BREAKING NEWS
 

Sudah Menunjukkan Hasil Nyata

Larangan Ekspor Bijih Bauksit Kebut Hilirisasi

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Selasa, 13 Mei 2025 07:05 WIB
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi (Foto: Dok UGM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kebijakan Pemerintah menetapkan Harga Patokan Mineral (HPM) dan larangan ekspor bijih bauksit, sudah menunjukkan hasil nyata. Program hilirisasi berjalan cepat.

Kebijakan HPM dan larangan ekspor bijih bauksit merupakan bagian dari strategi besar Pe­merin­tah untuk meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri. 

Langkah ini sesuai dengan amanat Undang-Undang (UU) Minerba Nomor 3 Tahun 2020 dan Asta Cita ke-5 Presiden Prabowo Subianto, tentang me­lanjutkan hilirisasi dan indutrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Ener­gi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno menyampaikan, HPM ditujukan untuk menciptakan industri pengo­lahan mineral nasional yang mandiri, serta berdaya saing global.

Menurut Tri, Indonesia perlu memperkuat pengolahan mine­ral dalam negeri, sehingga lebih banyak produk mineral yang mampu menopang pertumbuhan industri manufatur berbasis sumber daya alam ke depan.

“Larangan ekspor dan HPM adalah bagian dari peningkat­an nilai tambah mineral. Ini amanat konstitusi, dan bukan kebijakan mendadak,” kata Tri dalam keterangan resmi, Kamis (8/5/2025).

Baca juga : Ekosistem Industri Tak Bisa Dibangun Instan

Sejak diberlakukan, pihaknya melihat mulai tumbuh investasi pada smelter-smelter baru.

Tri menyoroti Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar), sebagai contoh nyata dari hilirisasi yang berhasil. 

Proyek ini dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), perusahaan patungan antara Inalum dan Antam, Anggota Grup Mind ID. 

Setelah larangan ekspor bijih bauksit diberlakukan pada Juni 2023, proyek SGAR dipercepat. Kini, SGAR telah berope­rasi dan sukses melakukan pengiriman perdana ke Kua­­la Tanjung Inalum.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi menilai, kebijakan HPM merupakan instrumen fiskal yang dapat mengarahkan perilaku pelaku usaha untuk berorientasi pada hilirisasi. 

Adsense

Menurut Fahmy, selama ini ekspor bahan mentah lebih menguntungkan karena margin tinggi dan prosesnya cepat. 

Baca juga : Duh, Mesranya Sama Pacar Di Bawah Laut

“Namun dengan HPM dan larangan ekspor, Pemerintah menciptakan disinsentif agar pelaku usaha mau berinvestasi ke smelter,” ujar Fahmi, kepa­da Rakyat Merdeka, kemarin.

Fahmi melihat, saat ini sejumlah  Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam Holding Industri Pertambangan  MIND ID juga sudah membangun sejumlah smelter, yang diharapkan turut mendorong percepatan hilirisasi di dalam negeri.

“Hilirisasi dari hulu ke hilir ini sangat penting,” katanya.

Sebelumnya, PT Aneka Tam­­bang Tbk (Antam) telah ber­komitmen mempercepat realisasi proyek strategis nasional di sektor hilirisasi mineral. Seperti ak­selerasi pembangunan smelter.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arianto S Rudjito menegaskan, salah satu fokus utama perusahaan adalah pengembangan SGAR di Kalbar.

Emiten berkode saham ANTM ini juga memperkuat lini bisnis pengolahan dan pemurnian logam mulia melalui proyek precious metal manufacturing plant di Gresik, Jawa Timur.

Baca juga : Perang Di Mana-mana, Prediksi Prabowo Menjadi Kenyataan

Pabrik ini akan meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi peningkatan permintaan, serta menjangkau pasar yang lebih luas, khususnya di Indonesia Timur.

Arianto bilang, pengemba­ngan proyek ini juga menjadi bagian dari kontribusi Antam terhadap kebijakan nilai tambah nasional.

“Serta mendukung pe­ning­katan devisa melalui hilirisasi produk logam mulia,” kata Arianto di Jakarta, Selasa (15/4/2025).

Sementara untuk komoditas nikel, Antam sedang mengembangkan proyek untuk mendukung Pemerintah dalam me­­ngembangkan ekosistem ken­daraan baterai listrik.

Arianto menekankan, Antam tidak hanya berorientasi pada volume produksi, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah dari mineral yang kami kelola. 

“Sebab, hilirisasi adalah kunci menuju masa depan industri tambang Indonesia yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing,” tutup Arianto. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense