dari produk-produk tabungan mencapai Rp 140,53 triliun, disusul deposito Rp 130,58 triliun, dan giro Rp 56,33 triliun. Pengelolaan DPK yang te­pat memberikan dampak positif pada penurunan beban bagi hasil. 

BSI mengambil peluang de­ngan memanfaatkan potensi Islamic ecosystem yang hanya di­miliki oleh bank syariah. Salah satunya lewat bisnis emas dan haji. 

Baca juga : Indonesia Siap Jadi Pusat Industri Kecantikan Dunia

“Inovasi dan transformasi di­gital yang memudahkan tran­saksi secara digital, turut berdampak positif terhadap penghimpunan DPK,” ujarnya.

Penyaluran pembiayaan BSI juga menunjukkan kinerja impresif dengan pertumbuhan di atas industri. Pada 2024, BSI tercatat menyalurkan pembiaya­an sebesar Rp278,48 triliun, tumbuh 15,88 persen yoy. 

Berdasarkan segmen, pembiayaan yang disalurkan oleh BSI ke segmen wholesale mencapai Rp 77,22 triliun atau tumbuh 14,38 persen yoy, disusul seg­men ritel senilai Rp 49,38 triliun (naik 16,86 persen yoy). 

Selain itu, pembiayaan untuk segmen konsumer tercatat Rp 151,88 triliun atau naik 16,34 persen yoy.

Hery mengatakan, BSI memiliki demand side yang luar biasa kuat, untuk itu pihaknya terus meningkatkan dan memperbaiki sisi supply. 

Supply ini adalah dari sisi produk hingga distribution channel, tidak hanya cabang tetapi juga electronic channel. Seperti ATM (Anjungan Tunai Mandiri), mobile banking, QRIS (Quick Response Indonesian Standard) dan lainnya.

Pengelolaan pembiayaan secara tepat berimbas pada membaiknya kualitas pembiayaan yang disalurkan. Per akhir 2024, rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) gross BSI membaik menjadi 1,90 persen. Cost of credit (CoC) perseroan juga membaik di level 0,83 persen pada 2024. 

Bagi pemilik saham, perseroan juga mencetak rasio imbal hasil menarik, yang terlihat dari angka Return on Equity (ROE) sebesar 17,77 persen. 

BSI menutup tahun 2024 dengan kenaikan aset sebesar 15,55 persen menjadi Rp 408,61 triliun. Adapun rasio Return on Asset (ROA) perseroan pada 2024 berada di level 2,49 persen.

Hery menyakinkan, rasio ke­uang­an yang solid menjadi kunci tercapainya kinerja yang positif. 

“Sejumlah indikator keuangan lainnya menunjukkan pencapai­an kinerja yang tidak kalah solid, yang menopang pencapaian bottom line,” katanya. 

Adsense

Tak hanya itu, Hery menegaskan, kinerja impresif tersebut adalah impact dari implementasi strategi 2024. 

Pertama, BSI fokus memperbaiki infrastruktur transaction banking dengan meluncurkan Byond by BSI. Dan memper­banyak mesin ATM/CRM (Customer Relationship Management), EDC (Electronic Data Capture), BSI Agent, serta merchant QRIS. 

Baca juga : Tunggakan Sewa Rusun Di DKI Capai 95,5 Miliar

Kedua, menggali potensi bisnis model yang baru, yakni bisnis berbasis emas, tabu­ngan haji, bancassurance dan bis­nis treasury. Langkah yang diambil terbukti efektif. 

“BSI berhasil mempertahan­kan kinerja dengan pertumbuhan yang konsisten di atas industri perbankan, dengan fundamental yang kuat,” tegasnya.

Pada 2024, BSI berhasil mencetak pertumbuhan pen­da­patan berbasis komisi (Fee Based Income/FBI) sebesar Rp 5,51 triliun, tumbuh signifikan sebesar 32,58 persen yoy. Fee Based Ratio (FBR) perseroan mencapai 17,95 persen, lebih baik dari periode sebelumnya. 

BSI juga terus mendorong pertumbuhan tabungan ha­ji melalui platform digital. Dari lini bisnis haji, perseroan mencatatkan tren kenaikan jumlah nasabah tabungan haji menjadi 5,6 juta pada akhir 2024. 

Seiring dengan kenaikan jumlah penabung di segmen haji, saldo tabungan haji BSI juga menunjukkan tren peningkatan menjadi Rp 14,5 triliun pada akhir 2024.

Dari dua peluang tersebut, BSI dapat menyeimbangkan pertumbuhan dana, pembiaya­an, hingga transaksi e-channel melalui SuperApp Byond by BSI yang secara resmi diluncurkan pada November 2024. 

“Terbukti kombinasi Islamic ecosystem dengan inovasi pada digitalisasi transaksi berdampak positif pada pertumbuhan FBI,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, pengamat perbankan Paul Sutaryono meng­apresiasi capaian kinerja BSI sebagai bank terbesar syariah di Indonesia.

Paul menilai, BSI telah sukses membuktikan mampu tumbuh solid dan berkelanjutan. 

“BSI juga mampu bersaing di tengah dinamika industri perbankan yang kompetitif, maupun ekonomi tak menentu,” kata Paul kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Meski begitu, ia menyebut ca­paian pangsa pasar masih menjadi tantangan perbankan syariah di Indonesia.

“Pangsa pasar perbankan syariah masih di bawah 10 persen dari perbankan konvensional. Diharapkan terus meningkat dari kisaran 7 persen,” ujarnya.

Izin Bullion Bank

Baca juga : Real Madrid Vs Atletico Madrid, Derby Madrid Dan Saling Kudeta

Untuk menghadapi tekanan ekonomi di tahun ini, BSI membeberkan beberapa terobosan de­ngan membuka keran bisnis emas. 

Baik gadai dan cicil emas yang memberikan kontribusi po­sitif terhadap kinerja pembia­yaan, melalui pengajuan bisnis emas dalam bentuk simpanan atau Bullion Bank kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Pengajuan izin Bullion Bank ini menjadi fokus BSI pada 2025,” ucap Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyu Nugroho di kesempatan yang sama.

Terlebih pembiayaan BSI tahun 2024 tumbuh di atas rata-rata nasional, bahkan produk emas menjadi game changer bagi BSI.

Ade menegaskan, BSI semakin optimistis, karena proses pengajuan lisensi untuk menjadi Bullion Bank terus diproses. 

“Kami bersyukur bisa menjadi salah satu bank yang dipilih oleh Pemerintah,” ucap Ade.

Sementara Direktur Kepatuhan dan Sumber Daya Manusia BSI Tri Buana Tunggadewi me­ngatakan, BSI juga tengah menyiapkan seluruh infrastruktur pendukung, sejalan dengan perizinan yang sudah dilakukan.

“Kami berharap, perizinan yang sudah diajukan kepada OJK bisa diterbitkan dalam waktu dekat,” harapnya.

Hingga Desember 2024, bisnis emas di BSI mencapai sebesar Rp 12,82 triliun, tumbuh 78,18 persen yoy. Yang ditopang oleh produk cicil emas yang melesat 177,42 persen yoy menjadi sebesar Rp 6,40 triliun dan produk gadai emas yang naik 31,33 persen menjadi Rp 6,42 triliun. 

“Basis nasabah bisnis emas juga berkembang, dengan nasabah gadai emas bertumbuh 11 persen yoy dan nasabah cicil emas naik 81 persen yoy,” sebut Tri Buana

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense