Di tengah dunia yang makin kompleks—dari krisis iklim, ketimpangan sosial, hingga krisis moral—kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: benarkah pembangunan selama ini sudah berpihak pada semua orang? Atau justru hanya menguntungkan segelintir pihak?
Ketika sistem ekonomi kapitalis tampak kelelahan menghadapi tantangan zaman, sebuah alternatif muncul dari akar yang mungkin tak asing: Ekonomi Syariah. Tapi ini bukan semata soal halal dan haram. Ini tentang cara baru melihat pembangunan, yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Ekonomi Syariah Sebuah Solusi
Dalam jurnal yang ditulis Syahrul Amsari dkk. dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, mereka mengulas bagaimana ekonomi Islam bisa menjadi fondasi baru dalam pembangunan masa depan. Tidak hanya fokus pada angka-angka pertumbuhan seperti PDB atau GNP, ekonomi syariah menempatkan manusia dan alam sebagai pusat perhatian.
Konsep seperti keadilan distributif, partisipasi masyarakat, dan pengawasan dari hati nurani jadi kunci utama dalam pendekatan ini. Bukan menunggu "tetesan" kesejahteraan dari atas (trickle down effect) seperti dalam kapitalisme, ekonomi Islam justru mendorong keseimbangan sejak awal—antara individu dan masyarakat, antara dunia dan akhirat.
Baca juga : Rampungkan Smelter Baru, Harita Nickel Fokus Efisiensi Berkelanjutan
Dari Pertumbuhan ke Kesejahteraan
Selama ini, banyak negara mengejar "pertumbuhan ekonomi" tanpa benar-benar peduli apakah hasilnya bisa dinikmati semua orang. Bahkan, seringkali pembangunan justru memperdalam jurang antara kaya dan miskin.
Ekonomi Syariah datang dengan pendekatan yang lebih menyeluruh:
- Fokus pada kebutuhan pokok dan pembangunan manusia (bukan sekadar infrastruktur atau industri besar).
- Mendorong partisipasi masyarakat, bukan hanya kebijakan dari atas.
- Memprioritaskan keberlanjutan lingkungan, karena sumber daya bukan warisan leluhur, tapi titipan anak cucu.
Bahkan lebih dari itu, dalam Islam, aktivitas ekonomi bisa menjadi ibadah, selama dijalankan dengan niat yang benar dan sesuai prinsip syariah. Bayangkan jika setiap transaksi bisnis membawa nilai spiritual!
Ekonomi yang Diawasi Hati Nurani
Baca juga : Solo Diusulkan Jadi Daerah Istimewa, Istana Masih Pelajari
Satu hal yang membedakan pendekatan syariah dengan sistem lain adalah mekanisme kontrolnya. Jika sistem konvensional mengandalkan regulasi dan lembaga pengawas, Islam menekankan pengawasan batiniah—keyakinan bahwa setiap tindakan diawasi Allah SWT.
Ini bukan soal takut dosa semata, tapi soal kesadaran kolektif bahwa ekonomi harus dijalankan dengan amanah dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, pelanggaran bukan cuma soal hukum negara, tapi juga soal akhlak dan etika.
Menuju Pembangunan yang “Falah”
Konsep utama dalam pembangunan ekonomi Islam adalah falah—yakni keberhasilan yang menyeluruh, dunia dan akhirat. Maka, indikator keberhasilan pembangunan tak bisa hanya berhenti pada angka pertumbuhan. Ia harus dilihat dari:
- Terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh rakyat.
- Tumbuhnya kesadaran moral dan sosial dalam ekonomi.
- Terjaminnya hak-hak lingkungan dan generasi mendatang.
Singkatnya, pembangunan yang membawa manfaat untuk semua, bukan hanya sebagian.
Baca juga : Buka Jambore Karhutla Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Jaga Dan Lestarikan Lingkungan
Penutup: Tuntunan Arah Baru
Tulisan ini bukan ingin mengutuk sistem yang ada, tapi mengajak kita melihat bahwa ada cara lain membangun ekonomi—lebih etis, lebih adil, dan lebih lestari. Ekonomi Syariah bukan cuma wacana, tapi peluang nyata untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Pertanyaannya sekarang: beranikah kita benar-benar mengubah cara pandang dan cara jalan kita?
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.