RM.id Rakyat Merdeka - Rencana spin off Unit Usaha Syariah BTN (BTN Syariah) dari bank induknya, mendapat sambutan super positif dari banyak kalangan. Mulai dari masyarakat hingga regulator kompakan menyebut, BTN Syariah akan bersinar di industri perbankan syariah.
Setidaknya itu yang diyakini Edwinx (44), nasabah bank syariah yang sudah jalan lima tahun mencicil rumahnya. Dari total 15 tahun tenor pembiayaan yang diambilnya.
Dia adalah satu dari sekian banyak nasabah yang cukup fanatik. Menurutnya, jika mau mengutang, ya harus ke bank syariah.
Mendengar berita BTN Syariah akan menjadi entitas sendiri, membuat pikirannya berkelana enam tahun lalu. Saat itu dia dan istrinya sudah dua tahun tinggal di kontrakan daerah Tangerang Selatan.
Rumah tiga kamar itu dibayarnya Rp 17 juta dalam setahun. Biaya segitu cukup ringan bagi dia, yang kebetulan istri juga kerja dan belum memiliki momongan.
Saat memasuki tahun ketiga, pemilik rumah mengerek harga sewa secara drastis, yakni Rp 25 juta per tahun. Karena keberatan, Edwin memutuskan mencari kontrakan baru.
Namun ternyata Dewi Fortuna tengah memihaknya. Karena ternyata tidak jauh dari rumah kontrakan tersebut, ada rumah yang sedang dijual.
Sebenarnya, rumah tersebut tidak baru-baru amat dilego. Posisinya yang di hoek, membuat luas tanahnya jauh di atas rata-rata rumah di komplek itu.
Menurut orang-orang sekitar, sang pemilik cukup mahal membanderol rumah tersebut. Sehingga wajar jika rumah tersebut lama lakunya. Atau bisa juga, memang sudah jodohnya rumah itu ditakdirkan untuk dibeli Edwin.
Baca juga : Sengketa Pilkada Barito Utara Diterima MK, Dugaan Pelanggaran Kudu Diungkap
Dengan tekad bulat, atau jika tidak mau dikatakan nekat, mereka memutuskan harus segera membeli rumah itu. Walau di tabungan jumlahnya sangat minim. Sehingga mau tidak mau, opsi yang mereka miliki adalah mengutang ke bank.
“Saya harus mencari pembiayaan dari bank syariah,” tekadnya kala itu.
Dia mengaku, di benaknya langsung teringat Bank BTN, yang sangat lekat dengan kata Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Bahkan dia menyebut, “BTN dan KPR itu bagaikan amplop dan perangko. Ingat KPR, ya ingat BTN.”
Tapi dia urungkan berakad KPR di BTN, karena niat awalnya harus mencicil lewat bank syariah. "Lho, BTN juga juga punya unit syariahnya kok."
Begitu kata orang-orang di sekelilingnya yang mendorong dia berakad di BTN. Maklum, kerabatnya sudah merasakan banyak kemudahan memiliki rumah lewat BTN, yang terkenal anti ribet itu.
Tapi dia kurang yakin berurusan sama anak usaha, meski judulnya sama-sama syariah. Sehingga pilihannya jatuh pada bank syariah lain.
“Coba dari dulu BTN Syariah sudah spin off, pasti sudah jadi pilihan pertama saya untuk cicil di situ,” gumam Edwin.
Namun harapannya belum pupus untuk berurusan dengan BTN. Kelak, katanya, jika BTN Syariah sudah spin off, Edwin berencana mencari informasi untuk memindahkan pembiayaannya dari bank syariah tetangga ke BTN Syariah.
Baca juga : Unika Atma Jaya Ajak Industri Tekstil Terapkan European Green Deal
“Karena menurut saya, pembiayaan rumah ya di BTN. Semoga BTN Syariah punya tawaran lebih menarik,” mantap Edwin.
Di luar sana, tentu masih banyak Edwin-Edwin yang lain. Yang menanti BTN Syariah lepas dari ‘kempompong’ yang melindunginya, kemudian berubah menjadi kupu-kupu nan cantik yang siap merajai pasar perbankan syariah.
Keyakinan ini bukan hanya berasal dari kalangan masyarakat.
Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), meyakini kehadiran BTN Syariah akan memberikan warna tersendiri bagi pasar industri keuangan syariah di Tanah Air.
Dia mendukung, industri perbankan syariah di Indonesia tidak hanya didominasi oleh satu entitas.
“Hal ini tentu tidak kondusif untuk persaingan antar bank syariah, maupun persaingan antara bank syariah dengan bank konvensional,” tegas Dian di Jakarta, Selasa (7/1/2025).
Sebagai Informasi, dalam waktu dekat BTN akan menyelesaikan proses akuisisi Bank Victoria Syariah (BVIS). Aksi korporasi ini adalah bagian dari rencana spin-off UUS BTN, yakni BTN Syariah.
Dihubungi terpisah, Pengamat keuangan syariah dan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Yusuf Wibisono mengatakan, akuisisi yang dilakukan BTN terhadap Bank Victoria Syariah (BVIS), adalah langkah progresif yang akan berdampak positif.
“Akuisisi BVIS untuk menyulap UUS BTN Syariah menjadi BUS (Bank Umum Syariah). Hal ini akan meraih potensi pasar yang cukup besar,” kata Yusuf kepada Rakyat Merdeka.
Baca juga : Bertemu Dudung, Bamsoet Dorong Kemandirian Industri Pertahanan Nasional
Yusuf berharap, berdirinya BTN Syariah menjadi BUS akan mendorong market share perbankan syariah, yang saat ini masih di kisaran 7,4 persen.
“Sekaligus bisa melahirkan bank syariah besar, yang menjadi pesaing BSI (Bank Syariah Indonesia). Dengan fokus bisnis pada pembiayaan perumahan rakyat,” ujarnya.
Lebih jauh Yusuf menilai, industri perbankan syariah saat ini sangat timpang. Karena BSI menjadi satu-satunya pemain yang sangat dominan, yaitu dengan aset per September 2024 menembus Rp 370,72 triliun, menguasai sekitar 40 persen market share perbankan syariah nasional.
Adapun pesaing terdekatnya adalah CIMB Niaga Syariah, dengan aset Rp 65,99 triliun. Sementara Bank Muamalat pada periode yang sama mencetak aset Rp 59,87 triliun.
“BSI sudah selayaknya memiliki tiga hingga empat pesaing yang sepadan, agar industri perbankan syariah nasional lebih sehat,” tegasnya.
Terpisah, Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu berharap, dengan pemisahan UUS maka akan menjadi motor penggerak segmen syariah. Dan melengkapi pemain di industri perbankan.
”Jadi nanti akan ada dua player besar di industri perbankan syariah Indonesia, yaitu BSI dan BTN Syariah,” tutur Nixon di Jakarta, Senin (10/2/2025).
Menurut Nixon, kedua bank syariah ini pasti akan berlomba memoles layanan dan produknya, untuk bisa memikat hati calon nasabah. Dan yang pasti, imbuh Nixon, setelah menjadi BUS, BTN Syariah akan tetap fokus pada pembiayaan properti.
"Masing-masing bank akan terus-menerus berusaha memperbaiki kualitas layanan. Bagus itu, ada persaingan harga dan layanan," tutup Nixon.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.