RM.id Rakyat Merdeka - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China mempengaruhi kenaikan harga emas secara global, termasuk di Indonesia. Masyarakat ramai-ramai berburu emas secara offline maupun online. Namun, publik diingatkan tidak panic buying.
Ketua Komisi Komunikasi dan Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Heru Sutadi mengatakan, kenaikan harga emas sangat menarik perhatian masyarakat. Pasalnya, emas merupakan salah satu instrumen yang liquid dan kebal terhadap inflasi.
Namun begitu, dia mengingatkan, kenaikan harga emas yang terjadi saat ini juga rawan dimainkan oleh para spekulan. Mereka bisa dengan sengaja memborong emas, kemudian menjual kembali dalam jumlah besar kepada masyarakat saat margin harganya naik.
Baca juga : KPU Serang Temukan 6.381 Lembar Surat Suara Rusak
“Spekulasi seperti itu akan membuat harga emas terkoreksi atau kembali turun. Sebab, pasokan atau supply di pasaran kembali naik,” ujar Heru dalam keterangannya dikutip, Senin (14/4/2025).
Menurutnya, konsumen yang paling dirugikan akibat ulah spekulan emas adalah mereka yang membeli dengan jumlah tidak besar dan di dorong oleh panic buying.
“Saat harga emas turun, mereka jual rugi. Sudah rugi karena harga turun, mereka juga dikenakan potongan administrasi dari toko atau penjual emas, double ruginya,” imbuhnya.
Baca juga : Hunian Hotel Loyo Saat Libur Lebaran
Sebab itu, Heru meminta masyarakat waspada dan tidak panic buying. Dia memastikan, BPKN akan terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar tidak menjadi pihak yang dirugikan oleh aksi para spekulan.
Terpisah, pengamat ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Gigih Prihantono menilai, fenomena demam emas merupakan salah satu respons masyarakat menyikapi kondisi perekonomian yang sedang tidak stabil.
“Ketika orang merasa ekonomi sedang tidak baik-baik saja, mereka mencari instrumen untuk melindungi kekayaannya. Salah satu opsinya, emas. Emas itu likuid, mudah dijual, nilainya relatif aman dan stabil. Dari dulu, itu memang instrumen untuk melindungi nilai,” jelasnya.
Baca juga : Dongkrak Sektor Investasi,Bappenas Gaet Danantara
Lebih lanjut, Gigih mengingatkan, emas merupakan jenis investasi jangka panjang, bukan pendek.
Selain itu, lanjut dia, harga emas kerap berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi. Kalau perekonomian naik, harga emas akan cenderung turun, begitu sebaliknya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.