RM.id Rakyat Merdeka - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpesan agar Indonesia mengambil peran aktif dalam menghadapi ketidakpastian global yang kian memburuk. Ia juga mengingatkan Indonesia untuk bergerak cepat dan tanggap dalam menghadapi perang tarif global, sambil tetap fokus pada langkah jangka panjang yang berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan SBY saat pidato penutupan forum The Yudhoyono Institute (TYI) di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Minggu (13/4/2025).
Dalam pidato itu, SBY menekankan pentingnya kewaspadaan dan kepemimpinan Indonesia dalam kancah internasional. “Indonesia harus bergerak cepat, tapi juga siap berlari jauh,” ujar SBY. “Kita tidak boleh reaktif, emosional, dan kurang rasional. Kita harus tahu siapa kita dan batas kemampuan kita.”
Baca juga : Perang Tarif Bikin Ekonomi Global Terbelah, CT: Indonesia Harus Cepat Berbenah
SBY mengungkapkan keresahannya terhadap eskalasi perang tarif dunia, termasuk pemberlakuan bea masuk 32 persen terhadap produk Indonesia. Ia mengaku sempat menulis tujuh butir pemikiran soal langkah bijak menyikapi kebijakan proteksionis Presiden Donald Trump. Namun memilih menahan diri untuk tidak gegabah menyampaikan secara publik.
“Saya bersyukur karena penjelasan pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, sejalan dengan apa yang saya pikirkan. 80 persen sama dengan yang saya pikirkan,” kata SBY. Ia pun menyampaikan dukungannya terhadap langkah pemerintah dan otoritas fiskal yang dinilai telah bertindak tepat.
SBY juga menyampaikan kekhawatirannya akan potensi perang besar di Asia Timur, Timur Tengah, dan Eropa. Berdasarkan bacaan dua novel geopolitik yang ia beli dari Jepang dan Chicago, mantan jenderal TNI itu menilai risiko konflik militer global semakin nyata.
Baca juga : Libur Lebaran, Transaksi Keuangan di Ragunan Berjalan Lancar
“Apapun bisa terjadi. Tapi saya percaya perang besar masih bisa dicegah. Indonesia harus bisa menjadi bagian utama dari pencegahan perang tersebut, khususnya di kawasan Asia Pasifik,” ujarnya tegas.
Dalam pidatonya, SBY menyinggung kenangan saat krisis ekonomi global 2008-2009, di mana ia terlibat langsung dalam pembentukan forum G20. Ia menyatakan, pelajaran dari masa lalu harus jadi bekal untuk mencegah krisis global baru akibat perang dagang dan melonjaknya ketidakpastian ekonomi.
“Kalau dunia hanya fokus pada konflik geopolitik dan perang dagang, maka agenda penting seperti penyelamatan bumi dari climate crisis, pengurangan kemiskinan, dan ketimpangan bisa terbengkalai,” tuturnya.
Baca juga : Adecco Dorong Tenaga Kerja Terampil Dan Berdaya Saing
SBY menegaskan, politik luar negeri bebas aktif bukan berarti diam atau apatis. “Kita harus say something, do something. Forum seperti ini adalah cikal bakal dari kepedulian kita terhadap masalah dunia.”
Sebelumnya, The Yudhoyono Institute menggelar dua sesi diskusi dab menghadirkan sejumlah panelis dan peserta dari beragam latar belakang. SBY menutup forum tersebut dengan pesan yang kuat. Kata SbY, Indonesia tidak boleh hanya berharap yang terbaik, tetapi juga harus siap menghadapi yang terburuk.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.