BREAKING NEWS
 

Reaksi Pasar Dinilai Berlebihan, LPS: Waktu Tepat Beli Saham

Reporter & Editor :
SAIFUL BAHRI
Selasa, 8 April 2025 19:02 WIB
Presiden Prabowo di acara Sarasehan Ekonomi di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4). (Foto : LPS)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pasar berlebihan dalam merespon tarif baru Amerika Serikat.

Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia dalam keadaan baik sehingga justru menjadi momen tepat  untuk terjun beli saham.

Purbaya memaparkan sejumlah indikator positif terkait kondisi perekonomian nasional. Salah satunya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini yang tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang kuat.

Baca juga : Ibas Pastikan Program MBG Merata, Berkualitas, Transparan Dan Tepat Sasaran

"Jadi kalau suka main saham, sekarang good time to buy," ujar Purbaya dalam paparannya di Sarasehan Ekonomi di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4).

Adsense

Purbaya menyebut kondisi IHSG yang kini saat ini hanya overreacting atau reaksi yang berlebihan semata. Purbaya menyebut Leading Economic Index yang disusun pihaknya menunjukkan bahwa arah pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini justru menguat.

Hal itu ditambah survei kepercayaan publik terhadap pemerintah tercermin dari Indeks Kepercayaan Kepada Pemerintah (IKKP) yang berada di level tinggi.

Baca juga : Gunakan Paralayang Menuju Tempat Ujian

Optimisme tersebut ditambah dengan kredit investasi yang tumbuh sebesar 14,62%. Rapor ini, kata dia, menunjukkan bahwa perekonomian nasional sedang dalam fase ekspansi.

"Kebijakan tarif AS justru meningkatkan daya saing produk Indonesia, karena pesaing utama dikenai tarif lebih tinggi," ujar dia.

Terkait dengan Leading Economy Index, Purbaya menjelaskan bahwa itu adalah indeks yang menggambarkan arah ekonomi 6-12 bulan ke depan. Dari paparannya tersebut, Purbaya memprediksi sepanjang Maret depan sampai tahun depan, ekonomi RI akan terus ekspansi.

Baca juga : BPKH: Itu Akan Bebani APBN

Dia pun mengatakan situasi yang terjadi saat ini berbeda dengan krisis yang terjadi pada 1998. "Jadi pandangan orang di luar bahwa kita mau 1998 lagi itu salah kaprah dan mereka tidak mengerti data seperti apa," tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense