Sebelumnya
Beras SPHP disalurkan melalui 3.223 pengecer di pasar rakyat dengan total 9.635 ton, 722 outlet binaan pemerintah daerah, 326 titik instansi pemerintah termasuk TNI dan Polri, serta 279 titik gerakan pangan murah oleh pemda. Bulog juga menambah penyaluran lewat 211 toko Rumah Pangan Kita (RPK) dan 12 gerai ritel modern.
Deputi II Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Bidang Perekonomian dan Pangan, Edy Priyono mendorong agar koordinasi dilakukan secara intensif. Meski sebenarnya Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah melakukan rapat, minggu lalu.
“Lebih bagus lagi, kalau untuk sementara, paling tidak setiap minggu kita adakan rapat online. Supaya efisien untuk bagaimana melakukan percepatan penyaluran beras SPHP,” pesan Edy.
Data kenaikan harga beras di 191 kabupaten/kota mencerminkan adanya anomali di lapangan. Pasalnya, data Bapanas per 1 Agustus 2025, stok beras di Perum Bulog mencapai 3,97 juta ton. Rinciannya 3,95 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan 11,9 ribu ton beras komersial. Realisasi penyerapan setara beras dari produksi dalam negeri telah mencapai 2,78 juta ton, atau 92,79 persen dari target penyerapan 3 juta ton.
Baca juga : Rosan Terbang Ke Makkah, Kampung Haji Bukan Lagi Mimpi
Di tempat terpisah, Anggota Komisi IV DPR dari PDIP Rokhmin Dahuri menyoroti harga beras yang mahal di saat stok beras melimpah. Dia menduga, stok beras yang disebut melimpah itu sebenarnya berasal dari sisa impor pemerintahan sebelumnya sekitar 1,5 juta ton.
Dia pun mendesak pemerintah bersikap jujur dan transparan dalam menyampaikan data kepada publik. “Jujur itu sumber kebaikan. Kalau tidak jujur, itu jalan menuju kehancuran,” ucapnya.
Beras Mahal, Omzet Pedagang Turun
Di hari yang sama, Ombudsman RI melakukan sidak Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, Senin (11/8/2025). Dalam sidak itu ditemukan fakta, ternyata mahalnya harga beras justru membuat omzet pedagang turun.
Anggota Ombudsman Republik Indonesia Yeka Hendra Fatika mengatakan, omzet pedagang turun drastis hingga 20-50 persen. Jika per hari rata-rata pedagang bisa menjual 15-20 ton beras, akhir-akhir ini dagangannya hanya terjual 6-10 ton per hari.
Baca juga : Palestina Merdeka Semakin Menggema
Berdasarkan data Pengelola Pasar Induk Beras Cipinang, perbandingan in-out beras di PIBC antara periode 1-10 Juli 2025 dan 1-10 Agustus 2025 terjadi penurunan beras yang masuk 22,97 persen dan yang keluar 20,84 persen.
Dari sisi harga, Ombudsman menemukan terjadi kenaikan harga beras di PIBC. Harga jual termurah Rp 13.150 per kg dan harga termahal Rp14.760 per kg. Adapun rata-rata kenaikan harga beras Rp 200 per kg pada 2 minggu terakhir.
Selain volume, harga beras di PIBC pun terpantau naik. Ombudsman RI mencatat harga termurah berada di Rp13.150 per kilogram (kg), sedangkan harga tertinggi mencapai Rp14.760 per kg. Rata-rata harga beras naik sekitar Rp200 dalam dua pekan terakhir.
Lesunya perdagangan turut berdampak pada sektor tenaga kerja bongkar muat. Berdasarkan data Koperasi Jasa Pekerja Bongkar Muat PIBC, dari total sekitar 1.200 anggota, 80 persen tidak mendapatkan pekerjaan akibat berkurangnya volume pembelian beras di pasar tersebut.
Baca juga : TB Hasanuddin: Dukungan Perlu, Tapi Harus Hati-hati Juga
“Situasi ini memerlukan perhatian serius pemerintah. Perlindungan terhadap konsumen harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap keberlangsungan pelaku usaha dan pekerja,” ujar Yeka. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.