BREAKING NEWS
 

Istana: Efisiensi APBN Bukan PHK, Tapi Optimalisasi Anggaran

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : ADITYA NUGROHO
Kamis, 13 Februari 2025 15:33 WIB
Hasan Nasbi. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengatakan, Presiden Prabowo Subianto sangat detail memperhatikan hingga hal-hal terkecil dalam memutuskan suatu kebijakan. Termasuk kebijakan efisiensi anggaran.

“Istilahnya itu God is in the details, dari memperhatikan hal-hal kecil, dapat dihasilkan sesuatu yang besar. Presiden memeriksa secara detail satuan-satuan belanja dalam APBN, bahkan sambil bercanda bilang beliau memeriksanya sampai satuan sembilan. Jadi sangat detail dan kemudian ditemukan lemak-lemak belanja dalam APBN kita,” kata Hasan melalui siaran persnya, Kamis (13/2/2025).

Penyisiran yang dilakukan Presiden mendapati cukup banyak belanja barang dan modal yang tidak substansial. Belanja-belanja itu, kalau ditiadakan sebenarnya tidak adamasalah. Antara lain, pembelian ATK, kegiatan seremonial, kajian dan analisis, perjalanandinas, dan beberapa pengeluaran lainnya.

Baca juga : Pasca Raker, Pengurus Baru ILUNI FHUI Tancap Gas Realisasikan Program

"Clear pesan Presiden, bahwa yang diefisienkan yang tidak punya impact yang besar terhadap masyarakat,” tegas Hasan.

Adsense

Menyoal efisiensi yang berakibat pada pemutusan hubungan kerja (PHK) di lingkungan instansi pemerintahan, menurut Hasan, itu karena kontrak kerjanya tidak diperpanjang.

"Kalau orang selesai kontraknya, jangan bilang itu PHK karena efisiensi. Kalau orang selesai proyeknya dan kemudian tidak dilanjutkan, karena memang sudah selesai. Tanpa ada kebijakan efisiensi pun orang bisa selesai kontraknya. Kalau PHK karena efisiensi, dijamin itu tidak ada,” tegasnya.

Baca juga : Basuki: Anggaran IKN Tidak Berubah

Selain itu, Hasan juga meluruskan terkait banyaknya berita yang membingkai efisiensi di kantor-kantor pemerintah telah mengganggu layanan kepada publik. “Beberapa institusi ada salah menafsirkan Inpres. Mereka tidak mengorbankan belanja lemak, tapi mereka mengorbankan layanan dasar. Itu salah tafsir,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hasan menganalogikan efisiensi dengan kearifan lokal tentang besarnya manfaat menyisihkan segenggam dari tiga gelas beras yang dikonsumsi setiap hari. Satu genggam beras itu tidak akan terasa, tidak akan mengurangi jatah yang dimakan sehari. Bahkan, bisa jadi lebih baik karena menghindari mubazir akibat nasi yang dimasak berlebih lalu bersisa dan menjadi basi.

Namun, segenggam beras yang disisihkan tadi, dalam kurun waktu tertentu, akan terkumpul. Ia akan memberi manfaat bagi keluarga atau tetangga yang membutuhkan. “Segenggam beras dimasukkan ke gentong selama 10 hari, itu bisa buat memberi makan tetangga yangtidak bisa makan, atau bisa kita makan ketika beras kita betul-betul habis,” ujar Hasan.

Baca juga : Kolaborasi KAI Dan UI Perkuat Optimalisasi SDM Berkualitas

Untuk diketahui, Pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja APBN dan APBD 2025.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense