BREAKING NEWS
 

Nikel Hijau dari Pulau Obi: Menambang Cuan, Menjaga Alam

Reporter & Editor :
FAZRY
Selasa, 15 Juli 2025 07:27 WIB
Harita Nickel mengolah limonit—bijih nikel kadar rendah—menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku baterai kendaraan listrik, lewat fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) pertama di Indonesia. Inovasi hijau dari bijih rendah jadi energi masa depan. (Foto: Dok. Harita Nickel)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pagi baru saja merekah di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Kabut tipis masih menggantung di lereng bukit, menyelimuti jalan tambang yang berkelok.

Suara mesin alat berat menderu dari kejauhan, berpadu dengan derap truk pengangkut bijih nikel yang berlalu-lalang di kawasan industri.

Namun suasana tak lagi sekadar menggambarkan geliat tambang konvensional. Di balik aktivitas itu, sebuah perubahan besar tengah berlangsung. Pulau kecil yang dahulu terpencil ini kini menjelma menjadi episentrum tambang berkelanjutan di Asia.

Di sinilah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) membentangkan ambisi besar: menambang tanpa merusak. Bukan sekadar jargon, tetapi ikhtiar serius menuju pertambangan masa depan yang ramah lingkungan dan berpihak pada masyarakat.

“Harita Nickel berkomitmen menjalankan praktik pertambangan yang baik. Ini akan menjadi yang pertama di Asia untuk perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi,” kata Iwan Syahroni, Deputy Department Head Health, Safety, and Environment Harita Nickel, saat ditemui di lokasi tambang, Sabtu (14/6/2025).

Sejak akhir 2024, Harita secara sukarela mengikuti audit sertifikasi Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA)—standar global tertinggi dalam pertambangan berkelanjutan. Audit dilakukan oleh SCS Global Services, menguji lebih dari 400 indikator mencakup lingkungan, sosial, tata kelola, hingga hak asasi manusia.

Langkah ini menempatkan Harita sebagai pionir transparansi di industri tambang nasional. “Dengan mengajukan diri untuk diaudit terhadap standar paling ketat di dunia, Harita Nickel menjadi contoh transparansi operasional tambang yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia,” ujar Iwan.

Menuju Pasar Global Berbasis ESG

Sertifikasi IRMA bukan hanya soal reputasi. Ia adalah syarat masuk ke pasar nikel global yang makin selektif. Pabrikan mobil listrik seperti Ford dan BMW kini mensyaratkan nikel yang dipasok harus berkelanjutan dan dapat ditelusuri asal-usulnya.

“Kami ingin membuka akses ke pasar nikel global, seperti Amerika dan Eropa,” ujar Iwan.

Baca juga : Persija Masih Menanti Kedatangan Bomber Gustavo Almeida

Selain IRMA, Harita juga sudah mengantongi status kesesuaian penuh dari Responsible Minerals Assurance Process (RMAP), skema penilaian rantai pasok yang ketat dari Responsible Minerals Initiative.

ESG Tak Lagi di Atas Kertas

Dulu, Environmental, Social, and Governance (ESG) hanya sebatas laporan tahunan dan bahan presentasi pemegang saham. Kini, ESG menjadi prinsip kerja di lapangan.

Setiap keputusan operasional Harita mengacu pada keberlanjutan, dari pengelolaan air tambang, penyerapan produk lokal, hingga pemberdayaan pelaku usaha kecil.

“Penerapan ESG kini menjadi pertimbangan utama dalam keputusan investasi,” tutur Community Affairs General Manager Harita Nickel Dindin Makinudin, dalam diskusi publik Energy Editor Society (E2S) di Jakarta, (4/7/2025).

Diskusi Bahas ESG: (Dari kiri) Direktur Teknik dan Lingkungan mineral dan Batubara Kementerian ESDM Hendra Gunawan, Community Affairs General Manager Harita Nickel Dindin Makinudin, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia Meidy Katrin Lengkey dan moderator Euis Rita Hartati, dalam diskusi bertajuk uncovering ESG Transformation in Indonesia’s Nickel Mining Industry yang digelar Energy Editor Society di Jakarta, Jumat (4/7/2025).

Sejak memulai hilirisasi pada 2016, Harita ikut mengubah wajah ekonomi Halmahera Selatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor industri pengolahan kini menyumbang 54,59 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.

Kontribusi Harita bukan hanya lewat lapangan kerja, tetapi juga lewat perputaran ekonomi masyarakat. Setiap bulan, Harita membeli 20 ribu sak beras, 22 ribu kilogram ayam potong, serta puluhan ton produk lokal lainnya.

Nilai transaksi UMKM binaan mencapai Rp 14 miliar per bulan, tersebar pada lebih dari 700 pelaku usaha.

Adsense

“ESG bukan hanya soal lingkungan, tapi juga keberdayaan ekonomi masyarakat lokal,” tegas Dindin.

