BREAKING NEWS
 

Dorongan Integrasi Koridor Logistik Makin Menguat

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Jumat, 5 September 2025 19:46 WIB
Tol Cibitung-Cilincing. (Foto: Dok. PUPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Desakan untuk integrasi koridor logistik kian menguat, seiring dengan kebutuhan akses yang lebih efisien dan terjangkau bagi pelaku logistik. Jalan Tol Cibitung–Cilincing (JTCC) turut menjadi sorotan sebagai jalur strategis yang menghubungkan secara langsung kawasan industri di timur Jakarta dengan Pelabuhan Tanjung Priok, sehingga diharapkan dapat memperlancar arus distribusi logistik.

Urgensi ini makin menguat jika melihat kemacetan di beberapa ruas jalan tol Jakarta seperti di ruas TB Simatupang–Tanjung Priok dan jalur arteri lainnya. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menjelaskan bahwa pertumbuhan kendaraan bermotor menjadi salah satu faktor utama penyebab peningkatan volume traffic Jakarta. “Berdasarkan data jumlah kendaraan di Jakarta tahun 2024, setiap hari terdapat penambahan sekitar 2.500 sampai dengan 3.000 unit kendaraan,” jelasnya.

Disparitas tarif yang cukup besar antara JORR 1 dan JORR 2 juga turut memengaruhi kemacetan di Jakarta. Banyak pengendara memilih untuk tidak menggunakan JORR 2 yang lebih mahal, sehingga arus kendaraan menumpuk di JORR 1 dan jalur pendukung yang terhubung. "Dampaknya, kemacetan pun dirasakan langsung oleh masyarakat maupun pelaku logistik di lokasi tersebut,” imbuhnya.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Rianto, menyampaikan pandangannya mengenai pemanfaatan JTCC sebagai bagian dari JORR 2 oleh pelaku logistik. Kata dia, tol ini berpotensi mengurangi kemacetan dan mempercepat waktu tempuh menuju Pelabuhan Tanjung Priok karena memang dikhususkan untuk jalur kendaraan logistik. "Tidak seperti jalan tol lain yang dilalui berbagai jenis kendaraan dengan ritme kecepatan berbeda," ucapnya.

Baca juga : Bantah Korupsi, Nadiem Minta Keluarganya Menguatkan Diri

Namun, sambung dia, efektivitas dari keberadaan tol tersebut saat ini dirasa belum signifikan karena aspek tarif dan regulasi penggunaan. Tarif Tol Cibitung–Cilincing yang tinggi membuat perusahaan jasa logistik enggan menggunakannya dan lebih memilih jalur macet yang tidak berbayar atau pun tol yang lebih murah meski secara jarak lebih jauh.

"Hal ini menjadi salah satu penyebab utama masih terpusatnya akses menuju Pelabuhan Tanjung Priok melalui Tol Jakarta-Cikampek (Japek) dan jalur arteri lainnya, alih-alih menggunakan Tol Cibitung Cilincing," imbuhnya.

Ia juga menilai, optimalisasi JTCC bisa berkontribusi terhadap efisiensi operasional logistik nasional. Kemacetan di jalur logistik menyebabkan pemborosan bahan bakar dan kenaikan biaya logistik yang dibebankan pada masyarakat.

Adsense

"Jika lalu lintas lancar, secara langsung menyumbang pada penurunan kepadatan lalu lintas dan efisiensi logistik nasional. Pada akhirnya, Pemerintah dan masyarakat juga akan memperoleh manfaat dari efisiensi tersebut,” terangnya.

Baca juga : INSA Dorong Aspirasi Damai, Pastikan Aktivitas Ekonomi Dan Logistik Lancar

Pada kesempatan terpisah, Kepala Induk Turangga 05 Korlantas Polri Induk PJR Cikampek, Kompol Sandy Titah Nugraha, menyatakan potensi JTCC dalam mengurai kemacetan. Integrasi koridor wilayah logistik antara Tol Cibitung–Cilincing dengan jaringan tol lainnya seperti Japek akan membantu pemerataan lalu lintas logistik.

"Tidak hanya memperlancar arus ke Pelabuhan Tanjung Priok, tetapi juga mengurai kepadatan di titik-titik krusial seperti Simpang Susun Cikunir yang selama ini menjadi titik temu kemacetan. Efisiensi ini akan sangat membantu bagi para pelaku logistik dan pengguna jalan secara umum,” terangnya.

Ia turut menyoroti tarif JTCC yang masih menjadi kendala bagi pengendara kendaraan logistik. Terdapat paradigma blocking yang sudah tertanam pada pengemudi truk logistik, yang membuat mereka tetap memilih jalur yang yang lebih jauh seperti JORR 1 karena lebih murah.

"Sayangnya, dengan perhitungan operasional pengendara truk sumbu 3 ke atas, tarif Tol Cibitung–Cilincing masih menjadi kendala utama,” ucapnya.

Baca juga : Layanan TransJakarta Pulih: 9 Koridor dan 68 Rute Mikrotrans Beroperasi Penuh

Integrasi koridor wilayah logistik merupakan upaya menciptakan sistem jalur logistik yang terhubung secara strategis antar kawasan industri, pusat distribusi, dan pelabuhan. Selain meningkatkan kelancaran pengiriman barang, integrasi ini juga memungkinkan adanya penyesuaian dan penyelarasan tarif tol agar lebih terjangkau dan kompetitif.

Menanggapi kebutuhan integrasi koridor wilayah logistik dari para pelaku logistik, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, juga telah menyampaikan rencana untuk melakukan pengecekan terhadap tarif JTCC yang dinilai terlalu mahal.

“Pemerintah harus memahami kondisi riil di lapangan. Jika volume kendaraan di sebuah ruas tol sedikit dan jalan arteri tetap padat, maka penyebab utamanya kemungkinan besar adalah tarif tol yang terlalu mahal," ucap Mahendra.

Kondisi ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa infrastruktur baru belum optimal mendukung peralihan arus logistik. "Oleh karena itu, diperlukan intervensi pemerintah untuk mendorong efisiensi distribusi barang, baik dari sisi waktu tempuh maupun biaya operasional agar jalur logistik dapat berjalan lebih efektif,” tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense