Sebelumnya
“Prinsip kami jelas, negara harus memberikan yang terbaik untuk rakyatnya. Maka, Bulog menjaga kualitas beras dengan pemeliharaan ketat,” ucapnya.
Terpisah, Anggota Komite Ketahanan Pangan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) Khudori mengungkapkan, Pemerintah telah mengalihkan anggaran penyaluran beras di hilir demi menyerap beras di hulu.
Pengalihan itu, sambung Khudori, membuat penugasan Bulog untuk menyerap gabah atau beras produksi petani sebesar 3 juta ton bisa dijalankan relatif baik. Bahkan telah memecahkan rekor stok beras terbesar sepanjang sejarah.
Baca juga : IKM Pangan Siap Adu Gengsi Di Pasar Dunia
“Akan tetapi, tanpa banyak disadari, pengalihan anggaran itu membuat beras menumpuk di gudang karena tidak ada kepastian penyaluran,” kata Khudori kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Karenanya, cadangan beras Pemerintah sekarang sebanyak 3,9 juta ton. Ia menilai, jika target penyaluran SPHP 1,3 juta ton dari Juli-Desember 2025 tercapai dan 366 ribu ton bantuan pangan beras tersalurkan semua, maka stok beras akhir tahun Bulog masih sebesar 2,684 juta ton.
“Ini jumlah yang amat besar. Bagi Bulog, stok beras akhir tahun yang besar akan menimbulkan konsekuensi tidak mudah. Selain ada risiko turun volume, beras juga berpotensi turun mutu dan bahkan rusak,” warning-nya.
Baca juga : Tarif Kios Jangan Pake Sistem Sewa Mall Dong
Risiko ini, kata dia, muncul karena dari 3,9 juta ton yang ada di gudang Bulog tersebut, ada ratusan ribu ton beras yang berusia lebih dari setahun.
Selain itu, Bulog juga melakukan penyerapan gabah segala kualitas (any quality) tahun ini, di mana hampir bisa dipastikan kualitasnya ada yang tidak bagus.
Menurutnya, beras dengan kualitas kurang baik tidak mungkin disimpan lama. Dihadapkan pada pilihan tidak mudah seperti ini, maka prinsip FIFO tidak bisa diterapkan secara kaku.
Baca juga : Soal Pembelaan Kubu Nadiem, Kejagung: Buktikan Di Pengadilan!
“Bisa jadi beras yang belum berusia empat bulan harus disalurkan terlebih dahulu, karena ada risiko turun mutu dan rusak,” usulnya.
Masalah lainnya, lanjut Khudori, kalau penyaluran beras hingga akhir tahun kecil, maka ada risiko stok beras menumpuk pada awal 2026.
“Prinsipnya, (stok beras) yang masuk pertama, ya keluar pertama, harus dilakukan dengan baik. Stok dinamis juga bisa dipraktikan, jika ada kepastian penyaluran,” pungkasnya. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.