RM.id Rakyat Merdeka - Siapa sangka, di balik kerasnya dunia tambang nikel, terselip oase hijau yang menyejukkan mata.
Namanya Point View Anjungan Himalaya dan Reklamasi Vit Pita, area reklamasi milik PT Trimegah Bangun Persada Tbk (TBP) atau yang dikenal sebagai Harita Nickel, di Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Di sinilah kami, rombongan media nasional termasuk Rakyat Merdeka, menghabiskan hari kedua dalam kunjungan lapangan selama sepekan, 11–16 Juni 2025.
Perjalanan menuju Point View Himalaya bukan sembarang trip. Kami naik Manhauler—kendaraan besar mirip bus tambang—dari PT Dharma Cipta Mulia.
Meski tampak sangar dari luar, bagian dalamnya dilengkapi AC. Maklum, kami menembus jantung tambang yang panas dan berdebu.
Jalanan beton tanah merah naik-turun, berkelok, dan kadang licin kalau hujan. Sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan khas tambang.
Truk-truk raksasa lalu-lalang mengangkut ore nikel. Di sisi kanan kiri jalan, terlihat tumpukan kontainer berisi nikel sulfat siap ekspor.
Tak jauh, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang ditutup terpal juga menunggu giliran dikapalkan.
Di pojok lainnya, jumbo bag berisi feronikel tertata rapi juga siap diekspor. Semuanya bagian dari denyut produksi tambang yang tak pernah tidur, 24 jam nonstop. Kecuali hujan.
Baca juga : Hima Persis Nilai Tepat Prabowo Cabut IUP 4 Perusahaan Tambang di Raja Ampat
Tiba di Point View Himalaya, suasana berubah drastis. Dari riuh tambang ke sejuknya hutan buatan.
Di sini berdiri pohon-pohon yang menghijaukan kembali bekas kerukan tambang.
Pohon cemara laut, kayu putih, ketapang, kayu nani, hingga pohon gofasa—semuanya tumbuh subur. Tidak terlihat lagi bekas luka tambang.
“Kawasan ini kami reklamasi sejak 2017,” kata Dedy Amrin, Environment and Business Improvement Manager Harita Nickel.
Ia menyebut, sistem tambang di sini pakai metode open cut mining, mengeruk dalam hingga 50 meter.
“Tantangannya erosi dan sedimentasi,” jelasnya.
Untuk mengatasi dampak seperti erosi dan sedimentasi, Harita Nickel membangun kolam endapan 2 juta meter kubik air limpasan di atas lahan 43 hektare.
Lumpur hasil endapan disaring, dikeringkan, lalu dipakai untuk menutup lahan bekas tambang sebagai dasar media tanam.
Menariknya, pohon-pohon di Point View Anjungan Himalaya nggak ditanam sembarang orang.
Baca juga : Hetifah Sambut Baik Pencabutan Izin Tambang di Raja Ampat
Ada nama-nama beken seperti mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, hingga akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Asep Gunawan yang ikut menanam di sini.
Dedi bilang, tahun ini target tambang 15 juta ton, sementara target reklamasi mencapai 66 hektare.
Total luas yang sudah direklamasi TBP hingga kuartal pertama 2025 sekitar 105 hektare.
“Reklamasi itu bukan cuma tanam pohon, tapi bangun ekosistem,” katanya.
Biaya reklamasi? Nggak murah. Sekitar Rp 250 juta per hektare. Tapi hasilnya bisa dilihat langsung—bekas tambang disulap jadi hutan.
Point View Himalaya juga jadi markas elang gondol dan kuskus endemik Obi. Beberapa kali kami lihat elang melintas di langit biru, seolah menyapa.
Tak hanya lihat-lihat, kami juga diajak ikut menanam pohon di area reklamasi Pit Vita. Seru juga rasanya nyekop tanah, naruh bibit, dan nyiram sendiri.
Pusat Pembibitan
Dari sana, rombongan lanjut ke Loji Central Nursery—pusat pembibitan pohon oleh Harita Nickel. Di sinilah semua bibit pohon untuk reklamasi disiapkan.
Baca juga : Hipmi Puji Langkah Tegas Menteri Bahlil Atasi Masalah Tambang Di Raja Ampat
Ada bibit pohon cemara laut, kayu putih, jambu mete, bahkan tanaman hias anggrek.
Bibit ditanam dalam polibag berisi pupuk dari kotoran sapi. Ada shade house, greenhouse hidroponik, hingga gudang pupuk dan laboratorium lingkungan.
“Kami juga pernah panen pokcay buat konsumsi karyawan,” kata Mokhamad Rifai, Reclamation Superintendent Harita Nickel sambil tersenyum.
Setelah puas jalan-jalan, kami kembali ke Living Quarter Blok 14. Tempat istirahat buat karyawan dan tamu.
Kamar bersih, udara adem, kopi hangat menanti. Fasilitasnya lengkap, suasananya tenang. Pas buat istirahat setelah keliling tambang.
Dari tambang ke hutan. Dari debu ke hijau. Harita Nickel membuktikan, reklamasi bukan sekadar kewajiban, tapi juga komitmen menjaga bumi tetap hidup.
Siang itu, kami tutup dengan secangkir kopi sambil mengingat: dari lubang tambang, harapan hijau bisa tumbuh kembali.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.