Dark/Light Mode
Mau Caplok Jalur Gaza, Ocehan Ngawur Trump Diralat Gedung Putih
RM.id Rakyat Merdeka - Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ingin mencaplok Jalur Gaza, Palestina, menuai kecaman internasional. Sejumlah pemimpin dunia bereaksi keras. Menanggapi hal ini, Gedung Putih buru-buru meralat ocehan ngawur Trump tersebut.
Pernyataan Trump soal Gaza itu disampaikan saat menjamu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Washington DC, AS, Selasa (4/2/2025). Di hadapan wartawan, Trump mengumumkan AS telah menyiapkan proposal untuk mengambil alih Gaza dan melakukan pembangunan di wilayah tersebut. Ia juga menyebut rencana relokasi penduduk Gaza ke Mesir dan Yordania.
Tak berhenti di situ, Trump juga menegaskan keinginannya menguasai Gaza dalam jangka panjang. Bahkan, ia menyatakan, jika diperlukan, AS siap mengerahkan pasukan militer ke wilayah tersebut.
Pernyataan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak dan menuai kecaman internasional. Gedung Putih pun berupaya meredakan ketegangan atas pernyataan Trump.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan, rencana relokasi warga Gaza bersifat sementara. Bukan pemindahan permanen ke negara-negara Arab seperti Mesir. Leavitt juga membantah pembangunan kembali Jalur Gaza akan dibiayai oleh AS. Selain itu, dia memastikan tidak ada rencana pengiriman pasukan AS ke Gaza.
"Presiden sangat memahami bahwa AS perlu terlibat dalam upaya pembangunan ini untuk memastikan stabilitas di wilayah tersebut bagi semua pihak," ujar Leavitt, seperti dikutip Channel News Asia, Kamis (6/2/2025).
Baca juga : Semua Anggaran IKN 2025 Diblokir
Menurut Leavitt, Trump dengan jelas menyatakan harapan agar mitra AS di kawasan, terutama Mesir dan Yordania, dapat menampung pengungsi Palestina, sementara rumah mereka dibangun kembali.
“Jalur Gaza adalah lokasi yang hancur sekarang. Ini bukan tempat yang layak huni bagi siapa pun,” tegas Leavitt.
Menlu AS Marco Rubio ikut menyampaikan klarifikasi. Kata dia, Trump hanya ingin warga Palestina meninggalkan Gaza untuk sementara waktu sampai wilayah tersebut dibangun kembali.
“Ide Trump tidak dimaksudkan sebagai permusuhan. Ini langkah yang sangat murah hati, tawaran untuk membangun kembali dan bertanggung jawab atas pembangunan kembali,” ucap Rubio, kepada wartawan saat berkunjung ke Guatemala, Rabu (5/2/2025).
Sebelumnya, tak lama setelah Trump memberikan keterangan pers, sejumlah pemimpin negara menyampaikan kecaman. Menlu Rusia Sergei Lavrov menyebut, niat Trump sangat tidak bijaksana. “Itu seperti rencana Israel mengusir warga Palestina,” ucap Lavrov.
China ikut menentang ide gila Trump. Beijing berharap, semua pihak memanfaatkan momen gencatan senjata untuk membawa masalah Palestina kembali ke penyelesaian Solusi Dua Negara.
Baca juga : Hendardi: Cacat Formil Dan Materil Bisa Diperkarakan Ke MA
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arab Saudi menolak tegas segala upaya untuk mengusir warga Palestina. Pemerintah Saudi mengancam tidak akan pernah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel jika tidak ada Palestina merdeka.
Dari Tanah Air, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rolliansyah Soemirat menyatakan, Indonesia dengan tegas menolak segala upaya paksa merelokasi warga Palestina atau mengubah komposisi demografis wilayah pendudukan Palestina. Pria yang akrab disapa Roy itu menegaskan, tindakan semacam itu akan menghambat terwujudnya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.
"Kami mendorong implementasi Solusi Dua Negara. Solusi ini mengakui adanya dua negara, yakni Palestina dan Israel yang merdeka," kata Roy, melalui video, Rabu (5/2/2025).
Protes juga datang dari negara sekutu AS. Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer mengatakan, pihak yang berhak membangun dan tinggal di Palestina adalah warga asli. “Kita justru harus membantu mereka kembali bangkit dari keterpurukan,” ujar Starmer.
Senada, Menlu Jerman Annalena Baerbock mengatakan, Jalur Gaza adalah milik rakyat Palestina. Pengusiran mereka tidak dapat diterima dan bertentangan dengan hukum internasional. “Hal itu akan menyebabkan penderitaan baru dan kebencian baru,” ingat Baerbock.
Juru Bicara Kemlu Prancis Christophe Lemoine mengatakan, relokasi warga Gaza marupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, serangan terhadap aspirasi sah warga Palestina serta hambatan utama bagi Solusi Dua Negara.
Baca juga : Martin Manurung: Sifatnya Rekomendasi Kepada Pemerintah
Di dalam negeri AS, sejumlah politisi Partai Republik, partai yang mengusung Trump, juga mengkritik pernyataan presiden mereka. Salah satu politisi Republik Londsey Graham mencuitkan kritikan lewat akun X miliknya.
“Saya khawatir jika harus menugaskan pasukan AS di Timur Tengah dan mendapat hasil seperti konflik pada 1983,” kicaunya.
Dia mengatakan, Trump dan jajarannya lebih baik belajar dari sejarah dan tidak mengulangi kerugian masa lalu. Graham juga mengatakan, rencana Trump sangat problematik.
“Mari dengar apa kata rekan kita di negara Arab sana. Lebih baik terbuka dengan masukan dari luar,” tandasnya.
Senator Republik Rand Paul juga menggelengkan kepala dengan rencana Trump. “Bukannya kebijakan kita yang utama. Kenapa harus memikirkan masalah kependudukan yang akan membawa kerugian untuk kita,” ujar Paul di akun X.
Anggota Kongres dari Partai Demokrat Rashida Tlaib, yang merupakan warga Palestina-Amerika, menekankan bahwa orang Palestina tidak akan pergi ke mana pun. “Presiden ini hanya bisa mengeluarkan omong kosong,” kecamnya, geram. DAY/BCG
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.