Dark/Light Mode

Unika Atma Jaya Ajak Industri Tekstil Terapkan European Green Deal

Rabu, 12 Februari 2025 17:58 WIB
Unika Atma Jaya menggelar International Conference of The German-Indonesia, ENA-Tex Project, Rabu (12/2/2025). (Foto: Istimewa)
Unika Atma Jaya menggelar International Conference of The German-Indonesia, ENA-Tex Project, Rabu (12/2/2025). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya terus berupaya mendukung program Pemerintah dalam meningkatkan energi terbarukan. 

Menjadikan industri tekstil sebagai subjek transformasi energi terbarukan, Unika Atma Jaya menggelar International Conference of The German-Indonesia, ENA-Tex Project.

Kegiatan yang diselenggarakan pada Selasa-Rabu, 11-12 Februari 2025 di Gedung Yustinus, Kampus Semanggi, Unika Atma Jaya ini bertujuan agar industri tekstil di Indonesia bisa berproduksi secara berkelanjutan. 

Banyak negara kini menerapkan tarif tinggi untuk bahan bakar fosil sebagai respons terhadap isu perubahan iklim. 

"Di Eropa, produk berbasis bahan bakar fosil dikenakan biaya lebih mahal, sementara industri tekstil global mulai menutut rantai pasokan yang bebas karbon. Karena itu, industri tekstil dan garmen di Indonesia perlu bersiap mengadopsi regulasi seperti European Green Deal," kata perwakilan Unika Atma Jaya, Juliana Murniati, Rabu (12/2/2025). 

Murni juga menjelaskan bahwa selama empat tahun, proyek EnaTex mengkaji peluang yang tersedia bagi perusahaan industri tekstil Indonesia untuk menghemat energi fosil, sehingga dapat terus bertahan di pasar global. 

Baca juga : Warga Jakarta Happy Ikut Pemeriksaan Kesehatan Gratis Di Puskesmas

EnaTex didanai oleh Kementerian Pendidikan dan Riset Jerman dengan dua perguruan tinggi di Indonesia yang menjadi anggota konsorsium ini, yakni Unika Atma Jaya, Jakarta dan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung. 

Konsorsium Jerman terdiri dari lembaga penelitian IZES, University of Applied Sciences, Niederrhein, perusahaan Brückner Trockentechnik GmbH & Co. KG dan Sunfarming. 

"Proyek ini mampu menentukan pengukuran jangka pendek, menengah dan panjang untuk meminimalkan penggunaan bahan bakar fosil," ujar Murni. 

Dia mencontohkan bahan kimia fungsional dapat diaplikasikan dengan bantuan aplikasi minimal pada satu sisi dan dengan cairan sesedikit mungkin. 

Hal ini dapat secara drastis mengurangi proses pengeringan selanjutnya dan menghasilkan penghematan energi hingga 40 persen. 

Selain itu, penerapan minimal juga berarti menggunakan sistem pewarna untuk mewarnai selulosa yang memiliki tingkat fiksasi jauh lebih tinggi.

Baca juga : Unika Atma Jaya Gelar Drama Musikal Untuk Beasiswa Pendidikan Berkualitas

"Hal ini memungkinkan konsentrasi rendaman pewarna serta jumlah dan suhu rendaman pembilas (dan juga jumlah air limbah) jauh lebih rendah, dapat menghemat sejumlah besar energi, dan terutama dengan warna gelap, hingga 25 persen emisi karbon dioksida per kilogram tekstil," ujarnya.

Lebih lanjut Murni mengatakan, penyediaan energi untuk mengeringkan tekstil, yang saat ini sebagian besar berbahan dasar lignit dalam negeri, disediakan oleh uap jenuh dan minyak perpindahan panas pada suhu hingga 230 °C untuk proses seperti pencucian, pemutihan, pengeringan, dan pengikatan melalui boiler pemanas sentral.

Dengan menggunakan limbah panas hingga 60°C dari air limbah produksi, dalam satu kasus, daya sebesar 1,3 MW dapat diperoleh kembali dengan menggunakan pompa panas.

Energi ini dapat digunakan untuk pengeringan batubara menggunakan sabuk berjalan pengering atau proses pemanasan awal air menggunakan heat exchanger

"Selain itu, dengan mendinginkan air limbah, pengolahan biologis menjadi lebih efisien dan pengeluaran energi sebelumnya untuk pengoperasian menara pendingin dapat dihemat," ungkapnya. 

Ditambah lagi, penghematan energi hingga 7 persen dapat dicapai melalui pembakaran yang optimal dan 7 persen selanjutnya dapat dihemat dengan memanfaatkan kembali panas dari udara pembakaran untuk memanaskan air untuk pembangkitan uap atau udara pembakaran.

Baca juga : Transformasi Menuju Industri Hijau Dinilai Mampu Ciptakan Green Jobs

 “Untuk beralih ke teknologi pewarnaan dan energi yang lebih ramah lingkungan, kita perlu Langkah bertahap. Di tahap menengah, efisiensi proses teknis harus ditingkatkan, sedangkan Langkah besar ke depan adalah transisi dari batu bara ke energi alternatif serta penerapan inovasi pewarnaan seperti USG, yang tentu membutuhkan investasi besar,” sambung CEO PT Harapan Kurnia William Jasen Kurnia. 

Evaluasi tindakan dengan menggunakan metode analisis siklus hidup sangat berorientasi pada sasaran. 

Hasilnya, menunjukkan langkah-langkah mana, terutama yang sangat sederhana yang mempunyai dampak besar terhadap netralitas gas rumah kaca. 

"Menerima hasil ini juga bisa sangat menguntungkan bagi perusahaan karena dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan pelanggan internasional," ujar William.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.