BREAKING NEWS
 

Kurangi Emisi, RI Nggak Bisa Hanya Andalkan Mobil Listrik

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Sabtu, 15 Februari 2025 07:42 WIB
Talkshow multi-pathway membahas bukunya tentang Multi-pathway for Car Electrification di Carbon Neutrality Mobility Event yang digelar oleh Toyota Indonesia, Jumat (14/2/2025). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah tren elektrifikasi yang semakin gencar di industri otomotif, bankir dan ahli moneter Cyrillus Harinowo mengatakan, upaya mencapai Net Zero Emissions (NZE) tidak bisa hanya mengandalkan mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV).

“Mobil listrik memang tidak menghasilkan emisi saat digunakan, tetapi ketika baterainya diisi ulang, sumber listriknya di Indonesia masih 80 persen berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil. Artinya, mobil listrik masih berkontribusi pada emisi karbon sebesar 87 persen,” ujarnya pada acara talkshow multi-pathway membahas bukunya tentang Multi-pathway for Car Electrification di Carbon Neutrality Mobility Event yang digelar oleh Toyota Indonesia, Jumat (14/2/2025).

Buku setebal hampir 300 halaman ini mengupas berbagai teknologi otomotif ramah lingkungan selain mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) yang dinilai lebih realistis untuk dekarbonisasi di Indonesia.

Baca juga : Kembali Ekspansif, PMI Manufaktur Indonesia Salip China Dan Korsel

Dalam buku yang ditulis bersama profesional perbankan Ika Maya Sari Khaidir ini, Cyrillus menyoroti tantangan transisi mobil listrik di negara berkembang seperti Indonesia. Infrastruktur pengisian daya masih terbatas, sementara kebutuhan untuk menekan emisi karbon terus meningkat.

Sebagai solusi, ia mengusulkan pendekatan multi-pathway, yang mencakup pengembangan teknologi Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), hingga mesin fleksibel (flexy engine) yang dapat menggunakan bahan bakar alternatif seperti bioetanol.

Adsense

Dia mengatakan, Brazil menjadi contoh ideal bagi Indonesia dalam hal ini. Negara tersebut telah sukses mengembangkan industri bioetanol berbasis gula dan biodiesel, yang secara signifikan mengurangi emisi karbon di sektor transportasi. Selain itu, Brazil juga telah mengadopsi mobil flexy hybrid yang bisa menggunakan bioetanol sebagai bahan bakar.

Baca juga : Liburan Nataru Makin Asyik Pakai Mobil Listrik, Begini Kata Pengguna

“Indonesia memiliki peluang besar untuk mengikuti jejak Brazil. Kita memiliki cadangan nikel yang dapat dimanfaatkan untuk produksi baterai listrik, serta potensi bioetanol dari sektor pertanian,” ujar Cyrillus.

Menurut Cyrillus, data penjualan mobil di Amerika Serikat pada 2023 menunjukkan lonjakan signifikan pada segmen mobil hybrid, menandakan perubahan preferensi konsumen global. Bahkan, segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang selama ini dikenal sebagai mobil murah, kini mulai merambah teknologi hybrid, membuat kendaraan ramah lingkungan semakin inklusif.

“Daripada memaksakan adopsi mobil listrik yang infrastrukturnya belum siap, Indonesia bisa fokus pada teknologi hybrid dan flexy engine yang lebih sesuai dengan kondisi pasar dan sumber daya yang kita miliki,” tambahnya.

Baca juga : Terkait Amnesti Napi, DPR Soroti Nasib Tahanan Politik

Cyrillus menyadari bahwa gagasannya ini seolah bertentangan dengan narasi umum bahwa mobil listrik adalah satu-satunya solusi bagi lingkungan. Namun, ia menegaskan bahwa setiap negara memiliki pendekatan berbeda dalam transisi energi.

“Norwegia bisa sukses dengan mobil listrik karena 100 persen listriknya berasal dari tenaga air. Tapi Indonesia? Kita masih bergantung pada batu bara. Jadi, kita perlu pendekatan yang lebih fleksibel dan sesuai dengan realitas,” tegasnya.

Dengan target Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 yang tinggal beberapa tahun lagi, Cyrillus menekankan bahwa mobil hybrid dan flexy harus menjadi bagian dari strategi transisi energi Indonesia. “Jika kita ingin mencapai pengurangan emisi karbon 50 persen dalam waktu singkat, mobil non-listrik yang ramah lingkungan masih menjadi pilihan yang lebih masuk akal,” tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense