Dark/Light Mode

Cegah Banjir Impor, Industri Elektronik Minta Pertek Dan TKDN Dipertahankan

Kamis, 17 April 2025 16:23 WIB
Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Elektronika (GABEL) Daniel Suhardiman. (Foto: Aditya Nugroho/RM)
Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Elektronika (GABEL) Daniel Suhardiman. (Foto: Aditya Nugroho/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Elektronika (GABEL) Daniel Suhardiman menyatakan wanti-wanti banjir produk luar negeri ke pasar Indonesia sebagai dampak dari perang dagang global. Menurutnya, bukan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat yang patut dikhawatirkan, melainkan limpahan produk dari negara produsen besar seperti China yang mencari pasar baru.

“Ekspor anggota GABEL ke Amerika hanya sekitar 300 juta dolar AS, tidak terlalu besar. Tapi yang kami khawatirkan justru muntahan dari negara-negara produksi besar, terutama Tiongkok, yang masuk ke Indonesia,” ujar Daniel dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Kamis (17/4/2025).

Menurut Daniel, Indonesia menjadi sasaran utama karena memiliki pasar yang besar, yaitu lebih dari 280 juta penduduk. “Kalau dibanding Malaysia, Filipina, Vietnam, mereka tidak sebesar kita. Maka Indonesia menjadi target empuk bagi negara eksportir,” lanjutnya.

Baca juga : Menperin Terima Menteri Saudi, Bahas Kerja Sama Industri Petrokimia Dan Hilirisasi

Namun, Daniel menyoroti lemahnya sistem perlindungan pasar dalam negeri. Indonesia, katanya, tertinggal jauh dalam penerapan Non-Tariff Measures (NTM) atau hambatan non-tarif, dibandingkan negara-negara lain. “Amerika punya lebih dari 4.600 NTM. Eropa dan China juga punya ribuan. Sementara Indonesia cuma sekitar 207. Bahkan dibanding Thailand yang sudah punya lebih dari 660, kita masih jauh.”

Ia menegaskan pentingnya penerapan Pertimbangan Teknis (Pertek) sebagai salah satu bentuk pengendalian impor, khususnya untuk barang jadi. Menurutnya, langkah ini bukan bentuk proteksionisme negatif, melainkan cara menjaga utilisasi kapasitas industri dalam negeri.

“Kami produsen sangat mendukung Pertek, selama itu untuk barang jadi, bukan bahan baku. Negara lain juga melakukan itu untuk melindungi industrinya,” tegasnya.

Baca juga : Liga Italia, La Viola Minta Kiper De Gea Bertahan

Daniel menyayangkan terbitnya Permendag No. 8 Tahun 2024 tentang relaksasi impor yang dinilainya melemahkan perlindungan pasar domestik. Ia mendesak agar regulasi tersebut segera direvisi dan mengembalikan substansi dari Permendag 68/2020 dan 36/2023, yang menurutnya telah terbukti efektif mendorong pertumbuhan industri dan menarik investasi.

“Kalau menyusunnya hanya butuh seminggu, kenapa revisinya berbulan-bulan? Ini soal kemauan dan keseriusan melihat ini sebagai masalah nasional,” pungkasnya.

Lanjut Daniel, Indonesia harus menjadi basis produksi atau tuan rumah di negerinya sendiri, karena didukung dengan ketersediaan sumber daya alam yang melimpah dan banyaknya tenaga kerja yang berusia produktif. “Oleh karenanya, aktivitas industri menjadi sangat penting, karena menyerap tenaga kerja yang begitu banyak,” tegasnya.

Baca juga : Gapensi Harap Jangan Hapus TKDN

Daniel menambahkan, untuk melindungi dan mengamankan pasar dalam negeri, pemerintah harus benar-benar serius untuk menekan banjir impor produk jadi. Salah satu caranya adalah kontrol border di pelabuhan, bukan saat di post border. “Selain itu, pemberlakuan pelabuhan tertentu bagi impor produk jadi atau entry point. Ini juga diberlakukan oleh negara-negara lain seperti India dan Thailand,” ujarnya.

Selain pertek, menurut Daniel, kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) juga bisa menjadi NTM bagi Indonesia. “Kalau bisa TKDN ini diperluas, bukan untuk dilonggarkan,” tegasnya. Sebab, dengan adanya wacana pelonggaran TKDN, sudah ada sinyal para investor di Indonesia sudah mulai ancang-ancang untuk pindah atau kabur ke negara lain.

“Indikasi itu memang sudah ada. Beberapa perusahaan siap tutup assembly-nya. Maka itu, pemerintah perlu menyadari bahwa pertek dan TKDN itu ibarat dua sisi mata uang, yang tidak bisa dipisahkan. Apabila (pertek dan TKDN) ini dapat dikelola dengan baik, akan menjadi kekuatan kita untuk membuat industri kita tumbuh serta mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.