Anak Lokal Naik Kelas

Di balik layar tambang yang terus beroperasi, ada ribuan anak bangsa yang menggantungkan hidup. Dari total 22 ribu tenaga kerja di Harita Nickel, 85 persen adalah Warga Negara Indonesia.

Baca juga : Diceritakan Ajudan, Kulit Jokowi Memang Berubah, Tapi Fisik Oke

Sekitar 45 persen di antaranya berasal dari Maluku Utara. Bukan hanya sebagai buruh kasar. Harita secara aktif membina tenaga kerja lokal untuk mengisi posisi strategis seperti teknisi, supervisor, hingga manajer site.

"Ini bukan sekadar menambang, tapi membangun SDM yang siap bersaing di industri berteknologi tinggi,” ujar Dindin.

Regulasi Menyesuaikan, Tantangan Menghampiri

Mendorong tambang yang hijau dan bertanggung jawab juga perlu fondasi regulasi yang kuat. Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hendra Gunawan menegaskan, pentingnya transformasi tata kelola pertambangan seiring meningkatnya permintaan nikel untuk energi bersih.

“Transisi energi global menuntut kita menambang dengan cara baru. Pertambangan hijau adalah keniscayaan,” katanya.

Menurut Hendra, pemerintah tengah menyempurnakan aturan pelaporan ESG, keterlibatan masyarakat, serta reklamasi dan pasca tambang yang ketat.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengingatkan bahwa perusahaan tambang yang abai pada ESG akan tertinggal. “Tesla, BMW, Mercedes—mereka semua ingin tahu dari mana asal nikel mereka,” kata Meidy.

Senada, Hendra Sinadia dari Indonesia Mining Association (IMA) menyebut, good mining practices bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. “Industri nikel bahkan lebih siap mengadopsi standar global. Ini sektor strategis menuju Indonesia Emas 2045,” kata Hendra dalam Forum MineXcellence, (9/7/2025).

Dari Limonit ke Logam Masa Depan

Harita memanfaatkan teknologi mutakhir untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi limbah. Setelah mengoperasikan smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) sejak 2017, perusahaan membangun fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) pertama di Indonesia pada 2021.

Fasilitas ini mengolah limonit—bijih nikel kadar rendah yang dulu dibuang—menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama baterai kendaraan listrik. “Dulu limonit dianggap limbah. Sekarang jadi emas baru,” kata seorang teknisi HPAL.

Rehabilitasi Alam dan Kolam Penyaring Rp 45 Miliar

Baca juga : Dituding Terima Dana dari Perusahaan Tambang Raja Ampat, PBNU Buka Suara

Tak hanya soal produksi, Harita juga fokus pada pemulihan lingkungan. Perusahaan telah mereklamasi 231 hektare lahan bekas tambang dengan jenis pohon lokal seperti kayu putih dan cemara laut. Dana reklamasi mencapai Rp 250 juta per hektare, dikelola lewat Loji Central Nursery.

Air tambang tak sembarangan dibuang. Kolam penyaring senilai Rp 45 miliar dibangun untuk menjamin air kembali ke laut dalam kondisi aman. “Air jernih masuk ke tambang, harus jernih juga saat kembali ke alam,” ujar Iwan.

Kawasi: Relokasi Tanpa Penggusuran

Isu relokasi warga menjadi perhatian tersendiri. Di Desa Kawasi, Harita bekerja sama dengan pemerintah daerah merancang pemindahan warga ke Kawasi Baru secara humanis dan partisipatif. “Warga dilibatkan sejak awal, bukan hanya dikasih rumah jadi. Mereka ikut dalam perencanaan,” kata Ifan Farianda, Community Development Manager Harita Nickel, saat mendampingi kunjungan jurnalis di Desa Kawasi, Sabtu (13/6/2025).

Permukiman baru itu berdiri di atas tanah seluas 100 hektare dengan fasilitas lengkap: rumah layak, listrik 24 jam, sanitasi, dan rumah ibadah. Pindah kampung bukan hanya soal mengganti tempat tinggal, tapi juga menata hidup baru yang lebih aman dan bermartabat. “Relokasi warga dari Kawasi Lama adalah kisah tentang harapan baru,” ujar Ifan.

Menambang Kepercayaan

Tri Budhi Soesilo dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia menilai, langkah Harita membuka akses kepada jurnalis dan publik merupakan kunci keberlanjutan. “ESG bukan soal branding, tapi soal membangun kepercayaan. Keterbukaan seperti ini adalah syarat mutlak,” katanya.

Di langit mendung Pulau Obi yang mengawali pagi-pagi penuh deru mesin, kini mengalir juga semangat baru: semangat menambang dengan bijak, bukan hanya bijih. Dalam tantangan dunia menuju energi bersih, Harita Nickel mencoba menunjukkan, bahwa cuan dan lingkungan bisa berjalan beriringan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense