RM.id Rakyat Merdeka - Komisi XII DPR mendukung penuh langkah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), khususnya Holding Industri Pertambangan Indonesia Mind ID dalam mendukung hilirisasi mineral. Kontribusi itu diharapkan dapat membantu Pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Komisi XII DPR mendukung Grup Mind ID untuk terus memperkuat ekosistem industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.
Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya menekankan, upaya proaktif Grup Mind ID dalam menjalankan hilirisasi mineral dapat membantu Pemerintah mewujudkan pertumbuhan ekonomi 8 persen, dan menuju Indonesia Emas 2045.
“Pelaksanaan program hilirisasi ini telah tertuang pada Asta Cita ke-lima Presiden Prabowo Subianto, yakni melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi,” kata Bambang dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPR di Jakarta, Selasa (18/2/2025).
Bambang menyampaikan, Mind ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), dan Indonesia Battery Corporation (IBC) telah menjalankan program hilirisasi dengan sangat baik.
Menurut politisi Partai Golongan Karya (Golkar) ini, program hilirisasi dan industrialisasi akan memperoleh multiplier effect, seperti meningkatkan nilai tambah bahan baku.
Lalu, menarik investasi ke dalam negeri, menghasilkan devisa ekspor, dan menyerap tenaga kerja. Yang pada akhirnya, menjadi instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi minimal 8 persen.
Baca juga : Airlangga: Devisa Masuk Diperkirakan Rp 1.308 T
Komisi XII DPR mendorong IBC dan mitra strategisnya untuk tetap berkomitmen membangun pabrik battery cells, yang terintegrasi hulu sampai ke hilir.
“Serta memastikan segala tahapannya dapat terpenuhi dan memberikan keuntungan keuntungan kepada negara,” kata Bambang.
Hal senada juga disampaikan Pengamat Ekonomi dan Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi. Ia berpendapat, nikel Indonesia memiliki prospek yang bagus dalam jangka panjang.
“Apalagi nikel menjadi sumber daya alam sebagai komponen utama baterai kendaraan listrik. Saya melihat Mind ID punya kekuatan untuk mengelola itu,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin
Fahmy mengatakan, dari sisi hulu, Mind ID berpotensi untuk mengembangkan supply chain ekosistem kendaraan listrik ini.
Bahkan, menurut Fahmy, nikel tidak hanya bisa dijadikan bahan baku baterai kendaraan listrik saja. Melainkan juga dapat disulap menjadi produk-produk lain bernilai ekonomi tinggi.
“Produk turunan nikel juga berpotensi memiliki nilai ekonomi tinggi dan bisa meningkatkan devisa negara,” tegasnya.
Baca juga : Harga Beras, Telur, Cabe Dan Daging Sudah Naik
Menurut Fahmy, setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan Pemerintah agar industri nikel yang dikelola negara dengan melibatkan BUMN, makin bersinar ke depannya.
Pertama, Pemerintah perlu menciptakan serta menjaga ekosistem nikel. Terutama bagaimana kapasitas produksi bisa dipenuhi dan sesuai target.
Kedua, inovasi produk turunan nikel dengan memfokuskan pada riset dan pengembangan, serta berkolaborasi dengan banyak pihak.
“Selanjutnya ketiga, adanya transfer teknologi. Indonesia punya sumber daya besar, tapi teknologinya masih perlu banyak belajar (dari negara lain),” imbaunya.
Fahmy berkeyakinan, jika itu bisa terus dikelola dengan baik, harga mobil listrik bisa jauh lebih murah karena ekosistemnya sudah berjalan, dan memiliki komponen teknologi yang mumpuni. Serta didukung penuh Pemerintah.
Menyoal ini, Direktur Utama IBC Toto Nugroho menegaskan, keterlibatan BUMN, khususnya Grup Mind ID, sangat penting dalam mendukung hilirisasi mineral pada ekosistem kendaraan listrik.
“Dengan program yang dijalankan ini, IBC optimis akan menjadi perusahaan kelas dunia dalam ekosistem Electric Vehicle (EV) secara end-to-end,” katanya.
Baca juga : AS Roma Vs Porto, Duel Sampai Mati
Menurut Toto, Grup Mind ID memiliki pengelolaan bahan material penting yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan energi terbarukan.
Terlebih saat ini sekitar 50 persen bahan baku baterai kendaraan listrik dunia berasal dari Indonesia. Dan hampir sebagian besar merupakan pengelolaan dari Grup Mind ID.
“Indonesia memiliki semua sumber daya alam mulai dari nikel, kobalt, timah, batu bara, tembaga, emas, dan bauksit, yang semuanya berada di bawah Grup Mind ID,” ucap Toto.
Karena itu, lanjut Toto, Indonesia sangat berpotensi untuk menjadi production hub baterai kendaraan listrik.
Sebagaimana diketahui, Grup Mind ID telah menyiapkan alokasi investasi sebesar Rp 20,6 triliun untuk lima proyek strategis.
Salah satu proyek prioritas adalah pengembangan nikel di Halmahera Timur. Meliputi pembangunan smelter Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF), dan fasilitas High-Pressure Acid Leach (HPAL) untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.